Desainnya sangat sederhana, meskipun mengusung konsep perpaduan Jawa dan Timur Tengah. Jumlah pintunya yang sembilan menyimbolkan kejayaan umat Islam.
-------------------------------------
Seperti namanya, Masjid Lawang Songo Lirboyo memiliki pintu berjumlah sembilan. Tiga di sisi kiri dan kanan, lalu tiga lagi di bagian depan. Konon, Kiai Haji Mohammad Ma'roef lah yang mengusulkan hal ini.
"Filosofinya untuk mengenang kejayaan umat islam," ujar Ketua 6 Pondok Pesantren Lirboyo Muhammad Jaza Al Aufa.
Masjid ini usianya sangat tua. Hampir satu abad. Bila merunut pada waktu peresmian, waktunya adalah 15 Rabiul Awwal 1347 Hijriah. Atau, bila mengacu kalender Masehi berarti pada 1928.
Namun, sejatinya masjid ini sudah berdiri sejak 1913. Waktu itu, masjid masih dibangun dengan sederhana. Bahan utama bangunannya dari kayu. Hingga akhirnya bencana puting beliung melanda. Akibatnya, bangunan masjid pun roboh.

Setelah itu, masjid dibangun ulang. Yang kemudian diresmikan pada 1928 itu, bersamaan dengan acara unduh mantu Kiai Haji Abdul Karim. Yang menikah adalah Nyai Salamah dengan Kiai Haji Manshur Paculgowang.
Meski masih menggunakan kayu, tetapi dindingnya sudah tembok. Lalu, lantainya ubin berwarna merah tua. Sementara, di bagian tengahnya, ada empat tiang penyangga yang terbuat dari kayu. Sementara, pintu yang jumlahya sembilan itu juga terbuat dari kayu.
Menariknya, mulai dari ubin, pintu, jendela, hingga bentuk masjid masih dipertahankan keasliannya hingga saat ini. Bahkan, ada pintu pagar masuk yang bangunannya tetap dibiarkan.
"Bangunan masjid tidak mengalami perubahan. Tetapi ada penambahan serambi di luar masjid," terang Aufa sembari menyebut pembangunan serambi tidak mengubah bangunan utama masjid.
Kendati demikian, pihak pondok melakukan pembaruan genting di masjid utama. Pasalnya, kondisinya yang sudah rusak. Penggantian genting itu dilakukan belasan tahun lalu, yakni pada 2008.
Sementara, pembangunan serambi pertama dilakukan pada 1984. Para santri menamainya serambi kuning lantaran ubinnya yang berwarna kuning. Serambi ini dibangun karena masjid utama tersebut tak lagi bisa menampung banyaknya santri yang ada.
Kemudian, pembangunan serambi baru kembali dillakukan pada 1994. Alasannya masih sama, yaitu jumlah santri yang terus mengalami peningkatan.
"Untuk di dalam masjid (masjid utama, Red) itu bisa sampai 150 orang lebih. Kalau sampai serambi yang paling luar bisa menampung 1.000 lebih," terang Aufa sembari menjelaskan bahwa shaf salat santri berdekatan.

Sementara, bangunan masjid ini konon berkonsep Jawa dan Timur Tengah. Salah satunya terlihat dari atap joglo pada bangunan masjid. Juga atap yang ber-sap. Kemudian, gaya Timur Tengah tampak dari tempat imam salat atau mihrab. Yaitu, gawangan yang berbentuk lengkung.
Bila dilihat secara detail, masjid ini tak banyak menggunakan ornamen. Terlihat sederhana. Hal ini tampak dari jendela dan pintu yang tak memiliki banyak ukiran. Serta pada bagian dalam yang tak banyak menampilkan karya seni kaligrafi.
Kendati demikian, masjid ini tetap menjadi favorit para santri untuk salat ataupun mengaji. Saat seperti Ramadan, terlihat banyak santri yang mengaji Alquran baik di dalam masjid ataupun di serambi. (emil susanti/fud)
Emilia Susanti