Pertalite sulit didapat dalam dua pekan terakhir. Banyak SPBU yang kekurangan stok ketika masyarakat membutuhkan. Akibatnya, antrean panjang tak terelakkan, terutama ketika kiriman baru datang.
Dua pekan ini menjadi waktu yang menyebalkan bagi Fitri. Warga Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri ini kerap kecele ketika mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Niatnya membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite kerap diurungkan. Gantinya, dia terpaksa membeli jenis Pertamax yang lebih mahal.
Dalam seminggu wanita ini bisa menyambangi pom bensin-sebutan lain SPBU-sebanyak tiga kali. Estimasinya, uang yang dia keluarkan sebanyak Rp 75 ribu. Tapi, itu bila yang terbeli adalah pertalite. Jenis BBM RON 90 itu masuk kategori BBM penugasan-yang diberikan kompensasi Pemerintah sehingga harganya lebih murah.
“Sekarang jadi sering beli Pertamax. Pertalite sering kosong,” keluhnya.
Demi mengejar bensin murah Fitri pun rela antre tengah malam. Ketika droping BBM baru datang di SPBU.
“Waktu pulang kerja jam sepuluh malam, lewat kok ramai. Ternyata Pertalitenya baru ada. (Jadinya) ikut antre sampai setengah dua belas malam,” ceritanya.
Bagi ibu dua anak ini, antre seperti itu lebih mending. Dibandingkan dia harus keluar uang lebih banyak.
“Ekonomi sedang sulit sekarang ini. Lebih baik keluar tenaga dibanding uang,” akunya.
Hal serupa dialami Dewanti Widya, 26. Warga Banjaran, Kota Kediri ini bahkan berkeliling ke SPBU-SPBU pada pukul 22.00.
“Baru dapat di sini, itupun antrenya panjang sekali,” keluhnya.
Sedikit beda dengan yang dialami Aprilia. Perempuan 30 tahun ini seringkali beli Pertamax turbo yang harganya lebih mahal lagi. Sebab, dua jenis di bawahnya, Pertalite dan Pertamax sering kosong. Padahal, rumahnya di tengah kota.
Seperti Senin (19/10) lalu. Dia datang ke SPBU di Jalan Joyoboyo siang hari. Tapi, Pertalite dan Pertamax kosong. Adanya hanya yang Turbo. Ketika dia geser ke tempat lain situasinya sama saja.
Dia kerap enggan antre. Alasannya, jadwal kerjanya padat. Bila harus antre tenaga dan waktunya tak cukup. “Ujung-ujungnya masyarakat seperti kami yang sengsara,” gerutunya.
Memang, fakta di lapangan, stok BBM di kota maupun Kabupaten Kediri sering kosong dalam dua minggu terakhir. Terutama yang jenis Pertalite. Contohnya Jumat (16/10), tiga SPBU di tengah kota kosong Pertalitenya. Kemudian pada Senin (19/10) beberapa SPBU memasang tulisan ‘stok dalam pengiriman’. Mulai dari SPBU Tempurejo hingga SPBU GOR Joyoboyo.
“Memang sering kosong. Sudah hampir dua minggu terakhir ini,” terang Ton petugas salah satu SPBU di Kecamatan Kota itu.
Biasanya, stok Pertamax yang lebih dulu kosong. Membuat pembelinya membeli jenis Pertalite. Sementara pengiriman BBM juga sering terlambat. Ini membuat stok bisa habis dalam waktu bersamaan.
Menurut petugas SPBU itu, permintaan Pertalite meningkat tajam dibanding biasanya. Bisa sampai 12 persen. Kemungkinan, warga mengejar yang harganya murah.
Apakah pasokan berkurang? Pria asal Kecamatan Mojoroto ini enggan menjawab.
“Kurang tahu (soal pengurangan kiriman). Yang jelas kami sering kehabisan. Kalau normalnya biasanya pasokan ada 8.000 sampai 16.000 liter per hari. Belum sampai habis stok besok paginya sudah dikirim. Sekarang baru setengah hari sudah habis. Stok datang beberapa jam kemudian,” terangnya.
Din, 38, petugas SPBU yang ada di Kecamatan Pesantren mengakui ada pengurangan pasokan. Bahkan hingga 50 persen. “Kalau angka pastinya saya kurang tahu. Tapi memang sampai setengahnya. Umumnya SPBU pasokannya maksimal 16 ribu liter per hari. Sekarang baru setengah hari sudah habis,” akunya.
Apalagi pengiriman sering terlambat. Membuatnya sering kebingungan ketika ada pelanggan yang bertanya.
“Yang pasti kami diminta untuk menyampaikan bahwa stok aman. Agar masyarakat tidak panic buying,” bebernya.
Indikasi pengurangan pasokan bisa dilihat dari intensitas truk tangki BBM yang datang ke SPBU. Menurut sumber Jawa Pos Radar Kediri, biasanya setiap SPBU kedatangan truk tangki denga nisi 8 ribu liter setiap satu hari. Kini truk yang sama datang dua hari sekali. Misal, senin pagi sudah dikirim, datang lagi selasa malam atau rabu pagi.
“Makanya sering ada papan tulisan sedang dalam pengiriman. Karena kami pun juga tidak tahu kapan tibanya. Bisa dalam hari yang sama atau bahkan keesokan harinya,” ujarnya sambil senyum.
Sering terlambatnya pengiriman itu menjadikan penjualan Pertamax naik dua kali lipat. Seperti di SPBU yang ada di Kecamatan Mojoroto ini. Mereka biasanya menjual 3 ribu liter sehari. Kini, sejak Pertalite sulit, penjualan bisa 7 ribu liter dalam sehari.
“Masyarakat terpaksa beli Pertamax karena tahu di tempat lain juga habis,” kata Tar, petugas SPBU tersebut.
Benarkah pasokan Pertalite dikurangi? Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus Ahad Rahedi menolak tudingan itu. Dia berdalih saat ini yang terjadi adalah keterlambatan pengiriman BBM. Membuat antrean pembeli di SPBU wilayah kota dan kabupaten Kediri terjadi karena peningkatan permintaan.
“Peningkatan permintaan, untuk supply normal,” kata Ahad melalui pesan tertulisnya Senin (19/10).
Kendati demikian, dia menolak menyebutkan angka kenaikan konsumsi BBM di Kota dan Kabupaten Kediri. Ahad mengeklaim Pertamina Patra Niaga memiliki stok yang aman.Baik di kapal tanker maupun di terminal. Sehingga tidak ada pengurangan pasokan di SPBU.
“Masyarakat agar tetap tenang, bijak dalam memilih dan memilah informasi yang beredar. Bijak dalam menggunakan energi sesuai kewajaran dan kebutuhan,” pungkasnya. (hilda nurmala risani/himalaya azzahra/fud)
Mahfud