Desain bangunan Masjid Jami Imam Baidhowi di Desa Langenharjo, Plemahan tampak megah. Arsitektur bangunan masjid ini terinspirasi oleh Masjid Nabawi yang terletak di Madinah, Arab Saudi. Mulai dari motif ornamen, payung-payung elektronik, hingga pohon-pohon kurma yang ditanam di halaman masjid.
-------------------------------
Begitu masuk ke area masjid ini, kita akan disambut oleh 18 pohon kurma. Ditanam rapi di halaman depan. Meski pohon-pohon tersebut belum terlalu tinggi, suasana terasa seperti di Tanah Suci.
Luas tanah area masjid ini mencapai 3.200 meter. Sedangkan luas bangunannya adalah 16x23 meter persegi. Sedangkan menara di sana memiliki tinggi 33 meter. Dengan lebar bangunan luar menara 6,5 meter dan lebar dalamnya 4 meter. “Masjid ini dibangun pada Januari 2022,” ujar Sugiono, 60, selaku takmir masjid.
Di masjid ini terdapat lima pasang pintu. Yang memiliki ukiran modern yang terbuat dari bahan tembaga dan kuningan. Beberapa bagian dinding masjid dilapisi dengan marmer bakar dan batu granit. Untuk bagian lantainya berbahan marmer dan juga batu andesit. “Pintu-pintu masjid dan menara itu dipesan langsung dari Boyolali,” ungkap ayah dari empat anak itu.
Tak hanya itu, bagian mimbar dan mihrab terbuat dari kayu jati asli Jepara. Dan di bagian dalam masjid juga terdapat sebuah lampu gantung modern dengan diameter 4 meter. “Untuk bagian dalam, lantai masjid menggunakan lantai granit,” terang Sugiono.
Tiang-tiang masjid tampak megah dengan tampilan warna yang netral dan serba putih. Ditambah dengan ornamen yang indah. Pada bagian timur masjid terdapat sebuah lorong pergola. Lorong tersebut berbentuk letter L. Untuk jalan menuju masjid setelah melakukan aktivitas di toilet.
Kemegahan desain bangunan Masjid Jami Imam Baidhowi ini juga karena adanya payung-payung elektrik. Seperti Masjid Nabawi di Madinah, terdapat payung-payung elektrik yang mekar saat pagi hingga sore hari. Namun berbeda dengan tiang-tiang payung di Masjid Nabawi yang dilengkapi dengan kipas semprot.
“Payung-payung elektrik ini akan terbuka pukul 05.30 WIB sampai pukul 16.30 WIB,” terang Sugiono.
Adanya payung-payung itu bermanfaat sekali untuk berteduh. Bentangan payung elektrik tersebut mencapai 8 meter persegi. Bahannya terbuat dari kain membran. Area utara masjid, selain terdapat payung elektrik, juga terdapat tempat duduk memanjang yang lebar. Yang terbuat dari kayu.
“Bagus. Bersih, nyaman, dan unik bisa membawakan suasana seperti di Arab Saudi,” ujar Tamamah, 21, musafir asal Cirebon yang kebetulan mampir ke Masjid Jami Imam Baidhowi. (via/tar)