Jangan menyebut penyuka rujak cingur bila belum merasakan yang satu ini. Berlokasi di trotoar Jalan Dhoho, rujak racikan khas Madura ini bisa bikin ketagihan. Sampai-sampai, pembelinya pun rela antre duduk-duduk di tangga toko.

SELALU RAMAI: Fatimah meracik rujak ditunggui pembeli yang antre.
Berbagai literasi memang menyebut rujak cingur makanan khas Surabaya. Ada pula yang menyebut berasal dari Malang. Toh, nyaris di semua tempat di Jawa Timur makanan ini juga dijajakan. Termasuk di Kota Kediri.
Salah satu penjual rujak cingur yang terkenal adalah Fatimah. Wanita asal Bangkalan, Madura, yang berusia 54 tahun ini tidak menjajakan makanan buatannya itu di warung khusus. Hanya di trotoar jalan. Tepat di depan dealer sepeda motor di Jalan Dhoho.
Toh, penyukanya sangat banyak. Demi mendapatkan satu pincuk rujak bikinan Fatimah ini, mereka pun rela antre. Nah, karena tidak ada tempat khusus, pembeli itu harus duduk di emperan toko.
Lalu, apa yang khas dari rujak cingur Fatimah ini? Tentu saja, sesuai namanya, racikan rujak ulek ini dilengkapi dengan cingur. Rasanya, kenyal dan nikmat.
“Cingur ini bagian dari mulut sapi. Sebelum disajikan bersama rujak direbus dulu sampai matang dan kenyal,” ucap Fatimah, sembari tangannya sibuk ngulek.

Beda yang lain, adalah penyajiannya. Fatimah tak menyiapkan piring untuk olahan rujaknya. Namun, ditempatkan di pincuk yang terbuat dari daun pisang. Nah, karena beralaskan daun pisang, rujak yang sudah segar itu terasa kian fresh. Apalagi ketika dinikmati sambil lesehan atau duduk-duduk di trotoar. Kian terasa sensasinya.
Soal penyuka racikan rujak ulek Fatimah, jangan ditanya. Apalagi bila weekend, wanita ini harus membuat ratusan pincuk. Sabtu (26/3) misalnya. Baru dua jam buka, dia sudah melayani 100 pincuk! Padahal, Fatimah biasa membuka lapaknya hingga pukul 16.00!
“Setiap hari buka mulai jam sembilan,” ucap sang penjual sembari tangannya sibuk mencari bumbu untuk melengkapi pesanan seorang konsumen.
Apalagi, bila dibandingkan dengan rasanya, harga sepincuk rujak cingur Fatimah tak terlalu mahal. Kita cukup merogoh Rp 15 ribu untuk satu pincuk.

Maka, wajar bila para pelanggan rela menunggu untuk sekadar mendapatkan pesanannya. Waktu yang digunakan untuk menunggu itu terbayar ketika mendapat giliran. Bagi yang ingin makan di tempat, ada sensasi menikmati rujak uleg ini di pinggir jalan. Sembari menikmati hilir mudik kendaraan yang memadati Jalan Dhoho.
Salah satu pelanggan Fatimah adalah Daryono. Pria asal Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini menyebut, rujak cingur Fatimah adalah langganannya. Terutama sang istri, yang hanya mau rujak yang dijual di emperan toko Jalan Dhoho ini.
“Ini tadi saya diminta istri saya yang ngidam untuk beli rujak di sini,” ujarnya.
Menurut Daryono, rujak uleg Fatimah punya rasa yang khas. Aroma bumbunya juga terasa berbeda bila dibandingkan rujak yang lain. Karena itulah bikin dia dan istrinya ketagihan. (ara/fud)