Sego Tumpang

Logika ‘Cek Dhan’

Apakah hidup selalu berkisah tentang hal-hal yang selaras? Harapan semua orang begitu. Sebab, itulah yang cocok dengan logika. Logika menghendaki apa yang dilihat oleh mata sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Harus begitu. Pasti. Matematis.

Satu ditambah satu, dua. Dua kali dua, empat. Empat pangkat dua, enam belas. Tidak boleh lebih. Tidak boleh pula kurang. Dan itu yang menjangkiti masyarakat modern. Yang menghendaki semua serbaterukur dan pasti.

Lek wektumu dodolan mbok tambah telung jam ae, olehmu kaya ya bakal tambah akeh,” kata Dulgembul kepada Matkriting yang mencoba bakulan cilok di musim pagebluk ini.

Menurut Dulgembul, jam bakulan Matkriting yang dimulai pukul 09.00 sampai pukul 15.00 masih kurang. Ini karena kaya alias hasil yang didapat belum nyucuk dengan kebutuhan hidupnya setiap hari. Itulah mengapa, di kala pandemi, acapkali Matkriting nunut sarapan sego tumpang ke Dulgembul. Begitu dilihatnya sang teman andhok di warung Mbok Dadap, dia langsung gabung sambil cengangas-cengenges, “Nunut ya, Mbul.”

Dalam logika Dulgembul, jika jam bakulan itu ditambah menjadi sampai pukul 18.00, omzet penjualan Matkriting pasti akan bertambah. Jelas beda antara bakulan enam jam dengan sembilan jam. Jika dalam enam jam menghasilkan sekian rupiah maka dalam sembilan jam menghasilkan sembilan per enam kali sekian rupiah itu. Jelas lebih besar. Seharusnya.

Tapi sayang, hidup bukan sekadar persoalan matematis. Yang hasil dari penambahan, perkalian, pengurangan, serta pembagiannya pasti. Banyak variabel di dalamnya yang saling memengaruhi. Tarik menarik.

Sebab, hidup memang bukan sekadar angka. Satu tambah satu, bukanlah hanya angka 1 ditambah angka 1 yang hasilnya harus angka 2. Sebab, angka hanyalah lambang. Simbol. Untuk mewakili sesuatu, yang dalam hidup bisa berwujud piring, sendok, garpu, mobil, ban, baut, knalpot, kabel, dan lain sebagainya yang bersifat material.

Dengan demikian, satu piring ditambah satu piring tidak mesti hasilnya dua piring. Melainkan, bisa dua piring plus tiga biji pisang goreng. Bisa pula menjadi satu piring plus pecahan piring. Tinggal melihat konteks penjumlahan piring itu.

Logika matematis seperti itulah yang acap menyesatkan dalam memandang kehidupan ini. Sehingga, jika Dulgembul ingin memiliki sepeda lima unit sementara dia baru punya dua, maka dia harus berupaya dengan sengaja untuk membeli tiga unit lagi. Padahal, (ini variabel lainnya), dia tidak punya kemampuan finansial yang cukup. Atau, punya kemampuan, tetapi begitu pergi ke toko sepeda, ternyata semua barangnya sudah ludes dibeli orang lain.

Dengan logika matematis, orang menyangka, keindahan, kebahagiaan, hanya dan selalu bisa diciptakan oleh kesengajaan-kesengajaan. Padahal, seringkali, keindahan dan kebahagiaan juga tercipta oleh ketidaksengajaan-ketidaksengajaan yang ajaib, di luar logika.

“Kamu pernah dengar lagu ‘Kamulah Satu-satunya’ dari Dewa 19?,” tanya Kang Noyo yang dari semula cuma mendengar dan membatin ‘wejangan’ Dulgembul kepada temannya.

“Kenapa, Kang?,” tanya Dulgembul dan Matkriting hampir serempak.

“Di lagu itu ada kalimat misterius yang memperkuat keindahannya,” jawab Kang Noyo yang diam-diam ternyata juga Baladewa.

Bagi Baladewa seperti dia, bertahun-tahun kalimat itu menjadi misteri. Sebab, meski diucapkan oleh sang vokalis Ari Lasso, di teks lagu yang tertulis di sampul kaset atau CD jaman itu, ucapan tersebut tidak pernah ada dalam lirik. Dan selama itu pula dia dan kawan-kawannya sesama Baladewa menafsirkan sendiri ucapan Ari dalam lagu tersebut.

“Apa itu, Kang?,” tanya Dulgembul lagi.

“Cek Dhan,” jawab Kang Noyo. Sebelumnya, kalimat itu dipikirnya hanya senandung saja untuk menambah keindahan dalam lagu. Dan, telinganya, juga telinga teman-temannya, berbeda dalam menangkapnya. “Krunguku check down atau dam..dam… Atau kalau di masa pagebluk ini bisa jadi malah lock down,” lanjut Kang Noyo sambil ngeplak bathuk-nya sendiri.

Padahal, itu adalah ketidaksengajaan dari ucapan Ari. Yakni, ketika meminta Ahmad Dhani untuk mengecek lagunya yang baru selesai direkam di studio saat itu. Tapi, karena jatuhnya pas dan terdengar enak di telinga, ketidaksengajaan itu lantas dipakai. Tidak dihapuskan dari lagu yang sudah direkam.

Alhasil, dalam video klip dan setiap manggung, Ari pun harus selalu mengucapkan “Cek Dhan” itu. Meskipun, dia tidak lagi menyuruh Dhani untuk mengecek hasil rekaman lagu ‘Kamulah Satu-satunya’ seperti di studio sebelumnya. “Ketidaksengajaan yang menghasilkan keindahan, bukan?,” kata Kang Noyo.

Masih banyak lagi yang lain. Termasuk soal tradisi menyemprotkan sampanye bagi pemenang balapan MotoGP maupun Formula 1. Itu juga karena ketidaksengajaan. Yakni, ketika Jo Siffert memenangi lomba balap LeMans 24 Hours pada 1966. Karena hawa panas, botol sampanye yang dihadiahkan kepadanya secara tidak sengaja meletup. Lalu menyemburkan isinya. Penonton pun bersorak. Padahal, Siffert tidak pernah sengaja mengocok dan menyemprotkannya. “Tapi sampai sekarang itu akhirnya jadi tradisi,” jelas Kang Noyo.

Dulgembul dan Matkriting manggut-manggut. Entah paham entah tidak.

“Jadi, Mbul..,” lanjut Kang Noyo, “Logika itu penting dan harus. Tapi itu bukan satu-satunya.”

“Apalagi dalam politik yang serbatidak pasti. Seringkali, yang terjadi justru hal-hal yang tidak logis,” tandasnya lagi. (tauhid wijaya)

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close