Komunikasi PemerintahanNganjuk

Usulkan Hutan Tritik Jadi Taman Nasional Prasejarah

NGANJUK, JP Radar Nganjuk– Hutan Tritik di Rejoso berpotensi jadi objek wisata baru di Kota Angin. Banyaknya temuan fosil di sana membuat dinas pariwisata, pemuda, olahraga dan kebudayaan (disparporabud) berencana menjadikannya Taman Nasional Prasejarah.

Untuk merealisasikannya, disparporabud tengah menunggu hasil penelitian dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran dan Balai Arkeologi (Balar) Jogjakarta. “Tambahan bahan kajian dari dua lembaga itu  untuk memperkuat usulan Taman Nasional Prasejarah di hutan Tritik,” ujar Kepala Disparporabud Nganjuk Fadjar Judiono.

Fadjar menyebutkan, saat ini  di hutan sudah dipasang imbauan dan peringatan sebagai langkah penyelamatan. Disparporabud mengajak semua orang yang beraktivitas di hutan Tritik ikut melindungi situs arkeologi prasejarah di sana.

Sejauh ini, Fadjar sudah berkomunikasi dengan Perhutani Nganjuk untuk bersama-sama menjaga aset sejarah tersebut. “Perhutani mendukung  upaya yang sudah kami lakukan selama ini,” lanjut Fadjar sembari menyebut penyelamatan situs sangat penting agar tidak dirusak oleh warga akibat ketidaktahuannya.

Tak hanya mengusulkan hutan Tritik sebagai Taman Nasional Prasejarah, Fadjar menyebut disparporabud saat ini menyiapkan blok taman sesuai dengan binatang yang ditemukan di sana. Kelak, setiap blok akan dibuatkan replika menyesuiakan temuan. Tujuannya untuk menjelaskan jika di sana pernah hidup hewan purba prasejarah.

Bukan saja menyelamatkan aset prasejarah di hutan Tritik, prioritas lain yang juga masuk dalam target penyelamatan adalah Candi Banjarsari di Kecamatan Ngronggot. Sekarang, candi sudah terbuka sebagian. Satu sisi yang masih tertutup diprediksi masih ada arca.

“Candi Banjarsari masuk prioritas diekskavasi,” terang mantan kepala dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) ini. Selain satu-satunya cagar budaya yang bentuknya bangunannya sudah jelas, tipe candi ini terbilang unik.

Bila ditarik garis lurus ke utara dan selatan, candi ini berada di tengah-tengah. Keberadaan bangunan sebelum era Majapahit itu diperkirakan terletak di tengah perkampungan kuno.

Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Amin Fuadi menambahkan, Candi Banjarsari jadi prioritas ekskavasi karena bangunan tersebut biasanya banyak ditemukan di India. “Itu memang bangunan untuk beribadah,” jelasnya sembari menyebut ekskavasi seharusnya sudah dilakukan tahun ini dan tertunda akibat pandemi Covid-19. (rq/ut)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close