HeadlinesKomunikasi PemerintahanNganjukPeristiwa

Musim Hujan, Siaga Bencana Hidrometrologi

Cabut Darurat Kekeringan, BPBD Hentikan Dropping Air

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Bencana kekeringan yang menimpa lima desa di Nganjuk berakhir musim hujan November ini. Hal tersebut ditandai dengan masuknya surat permohonan penghentian dropping air dari pemerintah desa. Sebagai gantinya, saat ini badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Nganjuk siaga bencana hidrometrologi atau bencana di musim hujan.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Nganjuk menyebutkan, lima desa yang mengajukan penghentian dropping air mulai Desa Ngepung, Lengkong; Desa Oro-Oro Ombo, Ngetos; Desa Perning, Jatikalen. Kemudian, Desa Pule, Jatikalen; dan Desa Genjeng, Loceret.

Pengajuan penghentian dropping air bersih dari lima desa itu menurut Soeko dilakukan secara bertahap. Dia mencontohkan Desa Ngepung yang sudah mengajukan penghentian pengiriman air bersih minggu lalu. Kemudian, Senin (2/11) lalu disusul empat desa lainnya. “Dengan surat permohonan itu, pengiriman air ke lima desa terdampak kekeringan dihentikan semua minggu ini,” ujar Kalaksa BPBD Nganjuk Soekonjono.

Lebih jauh Soeko mengungkapkan, meski masih ada desa yang mengalami kesulitan air bersih, menurutnya jumlah desa terdampak tahun ini jauh lebih sedikit. Hanya saja, dua desa di Kecamatan Jatikalen yang sebelumnya tidak masuk pemetaan daerah rawan kekeringan harus dikirim air karena mengalami krisis air.

Dengan permohonan penghentian pengiriman air bersih dari desa terdampak, Soeko menyebut BPBD akan mencabut status darurat bencana kekeringan. “Surat (pencabutan status darurat bencana kekeringan, Red) sedang kami proses,” lanjut Soeko.

Apakah sumur-sumur warga di daerah krisis air sudah kembali berfungsi seperti semula? Soeko mengakui, sumur-sumur warga belum berfungsi normal kembali. Meski demikian, mereka sudah menyiapkan tempat untuk menadah air hujan. Sesuai pantauan BPBD, warga memanfaatkan tandon hingga ember untuk menampung air saat hujan.

Sementara itu, pencabutan status darurat bencana kekeringan akan diikuti penetapan siaga darurat bencana hidrometrologi. BPBD Nganjuk, jelas Soeko, tinggal menindaklanjuti keputusan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa tentang siaga darurat bencana musim hujan. “Yang harus diwaspadai saat ini adalah bencana perubahan cuaca. Terutama fenomena La Nina,” terang Soeko.

Meningkatnya curah hujan hingga 40 persen akibat La Nina, menurut Soeko berpotensi menimbulkan sejumlah bencana. Terutama banjir dan tanah longsor. Karenanya, BPBD mewaspadai sejumlah daerah di lereng gunung Wilis dan lereng gunung lainnya yang rawan longsor. Demikian juga beberapa desa di dekat aliran sungai Bodor, Kuncir, dan Semantok yang jadi langganan banjir.

Seperti hanya daerah rawan kekeringan, Soeko menjelaskan BPBD sudah membuat peta daerah rawan bencana hidrometrologi. “Sekarang fokus melakukan antisipasi dan memberi edukasi kepada warga agar tanggap bencana,” imbuhnya. (rq/ut)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close