Berita UtamaFeature

Mencari Orang Asli Kampung yang Bisa Menjiwai

Eksistensi Seniman Bantengan di Tengah Krisis Regenerasi

Kesenian bantengan tidak seramai dulu. Di Desa Damarwulan, Kecamatan Kepung jumlah senimannya tinggal segelintir. Mereka kini mengalami krisis regenerasi. Namun, para seniman percaya kesenian tersebut masih bisa terus bertahan.

FAJAR RAHMAD, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Laki-laki berpostur tinggi itu sedang memakai balutan kain hitam dan topeng berkepala banteng. Ketika pentas, pakaian kepala banteng ini harusnya dimainkan dengan dua orang. Satu orang di depan memainkan kepala banteng ke segala arah dan sesekali disertai serudukan. Sedangkan yang di belakang bertugas mengikuti yang di depan dan mengibaskan ekor banteng.

Orang yang memakai topeng banteng itu bernama David, warga Desa Damarwulan,  Kecamatan Kepung. Pemuda 26 tahun itu merupakan salah satu pemain dari kesenian bantengan sejak 10 tahun lalu.

Saat itu, David yang sebelumnya aktif di kesenian jaranan, diajak oleh temannya untuk mencoba berlatih bantengan.

“Sekarang malah keterusan. Saya ketika jadi pemain bantengan lebih sering memegang yang topeng macanan. Tapi kadang juga yang berkepala banteng,” ujarnya saat ditemui di Kantor Desa Damarwulan.

Sejak pandemi Covid-19, David sudah lama tidak memaikan kesenian yang mirip barongsasi asal Tiongkok itu. Muhammad Jamiin, 48, salah satu pengurus bantengan yang dituakan di Desa Damarwulan memilih mengistirahatkan pemain dan alat-alatnya. “Karena pandemi kami libur sampai sekarang,” ujar Jamiin.

Menurut Jamiin, kesenian bantengan di Desa Damarwulan termasuk paling tua di Kabupaten Kediri. Dari cerita orang tuanya, kesenian tersebut sudah eksis sejak 1965. Hanya saja, kini jumlahnya tinggal segelintir. Dhanyangan atau yang biasa disebut sesepuh bantengan masih tersisa satu orang saja.

Sesepuh itu bernama Puguh. Pria 89 tahun itu biasa dipanggil Mbah Puguh. Dia yang memainkan hingga mendampingi sejak awal kesenian bantengan itu berdiri di Damarwulan. Saat ini, nahkoda kesenian bantengan diserahkan kepada Jamiin yang dapat dipercaya.

Jamiin sendiri mulai bermain bantengan sejak 20 tahun lalu. Jamiin bercerita orang dulu lebih menyukai kegiatan kesenian. Bahkan, tidak sulit untuk mencari pemain bantengan yang dapat menjiwai.

Selama pandemi Jamiin memang belum memainkan lagi kesenian bantengan. Selain karena adanya pentas kesenian mengundang kerumunan, juga para pemain bantengan banyak yang disibukkan dengan pekerjaannya masing-masing. Karena para pemain rata-rata berusia 28-35 tahun. Mereka sudah berkeluarga.

Padahal, sebelum pandemi, kesenian bantengan sering diundang pada acara nikahan, sunatan dan hajatan lain. Tiap tampil, ada paling sedikit 20 pemain yang ikut meramaikan kesenian tersebut. Untuk pengiring musiknya, ada 7-10 orang. Mereka memainkan kendang, ketipung dan jedor.

Dari 20 pemain itu, ada dua banten, yang diisi oleh dua orang. Topeng banteng ini dimainkan tiga lakon dengan orang orang yang bergantian. Selain itu, ada macanan yang terdapat empat topeng sekali tampil.

“Tidak sembarang orang yang dapat memainkan kesenian bantengan ini. Karena dia harus rela untuk berlakon seperti banteng dan macan,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kaur Keuangan Desa Damarwulan ini.

Dia menuturkan, kesenian bantengan sekarang dalam kondisi antara hidup dan mati. Karena mengalami krisis regenerasi, tidak banyak anak yang berdarah seni.

Beberapa waktu lalu, Jamiin pernah mengamanatkan salah satu topeng bantengan kepada orang awam yang dinilai menyukai kesenian bantengan. Bahkan orang tersebut terus mengikuti ke mana saja kesenian bantengan yang dipimpin Jamiin tampil. Namun ketika memainkan lakon banteng, ternyata tidak bisa menjiwai atau ndadi.

“ Karena memang jika bukan orang asli Desa Damarwulan tidak bisa menjiwai dan memainkan dengan bagus,” terangnya.

Jamiin bertekad untuk tetap melestarikan kesenian bantengan. Dengan cara mencari orang yang berjiwa seni dan asli dari Desa Damarwulan. Rencananya, setelah pandemi korona mereda, dia akan mengaktifkan kesenian bantengan lagi di Desa Damarwulan dan sekitarnya. Agar dapat dikenal oleh banyak orang lagi. Terutama orang Kediri. (baz)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close