Komunikasi PemerintahanKriminal & HukumNganjukPeristiwa

Sepuluh Bulan, 36 Kasus Kecelakaan KA

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Kasus kecelakaan kereta api (KA) di wilayah Daop 7 Madiun jadi evaluasi khusus PT KAI. Pasalnya, selama 10 bulan terakhir total ada 36 kecelakaan. Mayoritas terjadi di perlintasan tanpa palang pintu.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, dari puluhan kasus kecelakaan KA tersebut, enam di antaranya terjadi di Kabupaten Nganjuk. Dari jumlah itu, lima kecelakaan terjadi di perlintasan tanpa palang pintu. Adapun satu kecelakaan lainnya terjadi di perlintasan berpalang pintu.

Enam kejadian kecelakaan itu, tiga di antaranya terjadi di bulan Januari. Selanjutnya, dua kecelakaan di bulan Maret, dan satu terakhir pada September lalu. Manajer Humas PT KAI Daop 7 Madiun Ixfan Hendriwintoko yang dikonfirmasi tentang kecelakaan KA mengatakan, faktor manusia masih jadi penyebab utama kecelakaan. “Makanya kami selalu dan terus mengimbau kepada masyarakat untuk patuhi rambunya,” ujar Ixfan.

Untuk diketahui, dari enam kasus kecelakaan KA di Nganjuk tersebut, lima korban dinyatakan meninggal dunia. Hanya satu korban yang selamat. Yakni, kecelakaan KA di Wilangan pada Januari lalu. Sang sopir truk selamat setelah berhasil meninggalkan truknya yang mengalami gangguan transmisi di tengah rel.

Sedangkan lima lainnya tidak terselamatkan nyawanya. Mulai pengendara sepeda motor, mobil, dan yang paling baru, di Kecamatan Bagor pada September 2020 lalu yang juga melibatkan truk.

Terkait banyaknya kejadian kecelakaan KA, Ixfan menjelaskan, pihaknya terus melakukan sosialisasi. Baik pencegahan dan sosialisasi untuk menaati UU No. 23/2007 tentang Perkeretaapian.

Di pasal 124 disebutkan, perpo­tongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. Ixfan menilai masyarakat khususnya pengguna jalan masih banyak yang belum memahami fungsi pintu perlintasan kereta api.

Pintu perlintasan KA, lanjut Ixfan, merupakan alat bantu keamanan bagi para pengguna jalan. Seperti halnya bunyi sinyal serta petugas penjaga perlintasan sebidang. “Ada maupun tidak ada pintu di perlintasan sebidang, pengguna jalan wajib berhenti sejenak dan menoleh kiri-kanan sebelum melewati perlintasan sebidang kereta api,” jelas Ixfan.

Dikatakan Ixfan, saat ini pihak Daop 7 juga sudah berkoordinasi dengan dishub kabupaten, provinsi, dan Kementerian Perhubungan. Yakni, terkait rencana kemungkinan penutupan perlintasan sebidang yang tidak ada palangnya. “Benar, kami terus melakukan koordinasi. Karena sekali lagi kewenangan penutupan perlintasan sebidang itu dari pemerintah daerah,” tandasnya. (syi/ut)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close