Pecak Dor, Di Panggung Lawan, di Bawah Kawan (02)

Pecak Dor-06

 

Berbicara tentang pencak dor, memang bukan sekadar soal ajang beladiri semata. Tapi juga selalu terkait dengan persoalan budaya. Bahkan, pagelaran Pencak Dor seperti yang berlangsung di Lapangan Al Aula Muktamar Lirboyo Sabtu malam (17/12) itu sudah masuk dalam salah satu warisan budaya Indonesia.

Menurut Ketua Umum Gerakan Aksi Silat Muslim Indonesia (GASMI) Agus Zainal Abidin, tradisi pencak dor sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Di era KH Maksum Djauhari, atau yang akrab disapa Gus Maksum. Bahkan, dulu pernah di gelar di markas tentara, di tempat yang kini menjadi markas Batalyon 521.

“Itukan dulu markasnya (tentara) Jepang. Pencak dor digelar di sana oleh penjajah. Hanya, saat itu istilahnya dalam bahasa Jepang,” terang Gus Bidin, panggilan sang ketua GASMI.

Setelah pagelaran pencak dor di markas tentara Jepang itu, selang dua minggu kemudian berlangsung di Pondok Lirboyo. Para pesilat dari Lirboyo mengundang tentara Jepang untuk bertarung.

Menurut Gus Bidin, pencak dor merupakan salah satu bagian penting dari perjalanan kemerdekaan Indonesia. Karena sejak masa penjajahan Belanda dan Jepang, sudah ada budaya ini.

Namun, pada perjalanannya, budaya ini mulai berkembang bahkan hingga luar Kediri. Tak hanya Karesidenan Kediri, pencak dor juga ada di Jogjakarta, Solo, Semarang, Jakarta, dan berbagai daerah lainnya di Indonesia.

“Pencak dor pernah digelar di Markas Brimob di Jakarta. Kami diundang oleh kapolda untuk menyaksikan pencak dor,” tuturnya.

Oleh karena itu panitia memakai tagline  ‘Di atas Lawan di bawah Kawan, Indonesia Bebas Tawuran’. Hal itu terinspirasi saat pencak dor digelar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol. Fadil Imran. Digelar di Markas Brimob Jakarta beberapa waktu lalu saat marak terjadi tawuran.

Pencak dor ini, menurutnya, juga menjadi salah satu cara agar Indonesia bebas dari tawuran. Karena pencak dor merupakan wadah untuk siapapun yang mempunyai jiwa petarung. Meskipun tidak memiliki ilmu pencak silat.

“Tujuannya juga terjalinnya silaturahmi sesama pendekar,” imbuhnya.

Oleh karena itu, masyarakat tak perlu memandang buruk dengan adanya pencak dor. Meskipun adu ketangguhan di atas panggung tapi tidak akan menimbulkan kegaduhan di luar. Karena saat usai pertarungan mereka dianggap sebagai kawan satu sama lain.

“Jangan salah mengartikan, pencak dor ini bukan tawuran. Orang-orang yang tawuran di luar sana dengan mengatasnamakan pencak silat itu jiwanya belum mulia,” paparnya, seraya mengatakan bahwa pencak dor ini untuk membentuk pemuda berjiwa mulia.

Ia menceritakan, pendirian arena pencak dor ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan Gus Maksum. Yang melihat makin maraknya aksi perkelahian antar-remaja di Kediri kala itu. Tak jarang dari perkelahian tersebut menimbulkan korban. Sifat arogan pemuda yang sulit terkontrol menjadi salah satu penyebabnya. Sejalan dengan makin maraknya aksi tersebut, Gus Maksum mempunyai ide adanya suatu arena untuk bertarung satu lawan satu dengan fair.

Pecak Dor-01

Biasanya mereka dipertemukan dalam gelanggang pencak dor yang mirip ring tinju. Bedannya kalau ring tinju dikelilingi tali, pencak dor tidak. Pagar pembatas arena adalah batang bamboo. Sebagai pembatas tepi untuk pertarungan para pendekar.

Maksud pencak dor ini bisa menyelesaikan perselisihan dengan adil tanpa mengurangi rasa persaudaraan. Karena dalam pencak dor ini peserta yang bertarung dapat kembali menjalin persaudaraan lagi setelah selesai,” terangnya.

Ketika usai bertanding mereka bisa saling mengenal lebih dekat dengan lawannya yang ia ajak baku hantam. Tak jarang kadang mereka bertukar pengalaman seputar dunia persilatan dengan canda tawa benar-benar tanpa dendam.

Meski tarung bebas, keselamatan tetaplah nomor satu. Setiap pertandingan dikawal dua orang wasit yang memiliki kemampuan lebih. Tugas mereka adalah melerai mereka yang bertanding jika kondisi tak memungkinkan untuk dilanjutkan pertarungan.

“Kegiatan tarung bebas atau pencak dor ini lebih merupakan upaya mempertahankan tradisi,” imbuh Gus Bidin.

Menurutnya, sebagai penerus Gus Maksum, ia berharap kearifan lokal budaya pencak dor tetap terjaga. Terutama bisa menyatukan antar perguruan silat dengan slogan  di atas lawan di bawah kawan. (ilmidza amalia nadzira/fud)

 

 

Pagelaran Kesenian Budaya Pencak Dor yang digelar di

.

Press ESC to close