Berita UtamaHeadlines

Camat Suherman Terpojok

Kades Kanigoro Akui Memberikan Uang Rp 125 Juta

KABUPATEN, JP Radar Kediri– Posisi Camat Grogol Suherman, terdakwa kasus jual beli jabatan perangkat desa, terpojok dalam sidang kedua di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri kemarin (11/11). Ini setelah Kepala Desa (Kades) Kanigoro di Kecamatan Kras, Miskan, mengaku menyerahkan uang dari calon perangkat desa agar lolos seleksi.
“Saat itu Pak Suherman (masih menjabat Camat Kras, Red) menjanjikan kepada saya dapat menjadikan Nuril Husin sebagai carik. Dengan persyaratan menyerahkan uang senilai Rp 125 juta,” ujar Miskan di persidangan yang dimulai sekitar pukul 13.00.
Setelah itu, karena rasa kepercayaan Miskan terhadap Suherman, ia pun meminta uang kepada calon pengisi jabatan perangkat desa bernama Nuril Husin tersebut. Di hadapan majelis hakim yang diketuai Mellina Nawang Wulan dengan dua hakim anggota, Evan Setiawan Dese dan Muhammad Rifa Rizah, Miskan mengungkap menyerahkan uang tersebut secara berkala pada 2016 silam.
Yang pertama Miskan menyerahkan dari Nuril sebanyak Rp 25 juta ke Suherman secara tunai. Setoran kedua senilai Rp 50 juta diserahkan melalui transfer rekening bank. Untuk tahap ketiga diberikan tunai senilai Rp 50 juta.
Namun, meski Miskan telah menyerahkan uang Rp 125 juta pada Suherman, Nuril yang mengikuti ujian perangkat desa tidak lolos. Karena itu, Miskan pun menanyakannya ke Suherman. Namun tak ada jawaban.
“Saya sudah hubungi beliau melalui pesan singkat. Tetapi tidak ada balasan. Nomor saya malah diblokir olehnya,” ungkap kades ini dalam persidangan di ruang Kartika.
Akibat kejadian ini, Miskan harus bertanggungjawab mengganti uang Nuril sebanyak Rp 125 juta. Merasa diingkari, Miskan lalu melaporkan Suherman ke Polres Kediri pada Juli 2020.
Sebulan berikutnya, pada Agustus Miskan menerima transferan uang senilai Rp 50 juta. “Bulan Agustus saya kaget melihat uang Rp 50 juta masuk ke rekening saya,” terangnya.
Selain Miskan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tomy Marwanto dan Moch. Iskandar juga menghadirkan empat saksi lain. Yakni, Nuril Husin, anggota Karang Taruna Kanigoro yang ikut ujian seleksi perangkat desa. Kemudian, Suwono, saksi ahli dari Plt Kabag Hukum Pemkab Kediri; Kades Banjaranyar Badrun Munir, dan Kades Jambean H Ali.
Miskan bersaksi setelah Suwono memberiksan kesaksian pertama. Dalam kesaksiannya, saksi Suwono menerangkan terkait tata cara pengisian perangkat desa. Yang menarik, ketika Miskan memberikan keterangan sekitar 10 menit, tiba-tiba ada kendala dalam jaringan online melalui aplikasi zoom.
Saat itu sekitar pukul 15.00. Karena ada masalah dalam jaringan telekonferensi tersebut, sidang sempat ditunda setengah jam. Ternyata jaringan di ruang Kartika tetap tak berfungsi.
Makanya majelis hakim memutuskan pindah ke ruangan Cakra. Selanjutnya, sekitar pukul 15.30 sidang kembali dilanjutkan. Nuril Husin bersaksi setelah Miskan di ruang Cakra sekitar pukul 16.30. Dia mengaku memberikan uang pada Miskan atas permintaan Camat Suherman.
Hingga pukul 17.30 WIB persidangan masih belum selesai. Padahal masih ada dua saksi yang belum memberikan keterangan. Yaitu Kades Banjaranyar Badrun Munir dan Kades Jambean H Ali. Bahkan persidangan masih berlangsung ketika Magrib berkumandang.
Menjelang malam, sekitar pukul 18.10 majelis hakim akhirnya mengakhiri acara persidangan. Untuk dua saksi, Badrun Munir dan H Ali, yang belum memberikan kesaksian diputuskan majelis hakim ditunda. Sebelumnya, kedua kades ini hadir sejak awal sidang. Bahkan mereka juga sudah mengucap sumpah bersedia menjadi saksi.
Keterangan mereka dapat disampaikan pada persidangan berikutnya. Sebelum mengakhiri persidangan, majelis hakim memberi kesempatan pada terdakwa Suherman untuk menanggapi keterangan saksi. Kemarin, Suherman yang memakai kaus hitam mengikuti persidangan ini melalui video conference. Dia berada di ruang Polres Kediri, Kelurahan/Kecamatan Pare.
Ada 10 penasihat hukum (PH) yang mendampinginya. Dua di antaranya mendampingi di Polres Kediri. Sedangkan delapan pengacara yang lain mengikuti persidangan di PN Kabupaten Kediri.
Menanggapi keterangan saksi Miskan dan Nuril Husin, Suherman menyangkal pernyataan yang mereka sampaikan tidak benar. “Salah semua,” tegasnya melalui layar monitor di ruang Cakra.
Selain membantah kesaksian tersebut, pada majelis hakim Herman meminta agar sidang digelar secara tatap muka. Alasannya, sidang secara virtual jaringannya kerap terputus-putus dan tersendat. Ia menilai dengan tatap muka bisa lebih lancar.
Namun, permintaan ini tak dikabulkan. “Untuk sidang tatap muka belum bisa kami kabulkan karena komunikasi saat ini masih lancar,” ujar Mellina.
Majelis hakim lantas menutup persidangan yang berlangsung selama 5 jam tersebut. Mellina menetapkan jadwal sidang selanjutnya pada Rabu mendatang (18/11).
Saiful Anwar, penasihat hukum Suherman, mengatakan, menerima majelis hakim yang tak mengabulkan persidangan tatap muka dengan kliennya. “Itu hal biasa, namanya juga upaya dari penasihat hukum,” terangnya. (luk/ndr)

Sidang Kasus Jual Beli Perangkat Desa
Rabu (4/11)
Sidang perdana pembacaan dakwaan Suherman. Penasihat hukum mengajukan sidang tatap muka dan penangguhan penahanan

Rabu (11/11)
Sidang kedua pemeriksaan saksi. JPU hadirkan lima saksi. Namun hanya tiga yang memberi keterangan. Dua lainnya akan bersaksi pada sidang berikutnya. Majelis hakim menolak permintaan sidang tatap muka dan penangguhan penahanan

Rabu (18/11)
Sidang ketiga masih mengagendakan pemeriksaan saksi

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close