Ketika Hobi Olahraga Bergeser Jadi Gaya Hidup Masyarakat Kediri - Rela Rogoh Jutaan demi ‘Keringat’

Olahraga bukan sekadar menjaga kebugaran tubuh saja. Melainkan sudah sudah bergeser menjadi gaya hidup. Tuntutan untuk tampil modis dan kekinian saat berolahraga membuat pelakunya rela merogoh kocek jutaan rupiah untuk mencari keringat.

Dua tahun terakhir, event olahraga di Kediri semakin masif. Mulai dari kegiatan run, tenis, padel, hingga minisoccer yang digelar oleh banyak penyelenggara. Tak sekadar olah tubuh, olahraga-olahraga tersebut jadi perhatian karena outfit yang dikenakan oleh peserta.

          Terutama event run atau berlari. Bukan hanya jersey dan sepatu pelari saja yang jadi perhatian. Namun, beberapa aksesori di rambut, tangan, dan kaki sering mengundang decak kagum. Selain warna yang mencolok, harga outfit mereka bikin geleng-geleng kepala orang yang melihatnya.

Chevania Nirwana Wijaya, 16, salah satu penggemar olahraga lari dari Kota Kediri mengaku telah mengikuti 15 event tahun ini. Ada yang berlangsung di Kediri dan luar Kediri. Untuk biaya pendaftaran saja, tiap event butuh Rp 150-300 ribu. "Kalau ikut luar kota budget-nya sekitar satu juta,” kata gadis yang akrab disapa Cheva itu.

Tak hanya kebutuhan untuk biaya pendaftaran dan akomodasi, untuk bisa berlari dia juga harus membeli perlengkapan olahraga yang juga tidak murah. Misalnya, untuk sepatu saja dia butuh Rp 1-2 juta.

Selama 2026 ini dia sudah berbelanja lima pasang sepatu. Meski terhitung banyak, Cheva beralasan membeli karena benar-benar membutuhkannya.

Cheva mencontohkan, sepatu yang dipakai untuk lari di permukaan yang datar dan di gunung butuh spesifikasi yang berbeda. Karenanya dia harus membeli karena membutuhkan sepatu baru.

Apalagi, tahun ini dia mengikuti event trail run di Gunung Klotok, Kota Kediri. "Jadi memang (membeli, Red) sesuai kebutuhan aja," kata gadis yang sesekali juga berolahraga padel, bulu tangkis, dan gym itu.

          Tak cukup sepatu, dia juga masih harus merogoh koceknya untuk membeli jersey baru. Untuk merk lokal, budget-nya sekitar Rp 150-200 ribu. Demikian pula untuk celananya.

          Jika dihitung, total outfit olahraga Cheva bisa mencapai Rp 1 juta. "Tetapi nggak yang setiap bulan beli outfit," tekannya.

Senada dengan Cheva, Arin Shabrina, penghobi olahraga lari asal Kabupaten Kediri juga mengaku bisa menghabiskan uang jutaan rupiah untuk perlengkapan olahraga. Khususnya untuk kebutuhan sepatu. Dia menyebut, nominal yang dikeluarkan berkisar Rp 2,5 juta. Selain itu, dia juga menggunakan sportwatch yang harganya sekitar Rp 4 juta.

"Kalau untuk outfit, biasanya brand lokal kisaran Rp 150 - 400 ribu untuk satu jersey. Shortpants juga di kisaran segitu," sebutnya.

Baginya, olahraga merupakan sarana untuk stres rilis. Menjadi karyawan yang bekerja pukul 09-00-17.00, dia harus meluangkan waktu untuk berolahraga.

"Bugar itu bonus bagiku. That’s why aku pilih lari dan gym yang nggak menyita banyak waktu," tuturnya.

Selama 2026 ini, Arin mengaku sudah mengikuti beberapa event olahraga. Di antaranya, event road race dan dua event trail run. "Tahun lalu kayaknya ada lima sampai enam kali event, tambah satu event trail run," ingatnya.

          Meski harus merogoh koceknya lebih dalam, Arin berusaha untuk tidak terlalu boros saat berolahraga. Misalnya, dia tidak mengikuti event karena fear of missing out (FOMO). Selebihnya, dia juga berusaha untuk membeli perlengkapan olahraga yang original. "Beli karena butuh, bukan yang KW karena percuma beli bajakan dengan harga yang lebih murah tapi gampang rusak. Bukannya menghemat malah bikin boros," tegasnya.

Sementara itu, terkait tren olahraga yang mulai jadi gaya hidup masyarakat, Pengamat Ekonomi Ema Nurzainul Hakimah menyebut antusiasme masyarakat dalam olahraga sejatinya merupakan hal positif. Sebab, jadi indikasi masyarakat mulai peduli dengan kesehatannya.

"Namun perubahan life style itu kan bermacam-macam ya. Tendensi orang juga bermacam-macam, perilaku orang juga bermacam-macam. Kalau digarisbawahi apakah itu positif, kalau dihubungkan dengan hobi yang semakin baik, dengan berolahraga itu pasti positif," kata wanita yang akrab disapa Ema tersebut.

Namun, jika hobi olahraga disertai dengan perilaku lainnya, akan menjadi persoalan yang berbeda. Misalnya aktivitas ngopi sehabis olahraga. Menurutnya, perlu ditelaah terlebih dahulu apakah 'ngopi' itu memang merupakan gaya hidup dari seseorang. Ataukah perilaku anyar yang menyertai hobi olahraganya tersebut.

"Apakah itu kemudian menjadi negatif, kembali lagi ke orangnya. Jadi kalau individunya dipaksa untuk mengikuti itu, tidak sesuai dengan kemampuannya, tidak sesuai dengan gaya hidup dan daya beli yang dia miliki, kemampuan finansialnya, itu yang berbahaya. Tetapi kalau tidak ya aman-aman aja," bebernya.

Ema menegaskan, fenomena masyarakat yang makin menggandrungi olahraga bisa membawa dampak positif untuk ekonomi. Dari segi mikro, dia melihat ada potensi bisnis yang bisa kembangkan. Mulai dari usaha kuliner, fashion, fotografi, dan sebagainya.

"Kembali lagi, kalau sudah menjadi life style, orang itu butuh perfomance, butuh kenyamanan, butuh pengakuan. Nah, namanya kebutuhan itu, sampai di titik tertinggi adalah ketika manusia membutuhkan validasi, pengakuan, aktualisasi untuk dirinya, selama kebutuhan itu masih ada pada diri seseorang itu pasti akan berdampak positif untuk pelaku usaha yang lain, karena pasti ada hubungan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu," jelasnya.

Dari sisi makro, Ema juga menilai bahwa fenomena di atas bisa berdampak untuk perekonomian di suatu daerah. Menurutnya, sport tourism bisa berkembang karena munculnya kebutuhan-kebutuhan yang disebutkan sebelumnya.

Terakhir, wanita berhijab itu mengingatkan kembali agar setiap individu tetap bersikap rasional dalam keuangannya. Masyarakat, lanjut Ema, harus bisa melihat kemampuan finansialnya sebelum berbelanja untuk kebutuhan hobinya tersebut.

"Kalau sudah menjadi konsumerisme, hedonik, maka yang berpeluang itu adalah hazard, bukan lagi pada apa yang mereka butuhkan. Apakah dikatakan konsumtif atau tidak, tergantung individu masing-masing," tandasnya. 

 

Permintaan Tinggi, Omzet Naik Dua Kali Lipat

Tren olahraga yang kini digemari masyarakat turut berdampak pada sektor bisnis di Kediri. Terutama toko perlengkapan dan peralatan olahraga hingga bisnis apparel yang omzetnya naik hingga dua kali lipat.

Salah satunya gerai Rank Sports di Jalan Joyoboyo, Kota Kediri. Saat ada event lari di Kota Kediri, gerai mereka langsung diserbu pembeli. “Kemarin ada night run itu beberapa juga ada yang cari sepatunya ke sini," ungkap Zaki Nidri, manager Store Rank Sport.

Produk yang paling banyak dicari di tokonya adalah sepatu. Mayoritas sepatu running. Harga sepatu yang dicari berkisar antara Rp 600-700 ribu. "Omzet kotor tertinggi pernah sampai Rp 200 juta," ungkapnya.

Zaki meyakini, penjualan perlengkapan olahraga di tokonya masih bisa stabil. Pasalnya, dia melihat masyarakat masih antusias pada brand-brand tertentu. Sehingga, ketika ada produk baru, mereka pasti akan tetap membelinya. "Kami sebagai toko, ya kami memasarkan itu, seperti memberi tahu kelebihan produknya apa dan sebagainya," jelasnya.

Tren olahraga yang meningkat juga memberi efek tersendiri bagi salah satu apparel di Kota Kediri. Yaitu DNP Apparel. Vicky Estrada, sang pemilik usaha mengaku permintaan untuk apparel meningkat dua kali lipat dibanding tahun lalu.

"Tahun ini produksi di kisaran seratus sampai seratus lima puluh pieces per bulannya. Kalau tahun ini meningkat di kisaran tiga ratus sampai empat ratus pieces per bulan," beber Vicky.

Membuka bisnis apparel sejak 2018 silam, dia menyebut bahwa peningkatan permintaan secara signifikan baru terjadi pada tahun ini. Menurutnya, naiknya permintaan tak lepas dari banyaknya event olahraga. Sekaligus munculnya klub-klub olahraga baru.

Permintaan jersey juga datang dari berbagai macam olahraga. Mulai dari lari, bersepeda, minisoccer, futsal, padel, dan sebagainya. "Orderan tahun ini meningkatnya luar biasa," katanya bersyukur.

Seiring dengan naiknya permintaan, Vicky menyebut bahwa pesaing bisnis juga mulai bermunculan. Mereka datang dengan penawaran-penawaran yang bermacam-macam. Membuat persaingan usaha di dunia apparel semakin ketat. Baik dari segi harga maupun kualitas produk. "Semakin besarnya peluang bisnis, pasti kompetitor juga semakin banyak," tuturnya.

Dia bersyukur, permintaan produk masih menunjukkan tren positif. Vicky pun optimistis bahwa bisnis di bidang apparel masih terus berkembang. "Ada permintaan untuk kebutuhan gathering juga. Jadi dari kitanya juga harus ikuti perkembangannya, adaptasi dengan kebutuhan masyarakat," tandasnya. (emilia susanti/ut)

.

Andhika Attar

Editor

Press ESC to close