KOTA, JP Radar Kediri-Penganiayaan yang dialami Bintang Balqis Maulana, 14, di Ponpes Al-Hanifiyyah (sebelumnya disebut Ponpes Al-Hanafiyyah) Desa Kranding, Mojo, tidak hanya terjadi di satu lokasi. Melainkan, dilakukan di tiga tempat yang berbeda. Bahkan, di lokasi terakhir dia masih dibanting sebanyak tiga kali oleh pelaku meski sudah dalam kondisi lemas. Hal tersebut tergambarkan dalam rekonstruksi yang digelar di Polres Kediri Kota kemarin.
Pantauan koran ini, rekonstruksi yang dilakukan di ruang Rupatama, Polres Kediri Kota itu dilakukan sekitar 10.30. Total ada 55 adegan yang diperagakan oleh empat tersangka hingga pukul 12.00 kemarin. Mereka adalah AK, 17, santri asal Surabaya; AF, 16, sepupu Bintang, asal Bali; MA, 18, asal Nganjuk, dan MN, 18, santri asal Sidoarjo.
Di depan sejumlah perwira Polres Kediri Kota, empat tersangka yang semuanya memakai kaus oranye itu memeragakan adegan secara bergantian. Tiga adegan pertama memeragakan penganiayaan di kamar Bintang pada Minggu (18/2).

Dalam peristiwa sekitar pukul 18.00 itu, AK mendatangi Bintang di kamar. Di sana, dia memukul lengan kiri pemuda asal Desa Karangharjo, Glenmore, Banyuwangi tersebut. Kemudian, pemuda bertubuh kurus ini juga didorong hingga membentur lemari. Kejadian pemukulan itu disaksikan beberapa santri lain yang satu kamar dengan Bintang.
Selanjutnya, penganiayaan kedua terjadi pada Rabu (22/2). Bintang kembali dianiaya di kamarnya sekitar pukul 18.00. Kali ini empat pelaku mendatangi Bintang bersamaan. Duduk melingkari Bintang, mereka sempat terlibat cekcok. Selanjutnya, Bintang ditampar mulutnya oleh AK hingga tiga kali.
Dalam empat adegan yang diperagakan, diperlihatkan saat Bintang berdiri hendak menyelamatkan diri. Namun, di saat yang sama AK juga berdiri. Dia langsung membanting Bintang hingga dia terjatuh di lantai.
Saat itu, Bintang kembali duduk. Giliran AF yang kemudian memukul lengan kiri dan punggung kiri bungsu dari tiga bersaudara itu sebanyak enam kali. Beberapa saat kemudian, giliran MA yang berdiri dan menendang bahu kanan Bintang sebanyak dua kali.
Seolah belum cukup, dalam rekonstruksi juga digambarkan aksi MA yang menendang punggung Bintang sebanyak tiga kali. Selanjutnya, dia juga memukul punggung sebanyak empat kali menggunakan tangan kosong. Kekerasan empat pemuda itu baru terhenti saat dua santri lain melerai dan menolongnya.
Tak cukup dua kali menganiaya Bintang, para pelaku kembali melakukan penganiayaan pada Kamis (23/2) sore. Sekitar pukul 15.00, Bintang yang tubuhnya sudah lebam-lebam karena dua pemukulan sebelumnya, kembali dipukul oleh MA di bagian kepala hingga empat kali.
Pemukulan dilakukan karena sore itu MA melihat Bintang dalam kondisi telanjang dan berdiri di depan kamar. Semula MA berusaha menasihati Bintang. Namun, Bintang terlihat cuek hingga dia tersulut emosi.

Dalam rekonstruksi juga tergambar Bintang mulai mengerang kesakitan. Suara berisik itu membuat AK yang semula tertidur di kamar lantas terbangun. Sekitar pukul 16.30, AK mengajak Bintang ke halaman belakang kamar. Di sana, AK memukul punggung Bintang hingga tiga kali. Selanjutnya, Bintang berdiri dan berusaha menyelamatkan diri.
“Mlayuo kowe, tetep kenek tak uber (silakan berlari, aku tetap bisa mengejar, Red),” teriak AK yang juga diperagakan dalam rekonstruksi kemarin. Selanjutnya Bintang yang berlari berhenti di dekat kolam. Di sana, AK kembali memukul Bintang di bagian dada sebanyak tiga kali. Kemudian, dia juga membanting tubuh bintang satu kali hingga terjatuh di tanah.
Tak cukup di situ, AK juga menendang punggung Bintang sebanyak dua kali. Setelah itu, dia menindih tubuh Bintang yang telentang di tanah. Saat itu Bintang langsung menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.
Rupanya insting Bintang benar. Sebab, beberapa saat kemudian AK juga memukul wajah Bintang hingga beberapa kali. Belum puas melakukan kekerasan, AK lantas mengambil satu ranting pohon. Dia langsung memukulkan ranting tersebut ke punggungnya.
Mendapat penganiayaan bertubi-tubi, kondisi Bintang digambarkan lemas dalam rekonstruksi. Namun, AK masih mengangkat tubuh Bintang kemudian menjatuhkannya ke tanah. “Nggak usah kakean gaya, we. (Tidak usah banyak gaya, kamu, Red),” papar AK.
AK lantas kembali mengangkat tubuh Bintang dan menjatuhkannya. Melihat Bintang benar-benar lemas, AK dan AF lantas mengangkat tubuh Bintang dan membawanya ke kamar mandi untuk dimandikan. Bukannya dibawa ke rumah sakit, tubuh Bintang hanya diolesi minyak.
Sekitar pukul 24.00, Bintang yang sakit lantas dibawa ke kantin untuk menghindari pengecekan. Melihat wajahnya yang pucat, sekitar pukul 03.00 Jumat (23/2), Bintang dibawa ke RS Arga Husada, Ngadiluwih, oleh AK, AF, dan MN. Selang satu jam kemudian, dokter menyatakan dia sudah meninggal dunia.
Dikonfirmasi terkait rekonstruksi yang digelar secara tertutup kemarin, Kapolres Kediri Kota AKBP Bramastyo membenarkan tentang tiga lokasi penganiayaan yang diperagakan dalam rekonstruksi kemarin. Pun total adegan yang mencapai 55. “Penganiayaan terjadi di area pondok. Sekitar tiga waktu (tanggal, Red) 18, 21, dan 22 sampai 23 (Februari, Red) dini hari,” ujar perwira yang akrab disapa Bram itu.
Perwira menengah dengan pangkat dua melati itu menyebut semua adegan yang diperagakan telah sesuai dengan berita acara pemeriksaan (BAP). “Sampai saat ini semua masih sesuai,” tegasnya sembari menyebut Bintang menderita luka di bagian tubuh separo ke atas.
Penganiayaan menggunakan tangan kosong itu menurut Bram dilakukan karena kesalahpahaman. “Lebih kepada, mungkin, rasa kesal dari senior kepada junior ataupun ada hal-hal lain yang membuat salah paham antara hubungan senior dengan junior di dalam lingkup pesantren,” jelasnya sembari menegaskan belum ada tersangka lain di kasus tersebut.
Selain memeriksa para saksi dan tersangka, Bram menyebut penyidik akan memeriksa pihak pondok. Hingga kemarin satreskrim masih mencari pihak yang secara langsung mengetahui, menyaksikan, dan mengantarkan jenazah ke Banyuwangi. “Sementara ini sudah sembilan (saksi, Red) yang diperiksa,” tandasnya.
Terpisah, Verry Achmad, penasihat hukum empat tersangka menjelaskan, penganiayaan dengan cara menyundut rokok atau menusuk tidak terjadi. Hal tersebut juga tidak digambarkan dalam rekonstruksi kemarin. “Ini yang harus kami luruskan karena ini terkait dengan keluarga,” jelasnya sembari menyebut hubungan keluarga dengan korban harmonis.
Verry berharap perkara bisa dibawa ke restorative justice. Apalagi, saat ini para tersangka juga masih dalam kondisi trauma. Seperti diberitakan, jenazah Bintang dibawa ke Banyuwangi Jumat (23/2) siang. Kondisi tubuh Bintang yang lebam dan hidungnya mengeluarkan darah diketahui setelah keluarga korban membuka jenazah di sana.
Setelah melihat fakta tersebut, keluarga meyakini anaknya tidak tewas karena terpeleset di kamar mandi. Melainkan karena penganiayaan. Dari sana mereka langsung melapor ke Polsek Glenmore dan diteruskan ke Polres Banyuwangi. Dalam perkembangannya, keluarga meminta bantuan pengacara kondang Hotman Paris Hutapea dalam kasus hukum tersebut. (em/ut)
Emilia Susanti