Kisah Totok Koerniawan, Pendonor Terbanyak dan Termuda di Kabupaten Kediri. Nama Totok Koerniawan terkenal di kalangan pendonor darah. Pasalnya, dia tercatat sudah ratusan kali menjadi pendonor. Total, dia sudah 110 kali mendonorkan darahnya.
ASAD M. S., Kabupaten JP Radar Kediri
Siang itu, Totok Koerniawan tidak banyak kesibukan. Duduk santai di kedai sembari menikmati secangkir kopi. Aromanya menyeruak ketika dia mengaduk perlahan kopi tersebut. Totok memang cinta dengan kopi. Itu juga yang membuatnya mendirikan kedai kopi di Jalan Umar 89, Gedangsewu, Pare.
Sembari menunggu kopinya dingin, Totok memulai ceritanya. Tak banyak yang tahu, dia banyak berjasa membantu orang lain. Bukan sekadar materi atau harta. Namun, jauh dari itu. Dia banyak berjasa karena darahnya. Ya, dia merupakan pendonor aktif di Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kediri.
Bukan pendonor sembarangan. Tercatat, dia sudah 110 kali mendonorkan darahnya. Aksi Totok ini sampai diganjar beberapa penghargaan. Buah dari dedikasi dan konsistensinya. Lebih hebat lagi, dia mencapai jumlah tersebut dengan usia masih 44 tahun. Menjadi pendonor yang termuda. Karena rata-rata yang lain sudah 50 tahun ke atas.
“Saya mulai menjadi donor darah sejak kelas 2 SMA,” ujarnya sambil mengambil gelas kopinya.
Kala itu dia masih berusia 17 tahun. Mengaku terinspirasi dari ayah sahabatnya. Totok penasaran rasanya menjadi seorang pendonor darah. “Kata ayah sahabat saya, setelah donor itu rasanya seger. Kayak lebih fresh gitu,” aku alumnus SMAN 2 Pare itu.
Awalnya dia tidak percaya. Namun, rasa penasarannya lebih besar. Hingga akhirnya dia memutuskan mendonorkan darahnya. Pengalaman pertamanya tersebut sangat membekas. Pasalnya, bisa dibilang kurang berjalan mulus. Bagaimana tidak, dia sampai harus melewati tujuh kali melakukan percobaan. “Petugasnya juga sampai heran,” kenangnya.
Dan benar saja. Dia justru merasa badannya lebih terasa segar. Totok akhirnya percaya dengan perkataan ayah sahabatnya tersebut. Dari situ, dia mulai rutin mendonorkan darahnya. Setiap tiga bulan sekali.
Dia nyaris tidak pernah bolong menjadi pendonor. Totok hanya absen ketika terkena demam berdarah. Bahkan sampai harus opname saat kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kondisinya kala itu memang tidak memungkinkan. Mau tidak mau, dia terpaksa menunda dahulu.
Saking terobsesi, dia tidak memandang tempat untuk mendonorkan darah. Tidak hanya di Kabupaten Kediri saja. Saat kuliah maupun kerja di luar kota, Totok tetap melakukan kebiasannya itu. Selama waktu donor sudah memenuhi syarat. “Saya selalu membawa kartu donor. Jadi bisa mendonor di mana saja,” akunya.
Uniknya, Totok sebenarnya takut disuntik. Dia selalu menolak untuk disuntik saat sedang sakit. Dia tak pernah mau saat dokter menawarkan suntik di pantat. Namun, hal itu tidak berlaku saat dia menjadi pendonor. Seluruh ketakutannya seakan sirna. Pasalnya, dia meniatkannya untuk ibadah. Donor darah menjadi ladangnya untuk beramal dan membantu sesama. (tar)
Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi