Sunandar, Inisiator Kebun Hidroponik yang Kini Sering Jadi Rujukan, Melon ageumnya Super Manis

Memulai berkebun melon hidroponik bermodal dengkul, memberdayakan kelompok pengajian. Kini, tak hanya punya banyak greenhouse, kebun miliknya jadi rujukan banyak sekolah dan kampus. Serta, berhasil mengembangkan varietas baru.

KAREN WIBI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Belasan remaja berada di dalam salah satu greenhous yang ada di Desa Tertek, Kecamatan Pare itu. Melihat-lihat deretan buah melon yang batangnya tertanam tidak di tanah ataupun polybag berisi media tanam padat. Melainkan di pipa paralon panjang yang teraliri air.

Remaja yang semuanya perempuan itu adalah mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi di Kediri. Mereka, saat itu, tengah mengikuti program magang di tempat berlabel Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Hikmah Farm Kediri. Lembaga pelatihan sekaligus kebun pertanian yang memfokuskan diri pada pengembangan pertanian hidroponik bersistem nutrient film technique (NFT).

Sejurus kemudian, datang seorang lelaki dengan mengendarai sepeda motor matic warna hitam. Berpakaian khas Kediri, Wdihan Kadiri, dia segera menuju greenhouse yang di dalamnya sudah ada kelompok mahasiswa itu.

Tempat ini berdiri sejak Juni 2019," terang pria bernama Sunandar ini, setelah masuk ke rumah kaca berukuran 10x8 meter itu.

Dia kemudian memantau kondisi tanaman yang ada di dalam greenhouse. Sembari bercerita, bahwa fasilitas pertanian itu dibangun dengan modal dengkul, yang dananya nyaris nol rupiah.

Awalnya adalah dari kelompok pengajian yang dia ada di dalamnya. Anggotanya juga warga sekitar tempat tinggalnya. Sunandar, yang sehari-hari sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri, mencetuskan ide membuat usaha perkebunan hidroponik.

Anggota lain ternyata mengiyakan. Meskipun saat itu mereka tidak punya lahan dan modal.

“Akhirnya kami sewa lahan kosong. Murah saja, satu tahunnya Rp 500 ribu,” terang pria yang juga penyuluh pertanian untuk wilayah Desa Tertek dan Desa Tulungrejo, Kabupaten Kediri itu.

Tentu, merintis usaha adalah hal yang sulit. Terutama ketika hanya memiliki modal yang sangat sedikit. Tapi rezeki secara tiba-tiba mendatangi Sunandar. Pada medio 2021-2022, ketika pandemi sedang ganas-ganasnya, banyak yang tertarik dengan pertanian  hidroponik. Bukan hanya mencari hasilnya, juga belajar bercocok tanam hidroponik.

Sunandar pun kebanjiran pesanan instalasi bertanam hidroponik. Yang membuathkan keuntungan yang bisa untuk menyewa lebih banyak lahan. Kini, lembaganya sudah memiliki enam greenhouse dan beberapa kebun hidroponik biasa.

“Saya menyewa itu buat jadi contoh saja. Yaitu dengan modal minim kita masih bisa buat perkebunan hidroponik,” dalihnya.

Usaha yang dimiliki kelompok pimpinan Sunandar pun terus berkembang. HIngga akhirnya dia memutuskan menjadikan kebun miliknya menjadi P4S. Dengan alasan agar tempat usahanya jadi badan yang lebih legal.

Keputusan itu semakin menjadikan jalan kebunnya kian sukses. Dengan menjadi P4S, banyak sekolah hingga kampus yang menjalin kerjasama. Yaitu dengan menempatkan anak magang.

Sekolah dan kampus itu banyak yang tertarik dengan salah satu varietas melon yang dibudidayakan oleh Sunandar. Melon tersebut dinamai dengan nama Sageum. Akronim dari  kata dalam bahasa Jawa sak gegem, yang artinya satu kepal.

"Agar lebih terkesan modern," akunya.

Sesuai namanya, varietas ini  besarnya hanya sekepalan tangan. paling besar, masuk dalam grade A, hanya sekitar 500 gram. Namun, soal kemanisan, jenis ini tak kalah dengan varietas yang sudah mapan di pasaran saat ini.

"Kalau tingkat kemanisannya hingga 14 brix," sebut Sunandar, menyebut besaran satuan pengukur kemanisan buah.

Melon ini adalah pengembangan dari melon Alisa. Yang kandungan nutrisinya direkayasa. Hingga menjadikan buahnya kecil tapi punya tingkat kemanisan seperti itu.

Meskipun lebih banyak menanam melon, kebun hidroponik yang dikelola Sunandar ini juga mengembangkan jenis tanaman lain. Khususnya sayur mayur. Dari enam greenhouse yang mereka miliki, satu di antaranya khusus untuk menanam sayuran.(fud)

.

Karen Wibi

Reporter

Press ESC to close