Kolom

Gamelan

Diam-diam saya mencaci diri saya sendiri yang tak memiliki kesadaran historis tentang gamelan hasil pewarisan moyang artistik kita yang saat ini justru berkembang di Barat.

Oleh : Suko Susilo

Sulit saya menghalau perasaan yang berkecamuk saat beberapa tahun silam saya mendapati seperangkat gamelan terpajang di Tropical Museum Amsterdam. Senang dan sedih bertukar tempat di batin saya saat itu. Senang karena karya seni yang demikian agung itu berhasil mendunia. Tidak saja di Belanda, di berbagai universitas terkenal di Amerika gamelan juga telah lama dimainkan mahasiswa. Sedih karena fakta bahwa di negeri sendiri gamelan telah melemah posisinya tergeser musik diatonis Barat yang nyata-nyata kini lebih mendominasi selera anak muda.

Diam-diam saya mencaci diri saya sendiri yang tak memiliki kesadaran historis tentang gamelan yang merupakan hasil pewarisan moyang artistik kita yang saat ini justru berkembang di Barat. Saya membayangkan betapa briliannya moyang artistik kita yang berhasil menciptakan gamelan Jawa tersebut. Konflik bunyi yang dihasilkan dari sedemikian banyak alat perkusi menghasilkan gaung dan lengkingan bunyi yang demikian harmonis sekaligus indah. Saya hampir yakin, saat proses penciptaan gamelan tersebut, moyang kita sungguh memiliki kehalusan dan keluhuran budi sekaligus kepekaan hati terhadap bebunyian.

Mungkin saya terlalu subjektif mempresentasikan pemahaman artistik saya pada gamelan Jawa. Kesenian adalah salah satu unsur kebudayaan dari suatu masyarakat. Ia (kesenian) merupakan hasil pikiran dan tindakan manusia. Sebagai anggota masyarakat Jawa tentu wajar saya menganggap baik kesenian Jawa. Dan, ekspresi saya ini sama sekali tidak saya maksudkan untuk melukai perasaan pendukung kesenian lain.

Gamelan terdiri lebih dari sepuluh jenis perkusi yang semua terbuat dari logam, ditambah gendang, gambang, rebab, dan suling. Masing-masing instrumen memiliki karakter yang relatif kontras. Memainkannya pun dengan ritme yang tidak seragam sebagimana musik diatonis. Namun demikian, kompleks bunyi itu terkoordinasi rapi dan memproduk keindahan yang tertangkap telinga.

Tak henti saya mengagumi keindahan gamelan. Begitu juga mensyukuri sekaligus menyesali perkembangan gamelan yang justru terjadi di Barat. Di tengah lamunan terkait gamelan, tiba-tiba pantat saya seperti tersenggol puntung rokok. Saya terlonjak kaget saat mendengar kabar bahwa seperangkat gamelan telah terpajang di ruang salah satu perguruan tinggi di Kediri ini, yakni di Universitas Kadiri. Rasa senang saya mengembang.

Sejak dulu, Pulau Jawa telah menjadi pusat kebudayaan di samping pusat kekuasaaan politik, terutama Kediri. Di sini, di Kediri ini, dahulu kala berdiri kerajaan besar dengan penguasa yang gaung popularitasnya terasa hingga kini, yakni Jayabaya. Raja diraja yang memerintah dengan keadilan sempurna dan kemurahatian yang luhur. Berpenampilan sederhana dan dikenal sebagai futuris yang sejumlah ramalannya masih sering menjadi buah bibir masyarakat. Menjadi sangat mungkin kepompong gamelan mulai menampakkan diri di zaman Kadiri itu.   Karenanya, menjadi juga sangat wajar jika masyarakat Kediri memiliki tanggung jawab historis ikut menjaga warisan kesenian gamelan itu.

Rektorat Universitas Kadiri yang memiliki minat dan keterpesonaan tajam telah memboyong perangkat gamelan ke kampusnya. Tak soal gamelan itu untuk dipelajari secara akademik atau untuk sekadar hiburan dan bahkan hanya untuk pajangan. Yang penting, membawa gamelan ke kampus saja bagi saya sudah merupakan niat yang perlu diapresiasi. Setidaknya, kita tak kehilangan rasa kagum dan hormat pada leluhur pencipta gamelan.

Selama ini gagasan menghadirkan gamelan di perguruan tinggi sepertinya harus berhadapan dengan anggapan bahwa gamelan hanya cukup menghadirkan suasana nostalgia saja. Paling pendidikan tinggi hanya mampu sebagai sarana sosialisasi dan konservasi saja.  Kurang melihat ke depan sebagaimana beban peran perguruan tinggi yang untuk menyiapkan aktor pengelola masa depan.

Diskusi hampir selalu berujung pada gamelan yang tak mendapat tempat di perguruan tinggi. Kecuali memerlukan anggaran yang relatif besar, gamelan dipandang kurang memiliki aspek praktis. Artinya, bahwa gamelan hanya bermuara pada kegiatan yang kurang mampu ‘menghidupi’.

Sebenarnya, tidaklah salah memberi persetujuan terkait gagasan pendidikan tinggi sebagai akar penguatan kegiatan gamelan. Karena, dalam beberapa dekade terakhir sangat nyata gamelan meredup sinarnya dalam mengedarkan pendidikan berbasis akal budi. Bolehlah mengawali kegiatan gamelan sebagai mata kuliah pilihan untuk mengasah softskill dengan sks 0,5 atau 1. Atau dengan mengawali sebagai program ekstrakulikuler, sebagaimana kelompok Paduan Suara. Terlalu sayang jika gamelan tenggelam dimasa depan ditelan jaman yang semakin runyam. Gamelan itu produk budaya besar yang telah menyebar menjauh dari daerah asalnya.

Suatu saat, ketika saya berada di pedalaman Pulau Timor, di Desa Buraen, Amarasi Selatan, saya menemukan bagian kecil gamelan Jawa ditabuh ritmis mengiringi sejumlah tante telanjang kaki berdansa. Di Sumatera Barat, tepatnya di pedesaan Solok, saya juga mendapati sedikit instrumen kesenian lokal yang menyerupai salah satu instrumen gamelan Jawa. Dari hal itu saya menduga bahwa gamelan Jawa menyebar ke berbagai daerah di Indonesia ini.

Tapi, semakin jauh dari Jawa semakin berkurang jumlah instrumennya. Semakin ke timur semakin sedikit, dan tinggal kenong di pedalaman Timor. Begitu juga ke barat gamelan yang ditabuh juga semakin berkurang. Hingga Aceh tidak kebagian gamelan, akhirnya yang ditabuh atau dipukul pundak dan paha dari penarinya sendiri. Wkwkwkwkwk……..(Penulis adalah Pemerhati Kesenian)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close