Sepuluh Tahun sejak Erupsi, Mengapa Pemkab Tak Berani Membangun Kawasan Kelud?

Suara letusannya terdengar sampai Kota Kediri yang jaraknya 45 kilometer jauhnya. Abunya mencapai Jogjakarta dan mengganggu penerbangan di tujuh bandara. Seperti itulah gambaran dahsyatnya letusan Gunung Kelud sepuluh tahun silam.

Tak ada aktivitas mencolok di Pos Pengamatan Gunung Api Kelud seharian kemarin. Petugas yang ada, Dany Erlangga, berjalan santai menuju peralatan yang ada di pos itu. Menunjukkan garis yang dibuat oleh seismograf, alat pencatat gempa yang ada di pos tersebut. Garisnya normal, seperti garis lurus. Tidak ada getaran-getaran, tanda munculnya gempa vulkanik.

kelud-04

TELKELUPAS: Dinding tebing lereng selatan kali Bladak yang hangus setelah letusan 14 Februari 2014.

“Saat ini masih aman,” ucap lelaki yang rambut di janggutnya tumbuh memanjang ini. Tangan sang pengamat mendekatkan bolpen yang dipegangnya di dekat garis yang dibuat oleh jarum seismograf.

“Tapi, tidak tahu nanti. Karena memang (aktivitas gunung berapi) tidak bisa diprediksi," lanjut Dany, sambil berpindah ke peta yang tertempel di dinding pos pengamatan yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari kawah itu.

Alasan itulah yang membuat pembangunan infrastruktur di kawasan Gunung Kelud berjalan sangat lambat. Bahkan, nyaris tak beranjak dari kondisi sepuluh tahun silam. Terutama di radius 2 kilometer dari kawah gunung. Wilayah yang bisa dipastikan bakal luluh-lantak ketika Gunung Kelud erupsi lagi.

kelud-06

TERTUTUP: Kawasan SLG menjadi lautan pasir.

“Karena hal itu (letusan, Red) tidak bisa diprediksi (kapan terjadinya). Jadi, daripada buang-buang anggaran, lebih baik kami antisipasi,” terangnya, terkait tidak adanya pembangunan fisik di kawasan tersebut.

Apalagi, Dany menambahkan, Gunung Kelud punya letusan yang tipikalnya adalah eksplosif dan efusif. Dua kombinasi letusan yang bisa membuat erupsinya berakibat fatal.

kelud-09

Warga Sugihwaras mengungsi dengan kendaraan terbuka.

Alasan tersebut sangat dipahami oleh Pemkab Kediri. Mereka enggan membangun fasilitas umum di kawasan yang rentan terdampak letusan. Meskipun, hal itu sangat dibutuhkan karena status Kelud yang merupakan lokasi wisata andalan.

“Pemkab memang tidak ingin membangun fasum di dalam radius 2 kilometer dari kawah,” terang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Adi Suwignyo, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Wisata Sabila Rosad.

Maka, jangan heran bila wajah wisata Gunung Kelud tak banyak berubah. Meskipun erupsi sudah sepuluh tahun lamanya. Tak ada fasilitas tambahan yang bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Khususnya di area sekitar kawah Kelud.

Dulu, sebelum ledakan 2014 itu, di sekitar kawah ada beberapa fasum. Mulai dari tempat parkir, musala, terowongan, hingga gedung yang bisa digunakan beragam kegiatan. Setelah letusan, hanya terowongan yang tersisa.

kelud-05

Alirah Kali Bladak yang masih mengeluarkan asap (24/2/2014)

Lalu, setelah 10 tahun dari ledakan? “Yang tersisa masih cuma terowongan,” tambah Rosad.

Rosad berdalih jika pemkab sudah berinisiatif membangun beberapa fasum. Namun usulan tersebut ditolak oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Alasannya, jika suatu saat erupsi maka fasum tersebut bakal rusak lagi. Atau , bahkan lenyap.

Setelah menimbang-nimbang, pemkab pun mengurungkan niat tersebut. Pembangunan hanya dilakukan untuk fasilitas penunjang. Seperti arah penunjuk jalan, papan tulisan, dan bangunan kecil lainnya.

“Yang ditakutkan adalah ketika aset lenyap maka kerugiannya bisa miliaran. Sedangkan kami juga tidak bisa memprediksi kapan erupsi terjadi,” dalihnya.

Tak hanya fasum berupa bangunan yang tak mendapat perbaikan. Juga fasum berupa akses jalan. Mulai dari pintu masuk hingga tempat parkir terakhir, kondisinya masih sama seperti 10 tahun yang lalu.

Sebenarnya,  hal itu relatif merepotkan bagi pengunjung. Mereka tidak bisa langsung berkendara hingga dekat kawah. Pengunjung yang membawa kendaraan roda empat bahkan harus parkir sekitar tiga kilometer dari kawah. Selanjutnya mereka harus berjalan kaki bila ingin ke atas.

kelud-08

Memang, ada pilihan bagi yang tak mau lelah. Bisa menumpang ojek. Tarifnya, tentu saja tidak murah. Bagi wisatawan nusantara, harus membayar Rp 40 ribu. Sedangkan bila wisatawan asing tarif Rp 50 ribu. Itu untuk perjalanan pergi dan pulang.

Tak jauh berbeda bagi pengunjung yang mengendarai sepeda motor. Jarak antara tempat parkir terakhir dengan kawah sekitar 2 km. Jika ingin naik, mereka harus menyewa ojek. Dengan biaya yang sama dengan pengunjung roda empat.

Kalaupun ada perbaikan paling sering dilakukan adalah di akses jalan menuju Gunung Kelud. Lokasinya mulai dari Kecamatan Wates hingga pintu masuk Gunung Kelud. Tahun kemarin, Kementerian PUPR menggerojok anggaran senilai Rp 46,87 miliar. Perbaikan tersebut satu paket untuk ruas Margomulyo-Manggis-Ngancar-Sempu.

“Untuk akses jalan masih sering ada perbaikan. Yang tidak adalah di radius 2 km dari kawah,” pungkasnya.(karen wibi/fud)

 

.

Karen Wibi

Reporter

Press ESC to close