
Tjoa Jien Hwie
Hubungan antara Tjoa Jien Hwie alias Ing Hwie alias Surya Wonowidjojo, pendiri pabrik rokok Gudang Garam, dengan para kiai di Kediri, khususnya dengan pesantren Lirboyo sangat lah dekat. Bahkan, saking dekatnya sempat menimbulkan kontroversi.

ROKOK KRETEK: Proses pembuatan rokok kretek di PT Gudang Garam. (han/rkid)
Sebuah artikel yang ditulis oleh Suhadi, peneliti di Pusat Agama dan Lintas Budaya, Universitas Gadjah Mada, menjelaskan tentang begitu dekatnya hubungan antara Ing Hwie dengan (alm) KH Mahrus Aly, yang saat itu adalah pengasuh Pesantren Lirboyo.
Kedekatan itu tercermin ketika Ing Hwie meninggal, KH Mahrus Aly menghadiri pemakaman Ing Hwie di Desa Karangrejo, Kediri. Saat itu, peristiwa ini sempat menjadi perbincangan di Kediri. Sebab, sejauh perkembangan diskursus Fiqh (hukum Islam) yang berkembang saat itu, menyebutkan ketidaklaziman seorang muslim menghadiri pemakaman orang non-muslim.
Bahkan, konon, KH Mahrus bersama sebagian santri Lirboyo membacakan tahlil selama tujuh hari berturut-turut, dan pada saat peringatan 40 harinya di Masjid Gudang Garam unit 6.
KH Mahrus punya kesan yang sangat baik terhadap sosok Ing Hwie. Ditulis dalam artikel Suhadi itu, merujuk dari hasil wawancaranya dengan nara sumber berkompeten, bahwa suatu ketika KH Mahrus pernah memuji sosok Ing Hwie yang dermawan: “………Karena dulu dia pernah melarat, dia sekarang jadi suka membantu orang. …Kalau tidak ada Gudang Garam, Kediri gelap dan tidak punya pamor. Ing Hwie seperti ingin membagi keuntungan yang diperolehnya bersama masyarakat..”.

LINTING: Suasana produksi rokok kretek di pabrik PT Gudang Garam (8/9/06). (han.rkid)
Bahwa Gudang Garam punya hubungan sejarah yang sangat dekat dengan Pesantren Lirboyo, rupanya juga disadari oleh anak-anak Ing Hwie. Suatu ketika, pada 1999, ketika Lirboyo akan menjadi tuan rumah Muktamar ke 30 NU, Rachman Halim alias Tjoa To Hing, waktu itu menjabat Presiden Komisaris Gudang Garam yang juga putera pertama Ing Hwie datang ke Lirboyo. Dia ditemani Rinto Harno, Direktur Pemberdayaan Usaha. Mereka sowan ke rumah KH Idris Marzuqi, Pengasuh Pesantren Lirboyo.
Rachman Halim dikenal jarang sekali berhubungan langsung dengan para kiai, termasuk di Lirboyo. Makanya, peristiwa kedatangannya ke Lirboyo saat itu, mengisyaratkan adanya masalah yang sangat penting.
Beberapa sumber menyebutkan, bahwa kedatangan Rachman Halim kala itu ingin berpartisipasi terkait pelaksanaan Muktamar NU, dimana Pesantren Lirboyo menjadi tuan rumah. Kebetulan, kala itu, Lirboyo memang berencana untuk membangun dua gedung utama sebagai persiapan pelaksanaan Muktamar NU. Yakni membangun satu gedung untuk aula Muktamar, dan satu lagi untuk Masjid.
Dan akhirnya, dua gedung itu bisa dibangun pada saat pelaksanaan Muktamar ke 30 NU. Apakah dua gedung itu pembangunannya dibantu oleh Gudang Garam? Ini lah yang hingga kini, belum bisa dipastikan. Karena sejauh ini, Gudang Garam termasuk perusahaan yang hampir tidak pernah mempublikasikan berbagai bantuan yang diberikan.
Hubungan Gudang Garam dengan beberapa kiai di Kediri, hingga kini masih terjaga dengan sangat baik. Untuk keperluan ini, Humas-nya Gudang Garam diberikan tugas khusus untuk terus menjaga hubungan baik dengan para kiai di Kediri, khususnya dengan Pesantren Lirboyo.
Hubungan yang baik antara Gudang Garam dengan beberapa kiai di Kediri, terutama kiai alumni Lirboyo, ternyata juga ada jejak sejarahnya. Yakni ketika para karyawan Gudang Garam melakukan unjuk rasa besar-besaran. Setidaknya ada dua kali unjuk rasa besar-besaran yang dilakukan oleh para karyawan Gudang Garam (GG).
Pertama, unjuk rasa yang dilakukan pada bulan Maret – April 2000. Kedua, unjuk rasa yang dilakukan pada Mei 2002. Unjuk rasa pertama disebut-sebut sebagai unjuk rasa terbesar yang dilakukan oleh para buruh di GG, karena melibatkan puluhan ribu orang. Bahkan, diceritakan saat itu perusahaan sempat menutup pabriknya. Dua aksi unjuk rasa tersebut dimotori oleh Sarbumusi, sebuah sarekat buruh di bawah NU.
Di sinilah peran kiai dibutuhkan. Mereka memiliki peran penting dalam usaha penyelesaian konflik perusahaan dengan buruh di GG. KH Anwar Iskandar (pengasuh Pesantren Assa’adiyah, alumni Lirboyo) terlibat aktif menjadi mediator pertemuan antara Sarbumusi dengan pihak manajemen GG. Bahkan kediamannya sering dijadikan pertemuan antara pihak manajemen GG dengan pengurus Sarbumusi serta perwakilan dari buruh GG yang melakukan unjuk rasa.

KLOBOT: Rokok klobot jagung salah satu produk Gudang Garam (8/9/06). (han.rkid)
Pada unjuk rasa kedua, Mei 2002, bisa diredakan setalah para kiai turun tangan. Saat itu, diadakan pertemuan dengan para buruh yang melakukan unjuk rasa. Di saat itu lah, mereka diberikan pengarahan oleh beberapa pejabat dari pemerintah daerah serta para kiai. Di antara kiai yang hadir saat itu selain KH Anwar Iskandar, ada KH Idris Marzuqi (Pengasuh Pesantren Lirboyo), KH Zainuddin Djazuli (Pesantren Ploso, alumni Lirboyo), dan KH Imam Yahya Malik (Pesantren Al-Ma’ruf Kedonglo).
Jadi, jelas lah, bahwa eksistensi dari GG tidak bisa dilepaskan dari peran pesantren, NU dan para kiai. Apakah para generasi penerus dari keturunan Ing Hwie masih ingat dengan sejarah tersebut? Apakah mereka juga masih menjaga hubungan secara personal dengan keluarga pesantren dan kiai di Kediri? Atau selama ini hanya diwakili saja oleh bagian Humas? (mad/berbagai sumber)
mad nawai nruk