Berita UtamaFeature

Perlu Ada Shelter dan Forum Anak //

Tantangan Kota Kediri menuju Kota Layak Anak (KLA)

Kota Kediri memang telah menyandang gelar sebagai KLA Madya. Namun, masih ada tiga tingkatan  lagi yang harus ditempuh agar Kota Kediri benar-benar ditetapkan menjadi Kota Layak Anak (KLA). Tentu saja, bukan hal mudah. Banyak indikator yang harus dipenuhi.

Berdasarkan data dari Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (Kemenpppa) RI, penghargaan madya berada di peringkat dua dari bawah. KLA yang paling dasar biasa dikenal dengan istilah pratama.

Berkaca dari penghargaan tersebut, Kota Kediri masih perlu meningkatkan peringkatnya lagi untuk benar-benar dinyatakan sebagai KLA. Karena ada tiga tingkatan lagi yang harus dilalui. Yaitu tingkatan Nindya, Utama dan akhirnya menjadi Kota Layak Anak.

Kondisi tersebut mengundang Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Kediri untuk bersuara. Pihaknya menegaskan bahwa masih ada beberapa hal yang perlu diupayakan seluruh stakeholder di Kota Tahu. Terutama untuk pemenuhan hak-hak anak.

Salah satu yang menjadi sorotan LPA adalah belum adanya shelter atau rumah aman bagi anak berhadapan dengan hukum (ABH). “Shelter tersebut bisa digunakan juga untuk pembinaan anak-anak yang berkonflik dengan hukum,” ujar Divisi Advokasi dan Pendampingan ABH LPA Kota Kediri Heri Nurdianto.

Heri menilai bahwa instansi terkait belum mampu melakukan pembinaan terhadap anak tersebut sesuai dengan putusan hakim. Baik dalam perkara anak yang berujung diversi maupun yang terpaksa dilanjutkan ke pengadilan.

Menurutnya, ABH tersebut biasanya dikirim ke beberapa panti rehabilitasi yang ada di Magelang maupun Jombang. “Seharusnya instansi terkait dapat melakukan pembinaan di dalam Kota Kediri jika memiliki shelter khusus anak sebagai pelaku,” imbuh Heri kepada Jawa Pos Radar Kediri.

LPA Kota Kediri juga mencatatkan beberapa kasus anak yang sering terjadi selama setahun terakhir ini. Antara lain kasus kekerasan psikis, fisik, hingga seksual. Ada pula beberapa kasus yang berkaitan dengan dunia pendidikan.

Berdasarkan data tersebut, tercatat ada 17 kasus yang terjadi pada tahun 2019 lalu. Lalu, pada tahun ini pihaknya mencatatkan ada 10 kasus. Namun data tersebut hanya sampai medio April saja. Pasalnya setelah itu kegiatan belajar mengajar di sekolah dilakukan secara daring. “Perundungan atau bullying termasuk ke dalam kekerasan psikis,” sambungnya.

Selain shelter, pihaknya juga menyoroti belum terbentuknya forum anak di semua kelurahan yang ada di Kota Kediri. Meskipun untuk pelibatan anak dalam proses perencanaan pembangunan sudah dilakukan. Mulai dari pelibatan anak dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang).

Sementara itu, Kasi Anak dan Lansia Dinas Sosial Kota Kediri Bambang Soebatamaji mengamini bahwa shelter dan forum anak memang belum ada. “Masih dalam proses. Kami (Pemkot Kediri, Red) sedang mengupayakannya,” aku Bambang kepada koran ini.

Lebih lanjut, pihaknya juga membenarkan bahwa salah satu tantangan besar untuk mencapai predikat KLA adalah masih banyaknya kasus anak. Bahkan kasus tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. Tak terkecuali tren peningkatan pada tahun ini.

“Di tahun 2020 saja kami sudah melakukan pendampingan lebih dari 30 kali,” ungkap Bambang kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Menurutnya, kasus anak yang paling banyak ditangani hingga kini ada tiga. Yakni kekerasan psikis, fisik, dan seksual. Dari ketiganya, kasus perundungan menjadi yang paling banyak ditangani. (tar/dea)

Tentang KLA

Kategori KLA:

  • Kabupaten/kota layak anak
  • Utama
  • Nindya
  • Madya
  • Pratama

Indikator KLA:

  • Klaster satu. Hak dan kebebasan.
  • Klaster dua. Lingkungan keluarga dan pengasuhan anak.
  • Klaster tiga. Kesehatan dasar dan kesejahteraan.
  • Klaster empat. Pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya.
  • Klaster lima. Perlindungan khusus.

Kasus Anak yang Umum Terjadi:

  • Kekerasan psikis, mental, atau perudungan.
  • Kekerasan fisik. Baik dari keluarga, lingkungan, maupun sebaya.
  • Kekerasan seksual. Mulai dari pencabulan hingga perkosaan.

Sorotan LPA:

  • Belum ada shelter atau rumah aman.
  • Belum terbentuknya forum anak.
  • Keterlibatan dunia usaha untuk CSR anak masih minim.

Butuh Kerja Sama Semua Pihak

Banyak tantangan yang harus dilalui untuk dapat meraih predikat kota layak anak (KLA). Oleh karena itu, butuh kerja sama dari seluruh stakeholder untuk dapat mencapainya.

Kasi Anak dan Lansia Dinas Sosial Kota Kediri Bambang Soebatamaji mengatakan Pemkot Kediri telah mengupayakan beberapa hal. Salah satunya dengan menggagas pusat kesejahteraan sosial anak integratif (PKSAI).

“PKSAI menjadi wadah bersama dari seluruh pihak untuk dapat menangani masalah sosial yang dialami oleh anak,” ujar Bambang.

Ke depannya, ia berharap bahwa wadah tersebut dapat segera terealisasikan. Sehingga penanganan masalah anak lebih mudah lagi. Pasalnya keberadaan PKSAI bisa menampung berbagai dinas atau instansi yang terkait dengan anak. “Semakin memudahkan dan berkesinambungan,” sambung pria yang gemar bercanda tersebut.

Bambang mengatakan, penanganan masalah anak memang harus dilakukan secara menyeluruh. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya untuk dapat menciptakan pemenuhan hak-hak terhadap anak.

Seperti halnya Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Barenlitbang, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB). “Semuanya memiliki porsi dan tugasnya masing-masing. Tetapi saling berkaitan,” imbuhnya.

Seperti halnya kekerasan anak yang terjadi di sekolah telah diselesaikan dengan Disdik Kota Kediri. Hal itu diakuinya menjadi salah satu bentuk kerjasama dalam penanganan masalah sosial anak antar instansi.

Di luar dinas atau instansi terkait lainnya peran serta masyarakat dan keluarga juga tak bisa dipisahkan. Bahkan keluarga dan lingkungan sekitar memiliki peran yang sangat penting untuk memenuhi hak anak.

Bambang menuturkan bahwa peran keluarga sangat krusial dalam tumbuh kembang anak. Tak terkecuali, keluarga juga lah yang membentuk dan mendidik pola pikir anak. “Peran keluarga sangat besar di sini,” ungkapnya.

Berbagai upaya diakui Bambang telah dilakukan lagi ke depannya. Termasuk memberikan pelatihan, pemberdayaan, dan pendidikan parenting terhadap orang tua di Kota Tahu.

Pihaknya berharap dengan pendekatan tersebut para orang tua di luar sana dapat lebih memahami lagi tentang pola asuh anak. Di luar pengembangan mental tersebut, pembangunan fasilitas anak juga menjadi perhatian Pemkot Kediri. Seperti halnya mendirikan taman baca, taman bermain, dan lain sebagainya.

“Kami sedang mengupayakannya. Harapannya sewaktu ada lomba KLA, kita bisa naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi,” pungkas Bambang. (tar/dea)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close