Masjid An-Nur Pare, yang Tak Ingin Kehilangan Nuansa Jawa, Atap Piramidnya dari Kaca agar Bersinar seperti Namanya

Tak ada kubah pada atap masjid terbesar di Kabupaten Kediri ini. Gantinya, ada bangunan serupa piramid berjumlah 30. Piramid-piramid ini menyiratkan bahwa arsitektur masjid masih diwarnai budaya Jawa dengan joglonya.

-------------------------------------

Bila ternyata Masjid Agung An-Nur berdiri semegah seperti sekarang ini, itu bukan niatan sejak awal. Ketika dibangun pada 1975, masjid yang berada di Kecamatan Pare memiliki desain arsitektur yang sederhana. Ukurannya juga tak sebesar dan seluas sekarang.

“Masjid An-Nur dulu kecil. Tidak semegah seperti saat ini,” terang Ketua Takmir Masjid Agung An-Nur Pare KH Imam Sanusi.

Pria 78 tahun itu adalah salah seorang saksi sejarah berdirinya Masjid An-Nur sejak awal. Dulunya diniatkan sebagai pelengkap gedung Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Pare, yang lokasinya kini jadi pintu masuk area masjid.

Karena hanya sebagai pelengkap, masjid tidak dibangun dengan megah. Ukurannya pun tak lebih dari 10x10 meter. Tempatnya dulu berada kini menjadi lokasi menara Masjid An-Nur.

“Tapi sejak dulu namanya sudah An-Nur. Nur itu bukan hanya artinya cahaya, tapi juga diambil dari nama Kiai Nurwahid, yang mbabat alas Kecamatan Pare,” sambungnya.

Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri berencana merenovasi Masjid An-Nur. Membangunnya menjadi masjid terbesar di Kabupaten Kediri.

Renovasi itu berlangsung tiga tahap. Tahap pertama pada 1996 hingga 1998. Selama masa itu banyak hal yang dilakukan. Mulai dari penyusunan rencana, pengurukan tanah, pemancangan tiang pancang, hingga pembangunan pondasi.

Di pertengahan 1998 pembangunan berlanjut ke tahap dua. Namun baru beberapa bulan dikerjakan, proses pembangunan terhenti. Alasannya adalah krisis moneter yang sedang melanda Indonesia.

“Sebelum berhenti karena krisis moneter itu, bangunan utama masjid sudah berdiri,” tambahnya.

Pembangunan baru dilanjutkan pada 2000 hingga dua tahun. Progresnya yaitu untuk membangun bangunan tempat wudhu dan bangunan semi basement.

Sedangkan tahap ketiga dikerjakan mulai tahun 2002 hingga 2003. Untuk tahap akhir, pembangunan mengarah ke menara, landscape, dan bangunan penunjang lainnya.

“Setelah rampung di tahun 2003, pada tahun 2004 masjid diresmikan,” tambahnya.

Selain menjadi masjid terbesar di Kabupaten Kediri, Masjid An-Nur juga menjadi masjid dengan arsitektur unik. Salah satunya karena tak memiliki kubah. Atapnya tak dihias bangunan setengah bola itu, melainkan  piramid berbahan kaca. Bentuk ‘kubah’ piramid itu diketahui terinspirasi dari bangunan rumah joglo. Namun bagian atapnya dimodifikasi. Dibuat dengan lebih runcing.

Total ada dua piramid besar yang berada di Masjid An-Nur. Yaitu di bangunan utama dan di serambi masjid. Namun piramid di bagian serambi bukan piramid sempurna. Bentuknya memanjang ke arah timur. Lalu ada piramid yang lebih kecil sebagai ornamen di bagian kiri-kanan masjid. Dengan jumlah masing-masing 14.

“Piramid-piramid tersebut dibangun dari kaca. Agar bisa bersinar, seperti namanya Nur yang artinya cahaya,” sambungnya.

Selain bangunan masjid, An-Nur juga memiliki bangunan pendamping lainnya. Seperti menara yang berfungsi sebagai tempat alat pengeras suara. Lokasinya berada arah timur laut, di bagian depan masjid. “Tingginya menara itu 63 meter. Itu diambil dari usia Rasulullah ketika meninggal dunia,” tambahnya.

Lalu juga ada gedung KUA Kecamatan Pare yang berada di sebelah selatan. Juga ada area kantor untuk pengurus masjid yang berada di basement sebelah barat masjid.

Lebih lanjut, sejak diresmikan pada 2004 lalu, Masjid An-Nur hanya mengalami satu perubahan. Yaitu dulu, di depan masjid, terdapat kolam ikan. Namun karena sering bocor, kolam tersebut lalu direnovasi. Kini kolam tersebut berubah menjadi kebun kurma. (karen wibi/fud).

 

.

Karen Wibi

Reporter

Press ESC to close