Saya mengapresiasi Pemkab Kediri yang sejak tahun lalu dan berjalan hingga tahun ini mulai memermak kawasan wisata di Gunung Kelud. Di antaranya pengecoran jalan menuju puncak Kelud sepanjang 243 meter dengan lebar 6 meter, pemasangan paving, hingga rencana pembangunan toilet terpadu serta kios food court di puncak. Ini adalah deretan intervensi fisik yang nyata.
Sebagai orang yang sudah beberapa kali mengunjungi Gunung Kelud, kawasan wisata itu menurut saya adalah gambaran sebuah paradoks yang anggun. Satu sisi, menunjukkan keliarannya, yang menyimpan potensi kehancuran raksasa. Namun, di sisi lain, kawasan itu memancarkan pesona alam yang tiada duanya. Kawahnya yang ikonik, adalah mahakarya alam yang selalu berhasil memikat siapa saja. Namun, sejujurnya, mengamati dinamika pariwisata di Kelud dari waktu ke waktu, seringkali menyisakan pertanyaan mendasar: “Mengapa destinasi sekelas dan seindah Kelud ini seolah berjalan di tempat, seakan berjalan tertatih merespona zaman?”.