Saya sebetulnya, setengah percaya dan setengah tidak percaya dengan mitos ini: Siapa pun Presiden yang datang ke Kediri, bakal jatuh atau lengser. Buktinya, tak semua Presiden RI (berani) mengunjungi Kediri. Presiden Soeharto selama berkuasa, tak sekali pun pernah datang ke Kediri. Tiga presiden yang pernah berkunjung ke Kediri adalah Soekarno, BJ Habibie, dan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid). Dan, ketiganya sama-sama lengser dan dilengserkan. Karena mereka bertiga berani mengunjungi Kediri?
Tapi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah ke Kediri. Yakni saat mengunjungi korban letusan Gunung Kelud. Saat itu, Presiden berkunjung ke para pengungsi yang ada di Wates. Info yang beredar ketika itu, SBY tidak langsung ke Wates dengan menyeberangi Sungai Brantas. Tapi, dia memutar agar tak menyeberangi Sungai Brantas, dan hanya berkunjung di pinggiran Kediri saja. Apakah ini terkait dengan mitos tadi?
Bagaimana dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi)? Setahu saya, selama dua periode memimpin, belum pernah sekali pun Jokowi berkunjung ke Kediri. Apakah Jokowi percaya dengan mitos tersebut? Wallahu a’lam.
Menurut rencana, Bandara Dhoho bakal diresmikan Presiden Jokowi. Tapi, hingga kini, kapan hari H peresmiannya, masih belum jelas. Sebelumnya, kabar peresmian bandara baru itu sempat simpang siur. Pernah dikabarkan bakal diresmikan pertengahan Desember 2023. Mundur menjadi akhir Desember 2023. Mundur lagi, info yang bereda bakal diresmikan di bulan Januari. Tapi, hingga Januari berakhir, belum juga kunjung ada kepastian, hingga kini.
Ini rumor yang berkembang: Karena Presiden Jokowi baru berani datang ke Kediri setelah menunggu hasil Pilpres 14 Februari 2024. Siapa yang bakal menang? Apakah bisa satu putaran atau tidak?
Rumor lain menyebutkan, begitu pilpres berlangsung satu putaran, dan yang berhasil memenangi pilpres adalah pasangan calon (paslon) no 2 (Prabowo-Gibran), maka Presiden Jokowi akan segera meresmikan Bandara Dhoho bulan ini (Februari).
Sekali lagi, ini rumor. Namanya saja rumor. Bisa iya, bisa tidak. Dan Anda boleh percaya, boleh tidak.
Mitos adalah sebuah istilah yang berasal dari Bahasa Yunani “muthos” yang secara harfiah bermakna sebagai cerita atau sesuatu yang dikatakan orang. Dalam arti yang lebih luas bisa bermakna sebagai suatu pernyataan. Mitos juga dipadankan dengan kata mythology dalam Bahasa Inggris, yang memiliki arti sebagai suatu studi atas mitos atau isi mitos. Mitologi atau mitos merupakan kumpulan cerita tradisional yang biasanya diceritakan dari generasi ke generasi di suatu bangsa atau rumpun bangsa.
Mitos tentang Kediri, yang membuat tak semua pejabat termasuk presiden berani datang ke Kediri, berasal dari hikayat di zaman Kerajaan Kalingga (berpusat di Kediri). Sebuah riwayat menceritakan, penguasa Kerajaan Kalingga, yaitu Kartikea Singha, suami Ratu Shima, menyusun kitab yang berisi tentang hukum pidana, disebut dengan “Kalingga Darma Sastra” yang terdiri dari 119 pasal. Ini yang kemudian disebut-sebut sebagai kitab hukum pidana pertama di Nusantara. Ketika menyusun kitab tersebut, Kartikea Singha memberikan pernyataan yang banyak orang menyebutnya sebagai sebuah kutukan, yang jika diterjemahkan secara bebas: “Siapa kepala negara (yang memiliki jabatan tinggi) yang tidak suci benar masuk ke wilayah Kalingga (Kediri), maka akan jatuh”.
Kerajaan Kalingga di era Kartikea berada di abad 6 – 7 Masehi. Berarti, hingga kini sudah 15 – 16 abad berlalu, tapi masih saja ada yang percaya dengan mitos yang bersumber dari kutukan penguasa Kalingga?
Mitos memang “bermain” di wilayah keyakinan atau kepercayaan. Pada dasarnya, sangat sulit bagi kita memaksakan keyakinan atau kepercayaan kepada orang lain. Apalagi jika kepercayaan itu sudah turun temurun.
Di negara maju pun, mitos masih banyak yang percaya. Di Amerika Serikat, tepatnya di kawasan Bowling Green Park, dekat Wall Street di Manhattan, New York, terdapat patung Banteng. Warga di sana menjulukinya: “Banteng Wall Street”. Patung yang terbuat dari perunggu dan memiliki berat sekitar 3.200 kilogram itu, didesain oleh Arturo di Modica.
Patung Banteng itu merupakan simbol optimisme finansial dan kesejahteraan yang agresif, sesuai bentuknya, yaitu Banteng yang siap berlari. Mitos yang berkembang di sana, siapa yang mengusap tanduk, hidung dan bagian lain dari Banteng itu akan mendapatkan keberuntungan finansial. Patung Banteng itu merupakan salah satu ikon terpopuler di Kota New York. Para wisatawan yang datang ke sana, akan menyempatkan diri untuk mengusap patung tersebut. Karena percaya dengan mitos tadi.
Jika memang Presiden Jokowi (masih) percaya dengan mitos soal Kediri itu, itu haknya dia. Karena sekali lagi, ini soal kepercayaan dan keyakinan. Tapi, bagaimana jika akibat dari percaya dengan mitos, lalu membuat peresmian sebuah fasilitas publik (bandara) menjadi tidak pasti? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)
mad nawai nruk