Sego Tumpang

Pengin Ngartis

Matjambul mendadak ingin jadi artis. Dia merasa, dirinya pantas untuk itu. Modal cakep, setidaknya menurut mboke dewe, ada. Jambulnya, walaupun bukan khatulistiwa, adalah pesona. “Jaman gini, semua orang bisa jadi artis. Ndak harus ke Jakarta,” katanya.

Tidak salah memang. Tidak harus nyari agen artis. Tidak harus pergi ke ibu kota. Di jaman medsos seperti sekarang, orang bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai artis. Tinggal pilih platformnya. Produksi kontennya. Lalu unggah. Soal laku atau tidak, itu perkara lain lagi.

Jika kebetulan kaya, jual saja konten tentang kemewahan. Yang benar-benar mewah. Mobil, motor, rumah, apa saja. Kalau perlu pesawat pribadi jika punya. Itu adalah harapan setiap orang. Semua ingin memilikinya. Sehingga, jika harapan itu disajikan, banyak orang pasti suka.

Tapi, aku dudu wong sugih, Kang…,” kata Matjambul.

Dia memang bukan Sultan Cinere, Sultan Andara, atau Sultan Bintaro yang tajir melintir itu. Yang konten Youtube-nya bertabur kemewahan. Mobil mewah berjajar di garasi. Rumah mewah tinggal pilih, mau yang mana.

Bibirnya pada tipis untuk menyebut angka miliaran rupiah. Enteng saja.  “Gue akan beli itu,” begitu kalau sudah punya mau. Di Youtube tipi.

Lha Matjambul? Sego tumpang saja kadang ngutang. Untung Mbok Dadap baik hati. Tau kalau dia lagi cekak.

Berarti kowe kudu golek konten kreatif liyane, Mbul,” kata Kang Noyo memberi nasihat.

“Kedermawanan? Sapa sing percaya karo aku, Kang?,” jawab Matjambul yang mulai bingung begitu cita-citanya menjadi artis Youtube itu harus diterjemahkan lebih detail lagi dalam konten kreatif.

Maklum, tokoh yang segala sisi kehidupannya menarik untuk jadi tontonan, dia jelas bukan. Wong sugih? Juga bukan. Matjambul hanya orang biasa-biasa saja. Yang kebetulan percaya diri dengan jambulnya meski bukan model khatulistiwa. Lalu, terpukau oleh gemerlap yang ditampilkan oleh para Youtuber di layar ponselnya.

Betapa enak hidup kaya raya. Betapa dermawan mereka yang berpunya. Dua hal ideal yang diinginkan oleh setiap manusia. Kaya tapi tetap tak kehilangan sensitivitas kemanusiaan terhadap mereka yang tak berpunya.

Cuma, apakah yang ditampilkan di layar Youtube itu adalah realitas sebenarnya? Warga medsos jarang yang berpikir ke sana. Hiperealitas. Bukan realitas sebenarnya. Realitas yang seolah-olah. Dilebih-lebihkan. Seringkali hanya fantasi. Tapi, divisualisasikan seakan benar terjadi.

Lalu, karena yang divisualisasikan itu adalah kecenderungan fantasi semua orang maka tersihirlah banyak orang. Bahkan jutaan dengan penuh sukacita menjadi viewer dan subscriber-nya. Mereka selalu menunggu tayangan-tayangan terbaru. Meskipun, untuk menontonnya, dibutuhkan perjuangan yang tidak murah untuk membeli kuotanya.

Ini era postmo. Dunia nyata dan dunia maya sudah semakin blended. Nyampur jadi satu. Mana yang nyata dan mana yang maya semakin sulit dibedakan. Hiperealitas. Orang kerap kali hidup dalam realitas di luar dirinya sendiri.

“Itu yang disebut almarhum Pak Yai Zainuddin MZ tontonan dan tuntunan makin sulit dibedakan ya, Kang?,” tanya Dulgembul yang dari tadi sibuk telap-telep sego tumpang. “Yang tontonan jadi tuntunan. Yang tuntunan jadi tontonan.”

Orang dengan mudah menduplikasi apa yang dilihat di layar ponselnya. Seolah itu adalah realitas sebenarnya. Untuk bisa disebut sebagai seorang Pancasilais, misalnya, cukup dengan membikin hashtag
“Saya Indonesia, Saya Pancasila” disertai poster foto diri dan gambar Garuda.

Soal apa makna masing-masing sila yang digali dari kehidupan bangsa ini oleh Bung Karno, orang peduli apa. Begitu pula mengapa urut-urutan silanya disepakati demikian oleh para founding fathers negara ini. Ketuhanan. Kemanusiaan. Nasionalisme. Demokrasi. Sosialisme. Itu soal apalagi. Yang lebih penting dari itu semua adalah berapa banyak like dan comment yang akan didapat dari posting “Saya Indonesia, Saya Pancasila” itu.

Membuat hashtag dan poster serta memanen like dan comment mengalahkan hal yang mestinya lebih hakiki. Yaitu, menginternalisasi nilai-nilai Pancasila ke dalam perilaku diri sehari-hari. Jean Baudrillard, suhu para ilmuwan postmo asal Prancis itu bilang, “Kita hidup dalam dunia yang semakin kaya informasi dan semakin miskin makna.” (tauhid wijaya)

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close