Doni Wicaksono, Dedikasikan Hidup untuk Lestarikan Aksara Kawi, Seluruh Tubuhnya Jadi ‘Kamus’ Kawi Berjalan

Dari sang ayah dia banyak mengenal situs sejarah. Mengantarnya ke ‘penemuan’ warisan lain yang perlu diselamatkan, aksara Kawi. Kini, dia mendedikasikan hidup demi menjaga dan melestarikannya.

HIMALAYA AZZAHRA, Kota, JP Radar Kediri

Buku-buku di ruangan 3 x 2 meter itu menjadi teman Doni Wicaksono. Tak cuma koleksi. Melainkan sumber pengetahuan memahami warisan leluhur. Terutama aksara yang pernah digunakan di Nusantara. Salah satunya aksara Kawi, yang kini jarang dikenal masyarakat.

Doni, demikian dia biasa disapa, sejak kecil tertarik dengan sejarah. Semuanya tak lepas dari pengaruh sang ayah yang penganut kepercayaan Kejawen. Ayahnya itu yang kerap mengajaknya ke situs bersejarah. Seperti Gua Selomangleng dan Selobale di kawasan Gunung Klotok, atau Situs Pragolopati di Gringging.

“Bisa dibilang memang bapak yang mengenalkan saya dengan situs,” kenangnya.

doni(1)

Selepas SMA, pada 1998, Doni mulai serius menekuni dunia kepurbakalaan. Rutin mendatangi berbagai situs mulai Kediri, Tulungagung, hingga Bali. Bersama beberapa teman, dia telusuri dan mendata. Hingga akhirnya dia membentuk komunitas Tapak Jejak Kaki (TJK), yang dipimpinnya sejak 2013.

Bertahun-tahun kemudian, terbitlah kesadaran baru. Menurutnya, ada bagian yang terlewat dari perhatian mereka selama ini. Yaitu aksara, yang justru jadi media penting penyampai informasi sejarah.

“Ternyata, ada yang lebih penting dari sekadar ukiran batu. Ada mutiara terpendam yang selama ini terlewat, yaitu aksara,” ceritanya.

Sejak itu Doni dan teman-temannya memusatkan perhatian pada aksara Kawi. Ternyata mereka yang selama ini aktif dalam penelitian sejarah pun banyak yang belum mengenal, apalai membaca, aksara tersebut.

“Anggota komunitas kami jumlahnya ratusan. Ketika ditanya siapa yang bisa membaca aksara, ternyata banyak yang tidak tahu. Dari situ kami berpikir, kenapa tidak belajar bersama saja?” kenangnya.

Upaya itu bergulir pada 2019. Pembelajaran aksara Kawi dirintis. Memanfaatkan media sosial, terutama Facebook. Terhubung dengan pegiat aksara dari berbagai daerah. Saling bertukar pengetahuan, membahas bentuk aksara, hingga memecahkan persoalan pembacaan prasasti.

Lahirlah jejaring pelestarian yang bernama Lingkar Wilis. Sesuai namanya, anggotanya tersebar dari Kediri, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Madiun, dan Nganjuk.

Di Kediri, kegiatan belajar dikenal dengan nama Ajar Kawi Wetan Wilis. Sementara di daerah lain namanya berbeda lagi.

Memang, jejaring itu belum berbentuk organisasi resmi, jejaring tersebut memiliki tujuan yang sama. Yakni memperluas pengetahuan tentang Aksara Kawi agar tidak berhenti di kalangan pemerhati sejarah. Agar dikenal masyarakat, terutama anak muda dan pelajar.

Metode pembelajarannya sederhana. Mengenal bentuk huruf, menghafal aksara dasar yang jumlahnya sekitar 50, dan memahami pasangan serta cara merangkai. Intensitasnya, delapan kali pertemuan selama dua bulan.

Kini, kelas daring telah mencapai angkatan ke-16. Mereka dari masyarakat umum, mahasiswa, hingga dosen. Tiap angkatan pesertanya 20 sampai 25 orang. Meskipun, yang mampu  menguasai materi bisa dihitung dengan jari.

“Lebih dari 100 orang pernah belajar di kami. Namun, yang benar-benar mahir sekitar 10 orang,” terangnya.

doni 3 copy

Upaya Doni mengenalkan aksara Kawi terbantu momentum. Yaitu ketika huruf tersebut ditempel di ruang publik. Termasuk di Jembatan Brawijaya pada 2025 lalu.

Kehadiran aksara itu di ruang publik memancing keingintahuan masyarakat. Awalnya, banyak yang mengira itu huruf Thailand atau India. Padahal, aksara Kawi adalah bagian perjalanan sejarah Nusantara.  Aksara ini berkembang dari tradisi aksara Pallawa yang berasal dari India dan digunakan dalam berbagai prasasti pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Penggunaannya berkembang sejak era Medang hingga Majapahit.

“Jadi, harusnya pengenalan aksara ini tak hanya di komunitas. Harus hadir dalam kehidupan sehari-hari,” harapnya.

Gagasan itu yang mereka sampaikan ke pemerintah. Melalui dewan kebudayaan, dia berharap aksara Kawi hadir di taman kota, halte, Jalan Dhoho, dan perkantoran pemerintah. Seperti yang dia lihat di Johor, Malaysia. Ketika aksara Jawi ada di banyak fasilitas publik. Mulai bandara hingga permukiman.

 “Saya iri dengan teman-teman di Johor,” gumamnya.

Toh, Doni terus bergerak melalui cara sederhana. Bahkan menjadikan dirinya sendiri sebagai media promosi berjalan. Di semua pakaian yang dia kenakan ada aksara Kawi. Di udeng, aksesori, helm, juga kendaraan yang dia gunakan.

Selain itu, dia juga mengenalkan aksara Kawi pada anak-anaknya. Persis yang dilakukan sang ayah dulu. Doni percaya pengalaman sederhana yang diperoleh sejak kecil dapat tumbuh menjadi ketertarikan ketika dewasa.

Di ruang berukuran 3 x 2 meter itu, Doni terus merawat pengetahuan yang pernah hidup bersama peradaban leluhur. Harapannya, Aksara Kawi tidak hanya tersisa sebagai pahatan pada batu-batu tua, tetapi kembali dikenal, dibaca, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.(fud)

.

Mahfud

Pimred

Press ESC to close