Sego Tumpang

Open Together

Riyaya sepi. Dulgembul cuma glundang-glundung di rumah. Bosen glundang-glundung, ya berdiri. Jalan-jalan. Tapi, rutenya cuma dapur, ruang tamu, kamar. Ngemplok makanan di meja makan. Mbongkar persediaan ransum di lemari. Lalu nggrames jajan riyayan yang ndak payu karena ndak ada tamu.

Padahal, hari-hari ini dia sudah ngempet keluar rumah. Pengen marung di Mbok Dadap. Sarapan sego tumpang. Cuma, warung-warung belum banyak yang buka. Mau bikin sambel tumpang sendiri? Satu, bakul janganan juga masih jarang. Cari tempe bosok bukan perkara gampang. Dua, sudah jelas kualitas rasanya jauuuuuhh..di bawah sambel tumpang bikinan Mbok Dadap yang henaknya sak ndonya itu.

Mbok…kosong-kosong ae ya?,” tulisnya di pesan WhatsApp yang dikirim ke Mbok Dadap. Juga ke teman-temannya yang lain. Termasuk teman satu grup ‘Sego Tumpang’.

Betapa tidak, semua kompak ndak menerima tamu selama Lebaran. Jadi, lebarannya lewat WA saja. Pintu dan pagar rumah ditutup. Jalan-jalan diportal dengan poster berisi kalimat-kalimat bernada ancaman.

Ora usah nekat,” pesan Kang Noyo lewat WA kepada Dulgembul yang ngebet riyayan ke rumahnya. “Tiwas diseneni dan jadi rasan-rasan tetangga.”

Hhhhffff… Dulgembul cuma bisa mendengus. Sudah posoan ndak ada yang ngajak open together, eh Lebaran pun harus merayakannya sendirian. Perayaan kok sendirian.

No one invite me to open together at Ramadan, Mister. Now, we must celebrate Idul Fitri alone in quiet situation,” jawabnya kesal ketika ditanya teman Londo-nya tentang kesan Ramadan dan Idul Fitri tahun ini dalam dialog via Zoom yang diikuti.

Padahal, biasanya, tiap Ramadan undangan open together ndak pernah sepi. Buka bersama. Dari satu tempat ke tempat lain. Itu yang paling dia demeni. Tiap ‘open’ menunya mesti beda. Orang yang ngundang Dulgembul pun mesti marem karena menunya ndak pernah dicela. Sebab, dalam kamus kuliner Dulgembul, yang ada hanya enak dan huennaakk..

Apalagi Lebaran. Banyak yang open house. Siapa saja boleh datang. Terlebih jika sedang haus. Apa saja yang terhidang di meja boleh di-open. Ini yang sepertinya juga bakal sulit dijumpai pada Lebaran ketupat lusa –yang di Trenggalek, meski tidak kenal, siapa saja boleh masuk rumah yang terbuka untuk menyantap hidangannya.

Iki riyayan model apa?,” rutuknya.

“Sabar, Mbul…,” kata Kang Noyo via WhatsApp menenangkannya.

Seperti ceramah para ustad tentang Ramadan yang ibarat bulan perjuangan untuk menempa diri menjadi suci, Lebaran adalah perayaan kemenangan atas perjuangan sebulan penuh itu. Yang di sini, perayaan tersebut dilakukan dengan beragam ekspresi. Secara masif. Dan, kemudian terlembagakan menjadi sebuah tradisi: mudik, saling kunjung, tukar makanan, hingga menikmati ketupat opor bareng.

Kang Noyo sangat memaklumi kegusaran Dulgembul itu. Bahkan, ia turut merasakan kegundahannya. Karena ia sendiri bertahun-tahun sudah menjadi bagian dari tradisi masal itu.

“Tapi, Mbul,” katanya, “Benarkah Lebaran adalah puncak kemenangan kita setelah sebulan penuh menjalani Ramadan?”

Lazimnya sebuah kemenangan, memang patut untuk dirayakan. Bersama-sama. Dengan segala kemeriahannya. “Lalu setelah itu apa?,” tanya Kang Noyo lagi.

Ia lantas teringat khotbah Nurcholish Madjid. Tentang peristiwa Fathul Makkah. Pembebasan Kota Makkah yang tanpa disertai pertumpahan darah sedikit pun. Ini adalah puncak prestasi Nabi dalam bidang politik, militer, dan sosial –sebelum dua tahun kemudian Nabi wafat.

Dalam suasana kemenangan itulah Nabi diingatkan. Oleh Tuhan. Bahwa kemenangan itu bukanlah tujuan. Melainkan hanya sarana dan prasarana. Untuk mewujudkan tujuan hidup. Apa? Peningkatan spiritualitas.

Fasabbih bihamdi rabbika wastaghfirhu. Bertasbihlah. Bertahmidlah. Memohon ampunlah. Karena, setelah segala pencapaian di dunia ini, kepada Tuhan pula kita akan kembali atau pulang. Dan, kepulangan yang membahagiakan adalah yang disambut dengan penuh kasih sayang oleh pemilik rumah.

“Kita, Mbul,” lanjut Kang Noyo, “Barangkali lupa bertasbih bahwa di balik pandemi ini ada kemahakuasaan Tuhan. Padahal, burung-burung, bebatuan, pepohonan, gunung-gunung, dan semua makhluk yang diciptakan-Nya senantiasa bertasbih kepada-Nya.”

“Termasuk virus yang jadi pagebluk sekarang ini, Kang?,” tanya Dulgembul.

“Virus pun bertasbih memuji-Nya,” jawab suara yang entah datang dari mana…

Kali ini, Dulgembul yang harus meng-open mind-nya. Juga hatinya. Together(tauhid wijaya)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close