Catatan

Survival of The Fittest

“Seganas apapun suatu wabah, sekuat apapun bencana, atau seganas apapu suatu peperangan, tetap menyisakan manusia sebagai habitat yang melanggengkan kehidupan di muka bumi.”

Oleh : Mahfud

Ketika World Healt Organization (WHO) menetapkan serangan Corona Virus Disease 2019, kemudian disingkat Covid-19, menjadi pandemi,  munculah beberapa ‘mazhab’ di masyarakat. Mazhab itu memandang pandemi korona itu dalam versi dan pemikiran masing-masing. Mulai dari yang melihat pandemi sebagai ancaman serius dan nyata hingga ‘mazhab’ yang menuding pandemi korona ini sebagai satu teori konspirasi.

Tentu, seperti halnya mazhab dalam beragama, pandangan tentang korona itu juga punya ‘imam’ masing-masing. Mereka pun menyodorkan berbagai argumen dan fakta pendukung. Juga dengan pembelaan masing-masing.

Di awal-awal pandemi, masing-masing ‘mazhab’ itu seperti berperang di media sosial. Menyodorkan argumen terbaik mereka dengan guliran fakta-fakta serta narasi menarik. Semuanya juga memiliki kebenaran yang diyakini para pengikutnya masing-masing.

Saya tak hendak kembali mengungkit konflik sosio-psikologis yang muncul sebagai ekses penetapan korona sebagai pandemi ini oleh WHO. Meskipun negara sebesar Amerika Serikat mati-matian menentang lembaga kesehatan dunia tersebut, toh tak melepaskan fakta bahwa pandemi ini telah membuat tatanan dunia berubah total. Dalam segala hal. Yang itu membutuhkan adaptasi baru pada penduduk planet ini.

Apapun fakta yang benar nantinya, toh semua sudah berlangsung. Jutaan penduduk dunia sudah dinyatakan terjangkit penyakit ini. Ratusan ribu penduduk dunia dilaporkan meninggal dunia.

Di Kediri Raya, pandemi korona juga merasuk dalam. Mempengaruhi urat nadi kehidupan masyarakat. Mengubah total perilaku kita sehari-hari. Meskipun, seringkali, aturan yang dianjurkan pemerintah itu tak benar-benar diterapkan oleh masyarakat tetap saja ada yang berubah dalam perilaku keseharian. Masker dan istilah physical distancing menjadi kata wajib yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Menemani frasa cuci tangan pakai sabun sebagai tindakan wajib yang lain.

Sebagai warga dunia, kita selalu menghadapi banyak tantangan. Tantangan itu seringkali mengancam eksistensi kita sebagai manusia. Serangan wabah, bencana alam, penyakit, kelaparan, serta perang. Semuanya bisa menjadi mesin pemusnah manusia yang masif.

Namun, seganas apapun suatu wabah, sekuat apapun bencana, atau seganas apapu suatu peperangan, tetap menyisakan manusia sebagai habitat yang melanggengkan kehidupan di muka bumi. Karena manusia memiliki sifat bertahan. Yang oleh bapak evolusi, Charles Darwin, diistilahkan sebagai survival of the fittest. Kemampuan untuk beradaptasi menghindari kepunahan.

Karena itu, selayaknya kita move on dalam kondisi sekarang ini. Bukan karena meremehkan serangan virus berbentuk mahkota ini, bukan. Tapi sudah sepatutnya kita meneruskan kehidupan yang telah menjadi takdir kita sebagai makhluk Tuhan.

Toh pemerintah juga telah membuka keran move on itu dengan penetapan new normal. Itulah yang harus kita lakukan. Tentu dengan segala aturan dan pembatasan yang muncul mengiringinya.

Kita memang tak boleh lengah dengan penyakit ini. Bahkan dengan penyakit-penyakit lain. Tuberkolosis, demam berdarah, hepatitis, kanker, AIDS, adalah sederet penyakit yang secara teori memang bisa menjadi mesin pembunuh manusia. Sederet penyakit itupun tetap ada ketika pandemi korona menghantam. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah upaya kita untuk melindungi diri dari semua serangan penyakit itu. Tentu dengan tetap beraktivitas sesuai fitrah kita sebagai manusia.

New normal adalah sesuatu yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Yang penting, bagaimana ketetapan pemerintah itu bisa berlangsung di tengah masyarakat yang kini mulai ‘melupakan’ ancaman pandemi. Tentu pemerintah dan pemerintah daerah punya peran penting. Selain membuat aturan juga menjaga agar aturan itu membantu masyarakat melewati masa penuh tantangan berat ini.

Tak kalah penting adalah kesadaran dari kita semua tentang pentingnya untuk menjaga diri dan orang lain. Mematuhi protokol kesehatan adalah yang utama. Karena sejatinya hal itu bukanlah sekadar untuk menghadapi satu penyakit saja, tapi untuk semua. Menjaga kesehatan tentu lebih baik dari pada mengobati penyakit. Karena itu tetap berhati-hati meskipun kita sudah mulai bisa beraktivitas dengan longgar. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close