Desa Kandat, Kecamatan Kandat memiliki banyak cerita misteri. Setelah tradisi sembelih bayi dan sosok hantu noni Belanda, kini ada kisah mistis cikar Mbah Gleyor.
Sudah lama pemakaman umum yang berada di Desa Kandat, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri ini dikenal angker. Lokasinya yang terletak di pinggir jalan raya Kediri–Blitar kerap membuat pengguna jalan bergidik. Utamanya saat malam hari.
Bisa dikatakan tidak terhitung lagi jumlah kejadian aneh yang terjadi di area kuburan tersebut. Mulai dari kendaraan yang tiba-tiba berbelok masuk ke dalam kuburan, penampakan orang yang tiba-tiba melintas, hingga suara tangisan yang datang dari area makam.
Dari semua kejadian mistis di sana, ada satu yang paling seram. Kejadian tersebut adalah penampakan cikar Mbah Gleyor. Penampakan cikar tersebut tidak hanya dialami oleh satu atau orang saja. Namun banyak warga setempat pernah mengalaminya. “Penampakan cikar ini yang paling mengerikan. Sebab begitu cikar tersebut masuk ke area kuburan tiba-tiba menghilang begitu saja,” cerita Agung, salah satu warga yang pernah melihat secara langsung penampakan cikat tersebut.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Kediri, Agung mengatakan bahwa sebagian penduduk setempat pasti tahu tentang kisah ini. Terutama bagi mereka penduduk yang kini sudah berusia sepuh. Banyak warga menyebutnya sebagai cikar Mbah Gleyor.
Kemunculan cikar ini umumnya terjadi saat tengah malam. Saat semua orang sudah terlelap. Dari kejauhan akan terdengar sebuah langkah cikar yang sedang lewat. Suara tersebut bersamaan dengan bel atau kelontongan yang dipakai di leher sapi. Padahal kini sudah jarang warga atau petani yang masih menggunakan cikar.
“Bagi masyarakat lama sudah terbiasa dan membiarkannya,” akunya. Penampakan cikar ini tidak hanya dialami oleh warga Desa/Kecamatan Kandat. Namun, juga dialami oleh beberapa warga desa tetangga.
Kala itu, ada seorang pemuda yang sedang dalam perjalanan pulang. Celakanya, jalur menuju rumahnya tersebut harus melintasi kuburan Kandat. “Karena saking takutnya Orang tersebut melaju kencang saat sedang melintas area pemakaman,” ujar Agung.
Kondisi jalan tersebut relatif gelap dengan sedikit penerangan. Perjalanan jadi terasa panjang dan mencekam. Ditambah, tidak ada pengendara lain yang melintas. Zaat itulah, pemuda yang diceritakan oleh Agung ini melihat cikar yang berjalan menuju area pemakaman. Saat berpapasan, cikar tersebut tidak ada yang mengendalikan. Setelah selesai berpapasan, pemuda tersebut memastikannya dengan melihat dari kaca spion.
“Saat dilihat dari kaca spion, cikar tersebut masuk ke pemakaman dan hilang,” kata Agung. Karena kaget, pemuda tersebut mengalami kecelakaan. Sepeda motornya oleng lalu menabrak pohon yang berada di tepi jalan.
Nama cikar itu Cikar Mbah Gleyor. Diduga telah berusia lebih dari seabad. Struktur cikar itu tampak masih kuat. Serat-serat kayunya pun masih terlihat. Sebelum ditempatkan di pelataran Musala Nurul Huda, cikar ini berada cukup jauh dari pemukiman.
Akhirnya, Cikar Mbah Gleyor direlokasi. Ini karena kerap digunakan sebagai lokasi mencari pesugihan. “Sebelum dipindah, dulu banyak orang ke kebon tempat cikar ini untuk mencari pesugihan,” jelas Narto, salah satu warga desa setempat.
Pemugaran tempat itu dikerjakan sekitar tahun 2002. Narto ikut memugar tempat untuk Cikar Mbah Gleyor. Selain itu, Narto juga ikut memindahkan Cikar Mbah Gleyor ke tempat yang sekarang. Namun, saat memindahkan itu halangannya adalah cikar itu cukup berat. Selain itu, pada tahun 1990-an banyak yang mempercayai bahwa cikar itu memiliki banyak cerita mistis mengiringinya.
Sempat beberapa kali dipindah namun cikar itu kembali ke tempat asalnya. Selain itu, saat dipindah terjadi hujan yang sangat lebat. Akhirnya warga mengadakan ritual keagamaan. Seusai ritual, warga memindahkannya ke sebidang tanah milik Ichwanudin, salah seorang pemuka agama di desa itu.
Terkait usia cikar, warga setempat tidak ada yang tahu pasti. Namun dari buku Cerita Rakyat dari Kediri yang ditulis oleh Edy Susanto dan Oemaryanto pada 2004 silan, cikar itu dimiliki oleh RM Kanjeng Adipati Jayadiningrat. Disebutkan dalam buku itu, bahwa sang Adipati hendak lari dari kejaran prajurit Belanda. Saat itu, di tengah perjalanan, kerbau yang menarik cikar sudah tak kuat berjalan. Sehingga cikar itu berhenti.
Kisah itu juga yang menginspirasi penamaan daerah Kandat. “Dari kisah itu nama Kandat berasal. Dari kata kandeg, yang artinya terhenti,” pungkasnya. Nama “Gleyor” sendiri dikarenakan cikar yang ditarik oleh dua ekor kerbau ini berjalan gontai. Mengayun ke kiri dan ke kanan. (ara/tar)