Dulu, cita-citanya adalah jadi pekerja migran. Kemudian pulang membuka jasa bengkel. Ternyata, jalannya adalah jadi polisi sekaligus pegiat seni.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Jam dinding menunjukkan pukul 09.00. Aiptu Agus Budiono masih duduk di ruangannya, di Kepolisian Sektor (Polsek) Kota. Mempersiapkan diri sebelum terjun ke lapangan. Sebagai bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat (bhabinkamtibmas) di Kelurahan Kemasan.
“Barusan selesai apel,” ucapnya ramah.
Sepintas, memang tak ada beda antara Agus dengan bhabinkamtibmas lain. Namun bila menelisik lebih jauh dalam kesehariannya maka akan terlihat sesuatu yang lain dari sosoknya. Dia memiliki cara yang tidak monoton dalam bertugas. Melainkan ‘menjerumuskan’ dirinya di bidang seni, khususnya jaranan.
“Selain membangun relasi juga bisa menggali informasi dari warga,” kata polisi yang sempat bertugas sebagai buru sergap (buser) reserse kriminal ini.
Tentu saja sebagai polisi wilayah tugasnya berpindah-pindah. Namun yang khas, yang pertama dilakukan tetap sama. Mencari komunitas jaranan terlebih dulu. Tak heran dia mendapat panggilan yang identik, Kang Dalang. Menandakan seperti apa kecintaannya pada dunia seni.
Ketertarikannya pada jaranan jauh sebelum dia masuk kepolisian. Tepatnya ketika masih di bangku SMA, 2001 silam. Kebetulan ayahnya adalah penata gamelan di pementasan wayang.

Apalagi ketika sang adik lebih dulu bergelut dengan dunia seni. Membuatnya terpancing menerjuninya juga.
Menariknya, menjadi polisi sejatinya bukan keinginan sejak awal. Cita-citanya justru sederhana. Menjadi pekerja migran untuk mengumpulkan modal. Kemudian pulang membuka jasa bengkel kendaraan.
Mengapa berbelok jadi penegak hukum? “Ada orang sepuh yang menyarankan saya daftar polisi karena ‘jalan’ saya memang di situ,” aku Kang Dalang.
Perjalanan Kang Dalang menjadi pegiat seni jaranan tak mudah. Sempat dicurigai dan diremehkan oleh seniman lokal. Ketika mencoba berbaur ke kelompok-kelompok jaranan dia juga kerap dianggap sebagai intel, polisi yang menyamar.
“Dianggap mencari perkara, mau menyelidiki (kasus) narkoba atau apa,” kenang pria yang tinggal di Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri ini.
Toh, semua itu tak membuat cintanya pada seni jaranan luruh. Justru, kini, pelaku seni menyadari keterlibatan Agus murni dari panggilan hati. Meskipun, kadang, tugasnya sebagai polisi membuat aktivitasnya di dunia seni ‘terganggu’.
“Pernah sudah pakai kostum barongan lengkap, siap mau keluar. Eh, ternyata handphone berbunyi. Ya saya harus berangkat (tugas), tidak jadi main,” ceritanya dengan sedikit senyum.
Kini, setelah puluhan tahun menekuni dunia seni, bapak dua anak ini kian menyadari, bahwa jaranan bukan sekadar tontonan. Melainkan ritual yang sarat nilai filsafat dan ajaran leluhur. Mengajarkan budi pekerti luhur. Agar manusia bisa bermanfaat bagi sesama.
Selain itu, aktivitasnya tersebut juga membantu tugasnya sebagai bhabinkamtibmas. Membina generasi muda melalui seni jaranan. Agus adalah inisiator lahirnya grup jaranan anak-anak Putra Agung Wijaya di Kepung, sejak 2023.
Grup yang kini memiliki puluhan anggota. Mulai anak-anak TK hingga SMP. Mereka tak hanya diajari menari atau menabuh gamelan saja. Juga membentuk karakter berbudi pekerti.
"Di situ diajarkan tentang sopan santun. Tidak boleh misuh-misuh (berkata kasar, Red), tidak boleh berkelahi atau membuli teman-temannya. Diajarkan untuk adab dan tanggung jawab," tegasnya.
Melalui pendekatan humanis ini, Aiptu Agus mencoba menghapus stigma. Menghilangkan kesan buruk seni jaranan selama ini. Menepis anggapan masyarakat bahwa jaranan identik dengan konsumsi minuman keras atau kebiasaan jelek lain. Menggantikannya dengan edukasi spiritual melalui doa bersama.
Kini upayanya juga melebar ke dunia maya. Menggunakan media sosial seperti YouTube, TikTok, dan Instagram. Selain untuk menyebarluaskan edukasi juga mendokumentasikan kekayaan budaya Kediri.
“Termasuk membuat konten yang berkaitan dengan jaranan, silat maupun lainnya. Tujuannya menarik minat anak muda untuk melestarikan budaya,” terang pria berusia 43 tahun itu.
Kini, dengan masa pengabdian panjang di kepolisian maupun dunia seni, dia memegang teguh sebuah prinsip hidup yang selalu disuarakannya. "Budaya itu adalah identitas dan jati diri bangsa. Maka pelestariannya adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan sampai kita menjadi tamu di rumah sendiri," pungkasnya.(fud)
Mahfud