Keluarga Santri Tewas Minta Bantuan Hotman Paris

Foto: Gareta Wardani/JPRG

KOTA, JP Radar KediriAda fakta baru dari kasus kematian Bintang Balqis Maulana, 14, di Ponpes Al Hanafiyyah, Desa Kranding, Mojo pada Jumat (23/2) lalu. Pemuda asal Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi itu tidak hanya sekali dikeroyok oleh empat temannya sesama santri. Melainkan sudah beberapa kali dipukuli.

          Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, pemukulan terjadi sejak Selasa (20/2) hingga Kamis (22/2) siang. Tidak hanya disundut menggunakan rokok, dia juga dipukuli di beberapa bagian tubuhnya. Mulai pipi, dada, punggung, dan beberapa bagian tubuhnya yang lain. “Pemicu pemukulan itu karena beberapa alasan,” kata sumber koran ini.

          Pemukulan pada Selasa (20/2) lalu dipicu karena Bintang yang mendapat giliran piket bersih-bersih lingkungan pondok menolaknya. Alasannya, dia baru saja sembuh dari sakit.

          Kemudian, pemukulan kedua terjadi pada Rabu (21/2) malam. Pemicunya, Bintang tidak mengikuti salat berjemaah. Pemukulan kembali terjadi pada Kamis (22/2) siang. AF, 16, salah satu tersangka yang juga sepupu Bintang melakukan pemukulan bersama tersangka lain. Sebab, dia sering mengadukan masalah di pesantren kepada Suyanti, 38, sang ibu. “Sering wadul, jadi tersangka marah,” lanjut sumber Jawa Pos Radar Kediri di Polres Kediri Kota.

           Menjadi korban penganiayaan selama tiga hari berturut-turut, kondisi Bintang semakin lemah pada Kamis malam. Meski luka di wajahnya, sempat diobati, dia semakin pucat. Dari sana, para tersangka membawa Bintang ke RS Arga Husada Ngadiluwih sekitar pukul 03.00 Jumat (23/2) lalu. Beberapa jam kemudian, Bintang dinyatakan meninggal.

          Seperti diberitakan, Polres Kediri Kota telah menetapkan empat tersangka dalam kasus penganiayaan Bintang. Mereka adalah MN, 18, santri asal Sidoarjo; MA, 18, santri asal Nganjuk; AF, 16, santri asal Bali yang juga sepupunya; serta AK, 17, santri asal Surabaya. Keempat pemuda ini juga dijebloskan ke tahanan.

          Terpisah, Rini Puspitasari, penasihat hukum empat tersangka yang dikonfirmasi koran ini mengungkapkan, penganiayaan terhadap Bintang dilakukan karena dia beberapa kali tidak mengikuti salat berjemaah. “Konteksnya menasihati, tetapi tetap tidak sholat,” terang Rini.

Terkait pemukulan sebanyak beberapa kali yang dilakukan pelaku, juga dibenarkan oleh Rini. Pemicunya pun sama. Yakni karena Bintang tidak salat berjemaah. Selebihnya, ada pula momen ketika para tersangka emosi melihat Bintang melotot saat diajak berbicara oleh para pelaku.

“Jadi Kamis (22/2) tersangka meminta Bintang untuk mandi. Ternyata dia keluar dari kamar mandi dalam kondisi telanjang. Diajak bicara juga tidak sinkron,” papar Rini terkait kondisi Bintang kali terakhir.

Saat tiba di kamar, Bintang diajak bicara oleh para pelaku. Saat itulah Bintang sempat memelototi mereka hingga para pelaku emosi dan berujung pemukulan. “Pemukulan dengan tangan kosong,” jelasnya sembari menyebut para tersangka tidak mengira jika pemukulan itu berujung pada tewasnya sang teman.

          Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Nova Indra Pratama yang dikonfirmasi koran ini terkait pemukulan berkali-kali yang dialami Bintang, membenarkannya. Sayangnya, dia tidak bersedia membeber secara detail.

“Waktunya berdekatan dengan kejadian itu (Kamis malam, Red),” tandasnya sembari menyebut santri lain juga ikut menyaksikan penganiayaan yang terjadi di area belakang pondok pesantren tersebut.

          Meski melihat temannya menjadi korban kekerasan, para saksi tidak berani melerai. Sebab, usia mereka lebih kecil dari para pelaku. “Kemungkinan takut karena masih kecil. Jadi nggak berani,” jelas Nova sembari menyebut hingga kemarin penyidik masih mendalami kasus tersebut.

          Sementara itu, kasus tewasnya Bintang di Ponpes Al Hanafiyyah jadi perhatian pengacara kondang Hotman Paris Hutapea. Pengacara kenamaan itu memastikan akan membantu proses hukum kasus tersebut.

          Hal tersebut diungkapkan oleh Suyanti, 38, ibu korban. Ditemui Jawa Pos Radar Genteng, dia menyebut surat kuasa dan dokumen yang dibutuhkan untuk pendampingan hukum sudah dikirim ke pengacara kenamaan di Jakarta itu.  “Sudah tadi (kemarin), mengirim surat kuasa, dokumen, dan identitas kami ke Pak Hotman,” tuturnya.

Suyanti mengaku butuh bantuan Hotman Paris agar kasus meninggalnya putra bungsunya itu bisa berjalan secara adil. Selebihnya, dia juga perlu menjaga keamanan keluarganya. “Saya sebagai pihak korban kehilangan nyawa. Saya membutuhkan pendamping yang benar-benar membela saya,” urainya.

Jika tidak didampingi pengacara yang benar-benar membela keluarganya, Suyanti takut akan ada masalah kepada anaknya yang lain. “Saya tidak ingin suatu saat nanti anak saya tiba-tiba hilang kabar seperti yang lain. saya membutuhkan pembelaan kebenaran dan menguak kebenaran itu hingga seadilnya. Sudah saya serahkan ke pihak berwajib,” tandasnya.

Terkait pengusutan kasus anaknya, Suyanti juga mengirim kartu keluarga (KK) ke Polresta Banyuwangi. Selebihnya, dia juga mengirim bukti terakhir percakapan dengan Bintang. Komunikasi melalui handphone (HP) itu dilakukan korban menggunakan nomor salah satu pengurus pesantren. “Saya tadi (kemarin, Red) mengirimkan (ke Polresta Banyuwangi) bukti komunikasi terakhir dengan Bintang pakai nomor pihak salah satu ponpes,” ungkapnya.

Nomor HP tersebut perlu ikut diselidiki oleh polisi. Sebab, keluarga kesulitan menghubungi nomor tersebut. “Saya minta diselidiki juga, karena nomor saya dan Bintang diblokir. Saya juga sering tidak direspons oleh seniornya Bintang,” akunya.

Setelah melakukan berbagai upaya tersebut, Suyanti berharap kasus kematian Bintang bisa ditangani seadil-adilnya. “Saya dari pihak keluarga tetap harus ada tanggung jawab atas kematian anak saya seadil-adilnya,” pintanya sembari menyebut Bintang tidak meninggal akibat jatuh di kamar mandi sesuai yang disampaikan pihak Ponpes. Sebab, di seluruh badan Bintang terdapat luka sundutan rokok dan lebam.

Hingga kemarin dia juga menyesalkan sikap pihak pondok yang belum ada itikad baik. Yakni, belum ada pengasuh atau utusan pesantren yang datang ke rumahnya. “Hingga detik ini, pihak ponpes tidak ada kata bela sungkawa kepada kami,” sesalnya. (em/rei/abi/JPG/ut)

 

Press ESC to close