Berita Utama

UAS Masih Daring

Tak Boleh Ada Penumpukan Siswa bila Take Home

KOTA, JP Radar Kediri– Pemerintah pusat memang telah mengisyaratkan bakal memulai lagi pelaksanaan sekolah tatap muka. Namun, di daerah, tanda-tanda untuk itu masih belum terlihat. Termasuk saat pelaksanaan ujian akhir semester (UAS) nanti. Pemkot Kediri misalnya, masih menegaskan bahwa UAS masih berlangsung dengan cara daring atau online.

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Kota Kediri Ibnu Qoyim menegaskan, pelaksanaan UAS tidak akan digelar secara tatap muka langsung di sekolah. Alasannya adalah masa pandemi Covid-19 yang belum usai. Disdik telah menginstruksikan sekolah-sekolah mengirimkan soal-soal ujian secara daring kepada murid-muridnya.

Disdik juga tidak menentukan platform daring apa yang digunakan sekolah. Semuanya terserah keputusan pihak sekolah. “Banyak platform yang bisa digunakan. Kami tidak akan membatasinya,” kata Ibnu.

Masih menurut Ibnu, UAS tersebut akan berlangsung bersamaan di semua level. Baik itu di tingkat SD maupun SMP. “Rencananya UAS ganjil akan dilaksanakan mulai Senin (7/12) depan,” ujar Ibnu yang ditemui koran ini di ruang kerjanya kemarin.

Dalam pelaksanaannya nanti UAS diperkirakan memakan waktu selama enam hari. Sehingga ujian tersebut dijadwalkan akan berlangsung sampai Sabtu (12/12) depan.

Namun, Ibnu menambahkan, disdik juga masih memberikan opsi ujian non-daring. Tapi bukan secara tatap muka. Melainkan pelaksanaan UAS dengan cara take home. Murid bisa datang ke sekolah hanya untuk mengambil soal. Setelah itu dibawa pulang.

“Pengerjaannya tetap dilakukan di rumah siswa masing-masing,” sambungnya.

Untuk pengambilan soal tersebut perlu dilakukan pengaturan agar tidak terjadi penumpukan siswa. Oleh karena itu pihaknya menyarankan sekolah untuk melakukan pembagian jadwal murid yang akan mengambil soal. Seperti membagi siswa menjadi beberapa shift.

Tidak hanya pada saat pengambilan soal saja, juga pada saat pengumpulan hasil jawaban dari para murid yang bersangkutan. Pihak sekolah juga harus mengatur mekanismenya untuk pengumpulan jawaban itu keesokan harinya.

“Kalau dulu kan pengumpulan jawaban harus dilakukan langsung saat waktu habis. Namun kali ini kami beri kelonggaran karena murid juga sudah terbebani dengan pandemi Covid-19 ini,” ungkapnya.

Ibnu menegaskan bahwa semua SD maupun SMP boleh-boleh saja mengadopsi salah satu atau kedua metode tersebut. Tidak ada kriteria khusus. Hanya saja, pihaknya mengingatkan untuk tetap mengedepankan protokol kesehatan dan mekanisme yang telah disepakti jika menerapkan konsep ujian take home.

Lalu, mata pelajaran (mapel) apa saja yang dikerjakan secara daring atau take home? Ibnu mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kewenangan dan hak masing-masing sekolah. Tidak ada ketentuan yang mengatur metode tersebut.

“Ini merupakan salah satu penerapan dari konsep merdeka belajar yang digagas oleh Menteri Pendidikan,” pungkas pria yang mengenakan kemeja putih tersebut. (tar/fud)

Beda UAS sebelum dan saat pandemi

Sebelum Pandemi:

  • Soal dikerjakan di ruang ujian khusus
  • Waktu pengerjaan terbatas
  • Diawasi oleh guru atau pengawas ujian
  • Ujian berlangsung cukup ketat

Saat Pandemi:

  • Soal dikerjakan di rumah murid masing-masing
  • Waktu pengerjaan relatif lebih lama
  • Diawasi oleh orang tua masing-masing
  • Ujian berlangsung lebih longgar
Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close