Feature

Yang Semula Mencemooh Kini Ikut Bangga

Kreativitas Pemuda Tirulor Sulap Tempat Seram Jadi Objek Wisata

Dulu tempat ini begitu ‘menyeramkan’ bagi warga Desa Tirulor, Kecamatan Gurah. Kini, lahan pengairan itu diubah menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi orang setiap pekan. Semua berkat ide cemerlang para pemuda di sana.

LU’LU’UL ISNAINIYAH, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Hujan baru saja reda sekitar pukul 14.00, Minggu lalu (15/11). Tanah di sekitar tempat wisata di Dusun Ringinrejo, Desa Tirulor, Kecamatan Gurah itu juga masih basah. Meski sempat diguyur hujan, jumlah pengunjungnya tidak surut.

Mereka bersenang-senang di sana. Mulai bermain river tubing, flying fox, hammock sampai mandi di sungai. Di lokasi tersebut, pengunjung juga bisa berfoto di spot yang sudah ditentukan. Warga Tirulor menamakannya tempat wisata Tirto Tani Djojo. “Karena lokasinya ada di dekat pengairan,” kata Mohammad Abdul Rozaq, anggota pemuda kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Tirulor.

Ya, para pemuda di desa tersebut adalah pengelola wisata Tirto Tani Djojo. Bahkan, mereka yang ikut babat alas. Sebab, sebelum menjadi seperti sekarang, lokasi tersebut dianggap sebagai tempat yang ‘menyeramkan’. “Dulu di sini sering digunakan untuk mabuk-mabukan. Juga pernah ada temu mayat di dekat pengairan. Waktu saya kecil, takut kalau mau datang ke sini,” ungkap pemuda 23 tahun ini.

Tapi, pemuda Desa Tirulor tidak mau dihantui rasa takut terus-terusan. Mereka ingin mengubah lokasi yang sebelumnya dianggap tidak layak menjadi tempat yang mengerek perekonomian warga. Akhirnya, pada Agustus 2019, beberapa pemuda mulai membicarakan gagasan-gagasan itu.

Mereka kemudian memikirkan pengelolaan wisata. Sebenarnya, meski seram, lahan pengairan di sana memiliki pemandangan yang bagus. “Akhirnya kami memutuskan untuk memanfaatkan lahan pengairan di Dusun Ringinrejo. Kami ubah jadi tempat wisata,” ucap Abdul.

Perjuangan para pemuda untuk mengelola tempat tersebut penuh dengan perjuangan. Dengan berbekal tekad dan keyakinan, mereka berjuang untuk membuat tempat tersebut menjadi indah. Di awal, mereka belum punya modal sama sekali.

Kata Abdul, para pemuda kemudian meminta sumbangan ke warga desa. Sumbangan tidak harus berupa uang. Namun, berbagai macam peralatan seperti cat sisa, bambu dan ban bekas. “Apapun kami terima saat itu juga. Seperti tempat duduk dari ban bekas, semua berasal dari sumbangan warga,” ujarnya.

Abdul mengakui semula sulit mendapat kepercayaan warga. Maklum, lokasinya memang sudah dianggap tidak layak. Akan tetapi, mereka mencoba terus meyakinkan warga. Dari semula yang ragu-ragu dan meremehkan, sekarang berbalik bangga.

Mereka berkeyakinan jika suatu saat tempat tersebut dapat menghasilkan dan menjadi daya tarik tersendiri.  “Ya awalnya banyak yang mencemooh. Badan sungai kok dicat. Kayak kurang kerjaan,” kata Abdul mengenang perjuangan para pemuda.

Setelah mendapat kepercayaan, pokdarwis yang terdiri dari 40 orang bergotong-royong mengubah tempat tersebut. Sekitar lima bulan, pekerjaan tersebut selesai. Dimulai Agustus 2019, pekerjaan rampung pada Januari tahun ini.

“Kami berasal dari berbagai latar belakang dan memiliki kesibukan masing-masing. Tapi alhamdulillah teman-teman ada waktu untuk meyempatkan diri membantu mengelola,” ucapnya.

Berkat kerja keras tersebut, Abdul meraih juara III Pemuda Pelopor Bidang Sumber Daya Alam yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Jawa Timur. “Alhamdulillah kami mewakili Kabupaten Kediri untuk kategori tersebut. Semua berkat perjuangan teman-teman juga,” ujarnya.

Herdian Andrianto, salah satu anggota pokdarwis mengaku senang bergabung untuk mengelola wisata tersebut. Meski sempat diremehkan, dia akhirnya gembira karena warga sekarang bisa menikmatinya. “Daripada pergi keluar desa, lebih baik mencari hiburan akhir pekan di sini,” kata pemuda 24 tahun ini. (baz)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close