Artikel Populer
.

Terbaru

.
Belajar dari Ferrari

Marketing On Wednesday #264 By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner  Bagi ...

Rotiboy Vs Roti ‘O

Marketing On Wednesday #263 By Kurniawan Muhammad, Marketing Practitioner Dulu, ...

Menyoal Kepuasan Pelanggan

Ketika mengisi acara rutin, ngobrol tentang marketing di MFM Radio kemarin, saya membahas tentang kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Di antara yang saya bahas adalah tentang anomali kepuasan pelanggan. Sadar atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika sedang membeli barang atau jasa, kita mengalami anomali kepuasan pelanggan.  Misalnya, kita puas dengan sebuah produk merek tertentu yang kita beli. Tapi, ketika harus beli produk itu lagi, kita memilih produk sejenis tapi dari merek lain (kompetitor produk sebelumnya). Ini menunjukkan satu relasi yang anomali, bahwa  pelanggan yang puas, belum tentu loyal.

Ujian Brand Juicy Luicy

Tidak mudah memang, menjaga brand dan reputasi. Kasus yang menimpa Juicy Luicy ini bisa menjadi contohnya. Baru-baru ini, mereka sedang mendapat ujian brand. Grup band asal Kota Bandung itu banyak dihujat dan dikecam netizen, buntut dari keputusan sepihak mereka yang membatalkan konsernya saat akan tampil di acara XYZ Liveground Batam, 5 September lalu.  Istilah pembatalan sepihak memang muncul dalam persepsi publik. Tetapi, fakta yang tersedia menunjukkan adanya dua versi yang berbeda. Pihak penyelenggara (EO) menyatakan, bahwa kewajiban utama telah mereka penuhi. Dan soal kelebihan bagasi (yang disebut-sebut sebagai penyebab Juicy Luicy membatalkan penampilannya), pihak EO menawarkan skema reimbursement.  Sebaliknya, pihak Juicy Luicy mengatakan bahwa problem sudah terjadi sejak H-7. Mulai dari pelunasan fee yang terlambat, tiket baru diterima sekitar pukul 22.26 untuk penerbangan besoknya pukul 05.00, bukti hotel dan tiket pulang belum lengkap, serta pembayaran prepaid baggage belum diterima. Dan puncaknya terjadi kelebihan bagasi. Pihak Juicy Luicy awalnya menyebut estimasi bagasi sekitar Rp 44 juta. Tapi kemudian membengkak menjadi sekitar Rp 64 juta, ketika harus diproses di bandara. Ini lah yang menjadi pemicu batal tampilnya Juicy Luicy.

Praktek Marketing ala UGM

Kabar menarik datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Kampus di Jogja ini  tergolong sukses dalam hal mengembangkan ekosistem bisnis di lingkup universitas. Mereka bikin perusahaan holding dan investasi. Namanya PT Gama Multi Usaha Mandiri atau Gama Multi Group yang berdiri sejak tahun 2000. Dari perusahaan ini, lahir anak perusahaan lagi yang secara khusus mengkomersilkan hasil-hasil penelitian, yakni: PT Swayasa Prakarsa (SWAP). Dan ini yang menarik. Agustus lalu, SWAP mengumumkan rencana mereka untuk  melakukan IPO (Initial Public Offering), persiapan melantai di bursa saham.

Ketika Bandara Dhoho Dikelola Penuh Swasta

Sebuah transformasi besar terjadi di Bandara Dhoho Kediri. Per 1 Oktober 2026, bandara tersebut sudah sepenuhnya dikelola oleh swasta, dalam hal ini PT Surya Dhoho Investama (PT SDhI). Sebelumnya, pengelolaan dilakukan melalui Kerjasama Operasi (KSO) antara PT SDhI dan Angkasa Pura Indonesia. Bagaimana kira-kira masa depan Bandara Dhoho setelah benar-benar dikelola swasta? Dalam perspektif ekonomi, bisa jadi nanti orientasinya akan menjadi lebih komersial. Keputusan bisnis yang dibuat, akan menjadi lebih cepat. Operator swasta tidak hanya berpikir “Berapa penumpang pesawat tahun ini?”. Tetapi juga berpikir “Bagaimana caranya agar setiap penumpang menciptakan economic value?”. Ini lah yang dalam industri bandara disebut “non-aeronautical revenue”. Bahwa pendapatan bandara modern itu tidak hanya berasal dari landing fee atau passenger service charge. Di dalam ekosistem bandara ada retail, restoran, coffe shop, hotel, parkir, advertising, lounge, cargo, logistic, pergudangan, commercial property, event, transportasi lanjutan, dan berbagai layanan digital.

Ibu Bekap Mulutnya hingga Tewas, Dilahirkan di Kamar Mandi

BEBER BUKTI: Dari kiri, Wakapolres Kediri Kompol Hari Kurniawan, Kapolres Kediri AKBP Wahyudin Latif, Kasatreskrim AKP Angga Riatma, Kanit PPA Ipda Yudi Hermawan, dan Kasubsi Humas Aipda Andik Susilo membeber bukti kasus buang bayi dan buang janin yang berhasil diungkap Polres Kediri dalam waktu kurang dari 24 jam. KABUPATEN, JP Radar Kediri–DA, 22, dan TW, 23, agaknya harus melangsungkan pernikahan di penjara. Pasalnya, pasangan asal Desa Gedangsewu, Pare; dan Desa Tunglur, Badas itu dipastikan merupakan pelaku pembuangan mayat bayi di belakang rumah Tukijan pada Minggu (4/10) malam lalu. Setelah diamankan sejak Senin (5/10), sepasang remaja itu resmi menyandang status tersangka.           Kapolres Kediri AKBP Muhammad Wahyudin Latif mengatakan, kasus pembuangan bayi di Desa Gedangsewu, Pare berhasil diungkap oleh anggotanya dalam waktu kurang dari 24 jam. “Pelaku merupakan warga yang tidak jauh dari lokasi TKP,” kata perwira yang akrab disapa Latif itu.           Ya, DA tak lain merupakan anak sulung Tukijan. Pemuda yang sebelumnya dipanggil ke Polres Pare sebagai saksi itu lantas diamankan karena keterangan saksi dan bukti mengarah padanya

Berkenalan dengan dr Dekonanda Jufri Nasution dan Dua Anaknya yang Juga Spesialis Ortopedi

Berbagi nama belakang yang sama, tiga dokter ortopedi di Kediri ini jauh lebih dekat dibanding sekadar kolega. Dokter Dekonanda Jufri Nasution tak pernah menduga kedua putranya akan mengikuti jejaknya. Menjadi dokter spesialis ortopedi yang berkarir di Kediri. AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri Dokter Ariya Maulana Nasution, Sp. OT baru saja keluar dari ruang operasi saat menemui Jawa Pos Radar Kediri. Ariya dikenal sebagai salah satu dokter spesialis ortopedi di Kediri. Karir yang tak lepas dari pengaruh sang ayah yang juga dokter spesialis ortopedi. Menariknya, Ariya juga punya seorang adik bernama dr Ade Yahya Nasution, yang juga spesialis ortopedi. Tumbuh dengan menyaksikan perjalanan karir sang ayah dari dokter umum hingga sekolah lanjutan sebagai dokter spesialis berperan besar membentuk persepsinya terhadap profesi ini. Sampai-sampai dia memutuskan mengikuti jejak yang sama: mengambil bidang spesialis yang tergolong minim peminat.

Dari Rp 6 Juta, Kini Tinggal Rp 3,92 Juta, Insentif SPPG Susut

KOTA, JP Radar Kediri-‘Pendapatan’ puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Kediri susut jutaan rupiah. Dengan pemberlakuan sistem insentif baru, SPPG yang sebelumnya mendapat Rp 6 juta per hari, kini hanya mendapat Rp 2 ribu per porsi makanan yang disalurkan.           Sebelumnya, insentif untuk SPPG dipukul rata. Setiap SPPG mendapat insentif Rp 6 juta per hari. Namun, sejak Senin (5/10) lalu, insentif diberikan sesuai jumlah porsi makanan yang disalurkan.