Hikayat Gudang Garam ; Bermula dari Perselisihan, Berawal dari Mimpi (01)

tjoa Jien Hwie-suryo wono wijoyo

Tjoa Jien Hwie / Suryo Wonowijoyo (arif Hanafi/rkid)

 

Kediri identik dengan rokok Gudang Garam. Tapi, tak banyak orang Kediri yang tahu, tentang asal muasal dari pabrik rokok terbesar di Indonesia itu. Tak banyak yang tahu, bahwa lahirnya rokok Gudang Garam, sangat terkait dengan merek rokok Cap 93. Dan tak banyak yang tahu, bahwa kisah sukses Gudang Garam, berawal dari sebuah ide yang berasal dari mimpi.

 

Kisah ini bermula dari kedatangan Tjoa Jien Hwie ke Hindia Belanda (sebutan untuk Indonesia di masa penjajahan Belanda) pada 1926. Saat itu, Jien Hwie baru berusia 3 tahun. Dia lahir di Fujian, Tiongkok. Ketika datang ke Hindia Belanda, diajak bapaknya merantau ke Pulau Madura, tepatnya di Sampang. Di Sampang, orang tua Jien Hwie membuka toko kelontong untuk bertahan hidup.

Waktu pun berjalan. Hingga pada suatu masa, ayah Jien Hwie meninggal. Kehidupan ekonomi keluarga pun terguncang. Ini membuat Jien Hwie terpaksa pindah ke Kediri untuk ngenger ikut pamannya, demi memperbaiki hidupnya.

Jien Hwie yang selanjutnya lebih akrab disapa Ing Hwie ini pun membantu pamannya Tjoa Kok Tjiang yang saat itu punya pabrik rokok Cap 93. Saat itu, rokok Cap 93 tengah naik daun dan terkemuka di Kediri. Ing Hwie kala itu diberikan tanggung jawab mengepalai bagian pencampuran saus. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Ing Hwie. Setiap hari, dia banyak berkutat dalam menghasilkan racikan rokok kretek terbaik. Apalagi, dia juga tahu ramuan saus simpanan untuk rokok yang menjadi andalan dari pamannya. Keahlian ini lah yang di kemudian hari mengubah hidupnya.

Tahun 1950-an, Cap 93 boleh dibilang termasuk salah satu kretek terkemuka di Kediri. Kemajuan mulai terasa sesudah Ing Hwie bergabung di Cap 93.  Berkat kinerjanya yang bagus, Ing Hwie menjadi sangat dipercaya oleh pamannya, hingga diberi jabatan sebagai kuasa direktur.


keluarga GG2

Generasi kedua keluarga Wonowijoyo. (arif Hanafi/rkid)

 

Dalam perjalanannya, hubungan antara Ing Hwie dan pamannya, Kok Tjiang, terjadi perselisihan. Ada dua versi penyebabnya. Pertama, sang paman tidak setuju dengan usul Ing Hwie untuk melakukan ekspansi. Versi lainnya menyatakan, perselisihan terjadi gara-gara sang keponakan mulai menuntut bagian saham. Akhirnya, pada 1956, Ing Hwie memilih hengkang dari perusahaan pamannya setelah enam tahun bergabung.

Pasca hengkang dari Cap 93, Ing Hwie sempat menganggur setahun. Selanjutnya, berbekal tabungannya, dia mendirikan perusahaan rokok sendiri, dibantu 50 karyawan yang ikut hengkang bersama Ing Hwie dari Cap 93. Waktu itu rokoknya diberi nama: Inghwie. Ternyata merek rokok ini tidak sukses di pasaran. Ing Hwie pun mencoba memulai dari awal untuk membangun perubahan rokok dengan merek baru.

 

karyawan GG

Sebagian karyawan pertama pabrik rokok Gudang Garam. (arif Hanafi/rkid)

 

Dia lantas mengubah merek dagang rokoknya menjadi Cap Gudang Garam pada 1958. Perubahan itu karena Ing Hwie mendapatkan ide Gudang Garam dari sebuah mimpi. Diceritakan, saat itu Ing Hwie bermimpi, melihat bangunan gudang garam, di seberang pabrik Cap 93. Mimpi ini membayangi Ing Hwie selama berhari-hari. Ing Hwie kemudian menceritakan perihal mimpinya itu kepada Sarman, seorang karyawannya yang setia. Sarman lantas mencoba menterjemahkan mimpi bosnya itu ke dalam sebuah gambar ilustrasi. Berawal dari ini lah, Sarman menyarankan kepada bosnya, agar menetapkan gambarnya itu menjadi logo produk rokok dengan merek Gudang Garam. Dan ini ternyata membawa keberuntungan yang luar biasa bagi perkembangan Gudang Garam selanjutnya.

Gudang Garam pun laris di pasaran. Kesuksesan itu mencapai puncaknya pada 1962. Waktu itu “Gudang Garam Kuning” menjadi andalannya sebagai produk rokok kretek. Kesuksesan ini bahkan mampu mendongkrak produksi Gudang Garam yang semula 234 juta batang menjadi 779 juta batang dalam setahun. Di saat itu pula, Gudang Garam mulai menjelma menjadi sebuah “kapal raksasa”. Penjualannya meningkat, begitu pula jumlah karyawannya.


gg-1buruh
 Pekerja pabrik rokok Gudang Garam memproduksi rokok kretek. (arif Hanafi/rkid)

 

Joe Studwell dalam Asian Godfathers (2017) memaparkan, pada 1960-an Gudang Garam termasuk produsen rokok kretek terbesar di Indonesia. Suntikan modal pinjaman berupa kredit pita cukai dari Bank Nasional Indonesia (BNI) menjadi penyebabnya.

Selain kretek, Gudang Garam juga mengeluarkan rokok filter. Untuk di luar negeri, namanya Gudang Garam International. Sedangkan di dalam negeri, bermerek Surya. Diambil dari nama Indonesia-nya Ing Hwie, yakni Surya Wonowidjojo. Juga ada Gudang Garam Mild. 

Sang pendiri, Ing Hwie alias Surya Wonowidjojo akhirnya tutup usia pada 29 Agustus 1985. Kendali bisnis kemudian dilanjutkan oleh keturunannya, yakni Susilo Wonowidjojo. Hingga kini, keluarga Wonowidjojo termasuk ke dalam barisan keluarga terkaya di Indonesia. (bersambung/mad/dari berbagai sumber)

Press ESC to close