Catatan Awal Pekan: (Mimpi) Brantas Waterfront City

Sejak bertugas di Kediri lima tahun lalu, ada satu objek yang membuat saya terusik hingga kini. Yakni Sungai Brantas yang mengalir, tepat membelah jantung Kota Kediri. Pemkot Kediri mencatat, Sungai Brantas melintasi wilayah kota sepanjang tujuh kilometer. Dan ini adalah aset alam yang tidak dimiliki banyak kota lain. Yang membuat saya terusik, karena aset alam itu sejauh ini belum termanfaatkan secara maksimal.

Pencopotan Purbaya, Antara  Etika dan Kekuasaan

Bayangkan, jika Anda dalam posisi Purbaya Yudhi Sadewa, ketika sebagai Menteri Keuangan, sedang mengikuti rapat penting bersama DPD RI, tiba-tiba di tengah rapat itu, ditelepon oleh Menteri Sekretaris Negara, dan diberitahukan melalui telepon, bahwa dia sudah diberhentikan sebagai Menteri Keuangan. Jika saya dalam posisi seperti Purbaya, tentu saya kecewa. Bukan semata-mata karena diberhentikan, tapi lebih pada cara memberhentikannya.

Memermak Wisata Kelud, Bagaimana Seharusnya?

Saya mengapresiasi Pemkab Kediri yang sejak tahun lalu dan berjalan hingga tahun ini mulai memermak kawasan wisata di Gunung Kelud. Di antaranya pengecoran jalan menuju puncak Kelud  sepanjang 243 meter dengan lebar 6 meter, pemasangan paving, hingga rencana pembangunan toilet terpadu serta kios food court di puncak. Ini adalah deretan intervensi fisik yang nyata. Sebagai orang yang sudah beberapa kali mengunjungi Gunung Kelud, kawasan wisata itu menurut saya adalah gambaran sebuah paradoks yang anggun. Satu sisi, menunjukkan keliarannya, yang menyimpan potensi kehancuran raksasa. Namun, di sisi lain, kawasan itu memancarkan pesona alam yang tiada duanya. Kawahnya yang ikonik, adalah mahakarya alam yang selalu berhasil memikat siapa saja. Namun, sejujurnya, mengamati dinamika pariwisata di Kelud dari waktu ke waktu, seringkali menyisakan pertanyaan mendasar: “Mengapa destinasi sekelas dan seindah Kelud ini seolah berjalan di tempat, seakan berjalan tertatih merespona zaman?”.

Ketika Bandara Dhoho Dikelola Penuh Swasta

Sebuah transformasi besar terjadi di Bandara Dhoho Kediri. Per 1 Oktober 2026, bandara tersebut sudah sepenuhnya dikelola oleh swasta, dalam hal ini PT Surya Dhoho Investama (PT SDhI). Sebelumnya, pengelolaan dilakukan melalui Kerjasama Operasi (KSO) antara PT SDhI dan Angkasa Pura Indonesia. Bagaimana kira-kira masa depan Bandara Dhoho setelah benar-benar dikelola swasta? Dalam perspektif ekonomi, bisa jadi nanti orientasinya akan menjadi lebih komersial. Keputusan bisnis yang dibuat, akan menjadi lebih cepat. Operator swasta tidak hanya berpikir “Berapa penumpang pesawat tahun ini?”. Tetapi juga berpikir “Bagaimana caranya agar setiap penumpang menciptakan economic value?”. Ini lah yang dalam industri bandara disebut “non-aeronautical revenue”. Bahwa pendapatan bandara modern itu tidak hanya berasal dari landing fee atau passenger service charge. Di dalam ekosistem bandara ada retail, restoran, coffe shop, hotel, parkir, advertising, lounge, cargo, logistic, pergudangan, commercial property, event, transportasi lanjutan, dan berbagai layanan digital.