Meskipun amatir, Lukman Soleh menggeluti olahraga bersepeda sejak lama. Kesibukan kerjanya sehari-hari pun tak memengaruhi aktivitas olahraga yang dia geluti itu. Namun, tantangannya di Kediri berganti dari medan menanjak menjadi cuaca panas.
KAREN WIBI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Hari beranjak sore. Sinar matahari pun meredup. Suasana Bandara Dhoho juga mulai sepi dari pengunjung yang padat sejak pagi. Termasuk pula di kantor Stasiun Meteorologi Kelas III Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandara Dhoho. Kantor yang jadi satu dengan air traffic control (ATC) tersebut, dari luar, terlihat sepi.
Tapi, sepi seperti itu ternyata hanya di luaran saja. Di dalam stasiun, kesibukan masih terasa. Terutama di ruang pantau yang berada di bagian selatan. Empat petugas wajahnya tak berpaling dari layar komputer.
Salah satu dari empat orang itu terlihat paling mencolok. Tingginya yang mencapai 180 sentimeter menjadi sebabnya. Pun, rambutnya yang nyaris memutih semuanya. Pria ini adalah Lukman Soleh. Sehari-hari dia adalah kepala Stasiun Meteorologi Kelas III BMKG Dhoho.
“Walaupun bandara belum beroperasi saya sudah di sini sejak November (tahun) lalu,” ujarnya lirih.
Lukman bercerita, beberapa minggu terakhir adalah hari yang sibuk baginya. Stasiun baru saja beroperasi. Banyak hal yang harus diurus. Namun di sela-sela kesibukannya, Lukman tak lupa untuk berolahraga.
Ya, Lukman adalah seorang atlet. Meski di level amatir dia sudah bergelut di dunia olahraga sejak muda. Bahkan, banyak cabang olahraga (cabor) yang dia geluti. Namun sejak 2017 dia memutuskan menjadi atlet sepeda. Tahun ketika dia menggeluti dunia mountain bike (MTB).
Tapi, pilihannya pada MTB tak berjalan lama. Pada 2021 pilihannya bergeser. Jatuh hati pada roadbike. Nyaris setiap hari dia meluangkan waktu untuk bersepeda. Dengan tujuan untuk melatih skill-nya.
“Dulu waktu dinas di dekat rumah Bogor sering banget sepedaan,” sambung bapak tiga anak ini.
Saat berlatih, Lukman tak mau melalui jalur yang pendek. Minimal 100 km. Tentu dengan rute yang bervariasi. Tidak hanya di jalan landai. Namun juga jalan yang menurun hingga menanjak tinggi.
Rute terjauh Lukman adalah bersepeda dengan jarak 188 km. Garis start di Bogor, lalu melewati Pelabuhan Ratu, hingga berakhir di Sukabumi.
“Waktu itu totalnya sembilan jam lebih sedikit,” sambungnya.
Namun, sejak pindah di Kediri, intensitas berlatihnya kian berkurang. Bisa sekali dalam seminggu sudah sangat disyukurinya. Dan untuk rutenya bervariasi.
Karena berkantor di area bandara, Lukman sering keliling di sekitar bandara. Tentu tidak ingin yang rute pendek. Sekitar 40 hingga 100 km. Sedangkan di Kediri, jalur terjauhnya masih sekitar 120 km. Yaitu mulai dari Kediri hingga ke Blitar lalu kembali ke Kediri.
Menurut Lukman, bersepeda di Kediri memiliki tantangan yang berbeda. Tidak seperti ketika dirinya sering bersepeda di Bogor, kampung halamannya. Di Kediri cuaca lebih panas. Membuat bersepeda 50 km hingga 100 km sudah membuatnya ngos-ngosan.
“Kalau di Bogor tantangannya jalanan menanjak. Kalau di Kediri ya cuaca panas,” tandasnya. (fud)
Karen Wibi