Maulida Faiza, Bocah Kediri yang Wakili Jatim di Ajang MTQ Nasional

Setiap mengikuti lomba qiraah, orang tuanya selalu menekankan bukan mencari  kemenangan. Melainkan mencari berkah dari ayat-ayat suci tersebut. Jika kemudian keberhasilan selalu menyertai, kemampuan Maulida memang luar biasa. 

---------------------------------------

Namanya tergolong panjang. Maulida Faiza Kulla Azmina. Tapi, bocah berusia 11 tahun ini biasa dipanggil dengan nama depannya, Maulida.

Gadis cilik yang duduk di kelas empat Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nidhomiyah Canggu ini juga bukanlah anak yang ekspresif. Lebih banyak diam ketika diwawancarai. Hanya sesekali saja senyumnya mengembang. Bila wartawan koran ini mengajukan pertanyaan, dia lebih banyak tersipu malu. Menjawab dengan suara yang sangat lirih. Yang hanya bisa dipahami oleh sang ibu, Binti Khoirun Nadhifah, yang duduk di sampingnya.

“Cita-citanya jadi guru qiraah,” ucap sang ibu, meneruskan jawaban Maulida yang nyaris tak terdengar.

Bila menilik prestasinya saat ini, impian masa depan sang bocah ini sangat mungkin tercapai. Bagaimana tidak, di usianya yang masih belia, suara merdunya saat melafalkan ayat Alquran sudah bisa menyihir siapapun yang mendengar. Intonasinya tegas. Pengucapannya pun fasih. Apalagi cengkok lagunya, sangat menghipnotis. Satu bakat yang tidak dimiliki sembarangan orang.

Bila sedang melantunkan ayat suci Alquran, tidak akan terlihat sosok pendiam pada diri Maulida. “Anaknya memang pendiam begini. Tapi kalau sama teman-temannya ya tidak,” terang wanita yang sehari-hari dipanggil Nadhif ini.

Duduk di ruang tamu di rumahnya, di Desa Canggu, Kecamatan Badas, Nadhif bercerita awal mula Maulida piawai dalam qiraah. Itu dimulai ketika sang bocah masih berusia tiga tahun. Dia sering mendengar sang ayah, Imam Masrur, membaca Alquran. Kebetulan, Imam Masrur pernah menjai juara qiraah di level Kabupaten Kediri.

“Jadi, (awalnya) dengar dari ayahnya. Dari situ sudah kelihatan bisa cengkok-cengkoknya. Padahal belum bisa baca Alquran waktu itu,” kenang wabuta 38 tahun ini.

Selain terbiasa mendengarkan qiraah sang ayah, kemampuan Maulida juga ditopang sikapnya yang penurut. Ketika orang tuanya membiasakan berlatih setelah Maghrib, sang anak sangat patuh. Membuat kemampuannya sudah menonjol ketika masuk usia taman kanak-kanak (TK).

Saat TK itu adalah penampilan perdana Maulida menunjukkan kemampuan qiraahnya. Meskipun, tidak dilalui dengan mulus ketika tampil di muka umum.

“Dulu pertama tampil itu nggak bunyi anaknya. Diam saja. Jadi saya ya harus mendampingi di sampingnya. Terus gurunya itu juga memanggil murid lainnya buat nemenin,” kenang Nadhif.

Pengalaman pertama itu pun menjadi awal bagi Maulida menjajal tampil di depan umum. Setelahnya, gadis itu mulai terbiasa. Hingga akhirnya memulai perlombaan pertamanya pada kelas 2 MI. Dia melesat menjadi juara pekan olahraga dan seni (porseni). Kemudian, dia melanjutkan prestasinya pada ajang yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri.

“Saat itu berhasil juara dua. Jadi nggak bisa mewakili Kabupaten Kediri untuk bisa ikut di provinsi,” kata Nadhif saat ditemui sore kemarin.

Kini Maulida sedang mempersiapkan diri untuk mewakili Provinsi Jawa Timur di ajang MTQ XXX Tingkat Nasional Tahun 2024. Perlombaan itu akan digelar di Samarinda Kalimantan Timur Agustus mendatang.

“Jadi mewakilikinya dari Kota Pasuruan, karena dari Kabupaten Kediri itu yang dibawa ke provinsi yang juara satu,” jelasnya.

Sebelum menorehkan prestasinya seperti saat ini, ada jalan terjal yang harus ditempuh Maulida. Nadhif harus riwa-riwi untuk memaksimalkan peluang yang bisa diraih oleh anak pertamanya itu. Pasalnya, sang guru privat melihat potensi yang tidak biasa dari diri Maulida.

“Katanya Maulida ini layak tampil di provinsi,” tekannya sembari menyebut dia selalu mengikuti saran dan arahan guru privat tersebut.

Alhasil, semua usaha yang dilakukan itu membuahkan hasil. Sebuah capaian yang tak pernah disangka-sangka oleh kedua orang tua Maulida. Yang terpenting, Maulida juga senang mengikuti semua motivasi yang diberikan orang tuanya.

“Saya tidak pernah meminta untuk menang. Yang saya ajarkan adalah mencari barokahnya Alquran,” tuturnya. (Emilia Susanti/fud/rkid)

 

Press ESC to close