Dari rumahnya di Tulungagung kakek ini berangkat pagi-pagi. Menumpang bus menuju Kediri, tempat dia menjajakan ikan hias dagangannya. Tetap ikhlas melakukan, meskipun kadang hanya uang Rp 10 ribu yang dia dapatkan seharian.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Lima puluh meter di barat Jembatan Brawijaya, pria ini membuka lapak sederhananya. Berupa ember serta satu troli barang. Troli itu tempat dia menggantungkan plastik-plastik berisi air bening dan beberapa ikan hias warna-warni.
Tidak semua ikan hias yang sudah terbungkus plastik bisa dia gantungkan di pegangan troli. Tempat yang terbatas menjadi penyebabnya. Maka, ember berwarna cerah namun sudah kusam itu menjadi penampungnya.
Penjual ikan di tepi Jalan Sudanco Supriadi itu adalah Darminto. Sudah lanjut usia (lansia), 85 tahun. Namun, secara fisik, tergolong prima. Pendengaran dan penglihatannya relatif bagus. Negosiasi harga pun bisa dia lakukan dengan lancar.
"Kalau ada yang beli, ditawar, saya kasihkan," ucap pria yang tinggal di Tulungagung, kabupaten yang jaraknya lebih dari 50 kilometer dari tempatnya berjualan.
Darminto menjalani hidup seperti itu, pergi pulang dari Tulungagung ke Kediri, enam tahun lamanya. Sejak awal memang berjualan ikan hias. Namun, empat tahun awal dia lakukan di Jalan Sultan Agung, daerah timur Sungai Brantas berjarak 10 kilometer dari lapaknya sekarang.
“Di sana penjualannya seret, tiga hari berturut-turut. Akhirnya cari lokasi baru, di sini ini,” ucapnya mengurai alasan.
Di Jalan Sudanco Supriadi peruntungannya membaik. Lokasi itu memang ramai orang berlalu lalang. Juga dekat dengan taman yang ramai dikunjungi warga kota, Taman Sekartaji.
Tak heran bila dia bisa mendapatkan penghasilan 100 ribu per hari. Tentu saja tidak selalu sebanyak itu. Kadang hanya Rp 50 ribu. Bahkan, pernah lebih sedikit.
"Kemarin dapat Rp 10 ribu," akunya.
Toh, Darminto tak pernah patah semangat. Tetap berangkat dari rumahnya pagi-pagi. Naik bus, turun di Alun-Alun Kota Kediri.
Bila stok ikannya habis, Darminto lebih dulu berjalan kaki ke Pasar Setonobetek. Membeli ikan hias jenis glofish dan komet, dua ikan yang dia jual selama ini. Setelah dikemas dia menuju tempatnya mangkal.
"Ikan glofish isi tiga harganya Rp 10 ribu. Kalau komet Rp 2 ribu isinya satu," terangnya, sambil jemarinya menunjuk ikan-ikan yang sudah terbungkus rapi.
Di tempat ini Darminto berjualan hingga matahari mulai surut di ufuk barat, sekitar pukul 16.00. Bila laris, tentu pulang dengan perasaan riang. Bila banyak yang tersisa, kemasan plastik itu dia bongkar. Ikannya dia jadikan satu.
“Biar bisa masuk ember. Nanti embernya saya masukkan tas, saya gendong di bus,” jelasnya, sambil menunjuk tas ransel yang dia maksudkan.
Mulanya, Darminto bukanlah penjual ikan hias. Sebelumnya pria ini seorang sopir. Dia jalani hidup di jalanan itu selama 40 tahun. Karena pendapatan menurun akhirnya dia berjualan ikan.
Pria ini sangat ikhlas dalam menjalani hidup, meskipun kadang sangat berat. Dia melakoninya dengan tegar. Apalagi, biaya hidup sehari-hari sudah menanti. Tak hanya untuk makan saja, juga biaya kos yang mencapai Rp 350 ribu sebulan.
Itulan mengapa bapak tiga anak itu harus bekerja di usia senjanya. Dia tak ingin meminta-minta. MTetap mencari uang dengan cara yang halal.
"Yang ngasih ada saja, Ibu Vinanda (Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati, Red) juga pernah mampir. Tetapi yang penting saya jualan, tidak mengharap (pemberian) orang lain," katanya.
Baginya, usia tak menjadi alasannya bergantung pada orang lain. Dia bekerja karena itu yang harus dilakukannya. Laku atau tidak, dia akan tetap berangkat berjualan. Dan bersyukur banyak orang yang membantu.
"Kita nggak usah malu, yang penting nggak mengganggu. Harus cari yang halal. Saya selalu doakan orang-orang yang membeli ikan saya, semoga sehat," pungkasnya, mengakhiri obrolan. Tepat ketika matahari sudah beranjak tinggi. (fud)
Emilia Susanti