Masjid Ismail di Kecamatan Papar berdiri di lokasi yang strategis. Rumah ibadah ini juga menjadi tempat singgah bagi banyak musafir. Desain bangunannya tidak bergaya kubah seperti masjid kebanyakan. Namun bergaya rumah adat dari Jawa Tengah, yakni joglo.
----------------------------------
TIDAK semua bangunan masjid memiliki desain atap yang bergaya kubah. Ada pula masjid yang masih memiliki gaya bangunan kuno maupun tradisional. Salah satunya adalah Masjid Ismail. Yang terletak di Desa/Kecamatan Papar. Desain bangunan masjid ini bergaya joglo. Yang memiliki bangunan atap berbentuk Tajug seperti gunung. Gaya bangunan masjid ini adalah Joglo Sinom.
Tak hanya tampilan tradisionalnya. Bahan bangunan Masjid Ismail ini mayoritas adalah kayu jati asli. Mulai dari kerangka atap, tiang-tiang pondasi, pintu-pintu dengan ukiran mewah, bedug, serta dua kentongan.

“Semua itu kayu jati asli. Karena sebelumnya pemilik masjid ini memang memiliki usaha kayu jati,” ujar Slamet Ahmadi, 56, salah satu pengurus Masjid Ismail.
Bagian dalam masjid juga memiliki aksesoris berupa lampu gantung kuno berjumlah sembilan lampu. Lampu-lampu tersebut bercangkang putih dengan diameter 30 dan 45 sentimeter. Setiap pintu-pintunya juga memiliki ukiran kuno yang indah. Serta mimbar masjid yang juga dipenuhi dengan ukiran merah, berbahan kayu jati asli.
“Mimbar tersebut juga bisa digeser atau dipindahkan,” jelas Slamet. Sedangkan bagian luar sebagai penanda masjid terdapat desain kubah pada sisi kanan dan kiri. Yang berdiri tegap ditumpu oleh pondasi berbadan batu alami.
Slamet juga mengatakan bahwa Masjid Ismail tersebut dibangun pada sekitar 2017. Luas bangunan masjid 12x25 meter. Sedang luas tanahnya 18x54 meter. Masjid itu resmi dihibahkan pada warga setempat pada November 2018. “Nama pemilik masjid ini adalah Agung Ismail,” terangnya.
Ayah dari tiga anak itu juga memberitahu bahwa nama Masjid Ismail itu memang diambil dari nama belakang sang pemilik. “Beliau (Agung Ismail, Red) memang menyukai bangunan tradisional dan barang-barang antik,” ucapnya.
Untuk diketahui, Masjid Ismail ini ternyata adalah masjid ke-8 yang telah dibangun oleh Agung Ismail.
Jadi Tujuan Musafir dan Acara Pernikahan
“SELALU ada ratusan musafir ketika hari Jumat,” ujar Eureka Purwika, 27, seorang gadis yang bekerja di Dapur Joglo.
Dapur Joglo masih satu pemilik dengan Masjid Ismail. Rika-sapaan akrab Eureka Purwika ini juga kerap membersihkan area masjid. Setiap Jumat, Masjid Ismail juga menyediakan makanan sebanyak 150 porsi untuk para musafir yang datang. “Pasti selalu ada Jumat berkah,” katanya.

Uniknya, tidak hanya digemari banyak musafir yang mampir beribadah dan berteduh. Namun Masjid Ismail juga bisa digunakan untuk keperluan pernikahan. Seperti kegiatan akad nikah, prewedding, serta para musafir juga dibebaskan mengambil foto dari banyak sudut.
“Di sini juga kami sediakan minuman gratis untuk semua yang datang,” jelas Rika.
Minuman gratis yang disediakan adalah air mineral, kopi, dan juga teh. Untuk kopi dan teh selalu disediakan panas atau hangat. Kedua minuman itu dibuat langsung oleh takmir masjid. Kemudian disimpan di dua tremos agar panasnya terjaga. Sehingga, para musafir yang datang langsung diperbolehkan untuk mengambil minuman tersebut.
Slamet Ahmadi, salah seorang takmir masjid membenarkan apa yang telah dijelaskan oleh Rika. “Persediaan minuman gratis ini berasal dari infaq masyarakat yang beribadah di sini,” terangnya.

Para pengurus masjid pun mengaku senang bisa berbagi minuman dengan banyak musafir yang datang. “Nanti di September ini sudah ada dua akad nikah yang akan dilaksanakan di masjid ini,” tandasya.
Jamaah yang telah beribadah di Masjid Ismail berpendapat bahwa masjid bergaya joglo itu bagus. “Konsepnya unik, bagus, dan juga adem. Bahkan kita mendapatkan minuman gratis,” ujar Tantra Negara, 35, pria asal Blitar yang sedang melakukan perjalanan dari Nganjuk-Blitar.
Menurut Tantra, adanya minuman gratis sangat membantu para musafir untuk melegakan dahaga setelah melakukan perjalanan jauh. (via/tar)