Berita UtamaHeadlines

Bus Hanya Mampir, Terminal Jadi Mirip Halte

Tak hanya angkutan umum saja yang minim di Kabupaten Kediri. Namun keberadaan terminal juga sama nasibnya. Dari empat terminal yang pernah dibangun oleh pemerintah daerah, hanya satu terminal saja yang difungsikan. Itupun masih menuai polemik terkait statusnya. Antara milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur atau Pemerintah Kabupaten Kediri?
Bahkan, Terminal Pare sebagai satu-satunya terminal di Kabupaten Kediri itu juga tak digarap maksimal. Kondisinya tak sebaik terminal pada umumnya. Padahal ratusan penumpang setiap hari lalu-lalang. Terutama yang hendak ke Kampung Inggris ataupun ke pondok pesantren di sekitar Pare.
Dari data yang didapat koran ini, Terminal Pare masih dilalui dua perusahaan otobus (PO). Yakni PO Bagong dan PO Harapan Jaya. Trayeknya adalah dari Blitar, Pare menuju Surabaya dan sebaliknya. “Kalau akhir pekan, keduanya mengeluarkan masing-masing 20 armada bus. Yang melintas pulang pergi,” kata Kepala Terminal Pare Gatot Santoso.
Sementara untuk hari biasa Senin-Kamis, kata Gatot ada 15 sampai 17 armada tiap PO. Dalam satu hari di akhir pekan, total bisa mencapai 400 hingga 500 penumpang yang tercatat di Terminal Pare. “Paling banyak yang akan ke Kampung Inggris dan santri-santri pondok pesantren di sekitar Pare seperti Kepung, Puncu, Kandangan dan Badas,” terangnya.
Sebenarnya Kabupaten Kediri memiliki empat terminal. Yakni Terminal Purwoasri di Jalan Nasional 22, kemudian Sub-Terminal Sambi tipe C yang dikhususkan untuk angkutan kota atau lyn, Terminal Pare, serta Sub-Terminal SLG. Namun, saat ini yang masih beroperasi hanya Terminal Pare saja.
“Kalau Terminal SLG ini tidak aktif karena dulu permasalahan jalurnya yang kurang sesuai. Jadi sekarang jadi halaman Dishub (dinas perhubungan, Red),” ujar Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri Hari Wahyu.
Dia mengaku belum ada rencana untuk mengaktifkan lagi Terminal SLG. Termasuk terminal-terminal lain yang saat ini non-aktif.
Terkait kondisi terminal dan sub terminal yang mangkrak, Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Kediri Taufik Chavifudin sangat menyayangkan. “Harusnya segera ada pembenahan,” saran Taufik.
Soal status Terminal Pare, dia berharap harus diperoleh kepastian. “Perlu duduk bersama antara Pemkab Kediri dalam hal ini dishub dengan pemprov. Karena masih menggantungnya status terminal ini berpengaruh terhadap kelancaran transportasi dan PAD (pendapatan asli daerah),” terangnya.
Dari pantauan koran ini, akibat tarik ulur itu, saat ini Terminal Pare hanya diperuntukan sebagai lokasi persinggahan. Mirip dengan halte bus. Armada tidak lagi masuk ke dalam terminal, namun hanya mampir di depan bangunan. Sementara bagian belakang kondisinya tak terurus.
Masih kata Taufik, adanya bandara, jalan tol, serta rencana pembukaan Jalur Lingkar Wilis yang menghubungkan 6 daerah tentu menjadi peluang datangnya para wisatawan. Tentu saja menurutnya masalah transportasi harus juga disiapkan cetak birunya. “Sinergi enam kabupaten tadi harusnya jadi simbiosis mutualisme antar kabupaten di wilayah sekitar Gunung Wilis di bidang transportasi,” pungkas politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut. (din/fud)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close