KABUPATEN, JP Radar Kediri- Hujan deras yang mengguyur Bumi Panjalu sejak Minggu pagi membuat tebing di Dusun Petungsewu, Desa Jugo, Mojo ambrol. Akibatnya, jalur menuju wisata Air Terjun Dolo itu tertutup material longsoran. Tidak hanya itu, dua warga yang berada di bawah tebing mengalami luka-luka karena bangunan tersebut tertimpa pohon.
Adalah Sayekti, 36, dan Bambang Hermanto, 40, pasangan suami istri asal Dusun Besuki, Desa Jugo, Mojo yang ikut menjadi korban bencana longsor. Sekitar pukul 17.00 Minggu (3/3) sore lalu, keduanya sedang berada di rumah Wiwit Kurniawan, 36, untuk kulakan durian.
Belum sempat mengangkut durian yang sudah dipilih, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh dari bagian atas tebing. Hanya dalam hitungan detik kemudian, material tanah liat dan bebatuan menutup jalan. Kemudian, gemeretak suara akar pohon pinus menyusul kemudian. “Kretek-kretek seperti akar putus, setelah itu tujuh pohon pinus ambruk dan menimpa rumah,” kenang Sayekti kepada koran ini.
Setelah melihat tebing setinggi 15 meter di depannya longsor, Sayekti menghentikan aktivitasnya. Dia juga mengajak Bambang, suaminya, untuk berlari menghindari bencana. Nahas, langkah kaki mereka kalah cepat dengan jatuhnya pohon. “Baru beberapa langkah sudah tidak bisa lari lagi karena sudah tertutup pepohonan (yang ambruk, Red),” tutur Sayekti.
Dia pun hanya bisa pasrah ketika dahi dan bahu kirinya tertimpa dahan yang ambruk. Demikian pula Bambang yang bahu kirinya juga tertimpa dahan pohon. Meski sepintas keduanya hanya mengalami luka ringan, namun bahu Bambang langsung bengkak dan tidak bisa digerakkan.
“Saya ndredek, kepikiran juga karena di dalam ada anak saya,” terangnya sembari menyebut dirinya langsung berlari ke rumah Wiwit untuk mengecek kondisi anaknya. Dia langsung lega melihat anaknya dan Wiwit yang berada di bagian belakang rumah dalam kondisi aman. Reruntuhan pohon hanya mengenai rumah bagian depan saja.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri sekitar pukul 13.00 kemarin, jalur Dolo sudah dibuka lagi. Namun, sisa tumpukan material longsor masih terlihat menumpuk di sisi kiri jalan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno yang dikonfirmasi terkait peristiwa longsor di lereng gunung Wilis itu mengatakan, sekitar pukul 18.25 Minggu (3/3) malam lalu timnya sudah berada di lokasi. “Sekitar pukul 20.00 (3/3) jalan sudah bisa dilintasi kendaraan roda empat,” terang Djoko.
Kepala Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Pojok Suwoto menambahkan, perhutani bersama warga, muspika, LMDH dan BPBD bergotong royong melakukan penanganan longsor pada Minggu malam lalu secara manual. Selebihnya, perhutani menunggu alat berat dari dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR) untuk merapikan tebing yang baru saja longsor. “Sudah bisa dilewati setelah penanganan manual. Nanti (hari ini, Red) dilanjutkan penanganan dengan alat berat,” paparnya. (sad/ut)
Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi