Ada beberapa mitos yang diyakini ada di kawasan Gua Jegles. Salah satunya adalah sada lanang. Yakni daun kelapa yang jatuh dari pohonnya tanpa dipetik. Diyakini sodo lanang itu sebagai tumpuan atau sumber kelancaran yang sedang dikerjakan oleh warga setempat.
--------------------------------
Area Gua Jegles terdapat sebuah sungai. Warga menyebutnya Sungai Kembangan. Di sungai ini, warga setempat sering melakukan ritual. Ritual ini dilakukan warga setempat apabila hendak melakukan pembangunan. Yang mana pembangunan atau kegiatan tersebut untuk kepentingan masyarakat.
“Contohnya adalah memanen hasil sawah,” ujar Agus Santoso, 48, selaku juru pelihara (Jupel) Gua Jegles.
Saat ada kegiatan memanen hasil sawah, warga yang memiliki lahan sawah tersebut harus berkeliling. Mengelilingi lahan sawah miliknya dengan membawa takir plontang. “Takir plontang ini adalah sesajen. Yang dibawa ke Sungai Kembangan. Bertujuan supaya hajat yang kita ingin dilancarkan oleh leluhur,” jelasnya.
Setelah ritual di Sungai Kembangan selesai, warga lalu menancapkan sada lanang. Sada lanang ini adalah daun kelapa yang jatuh dari pohonnya tanpa dipetik. Yang kemudian harus ditancapkan di tempat yang sedang digarap oleh warga. Diyakini sada lanang itu sebagai tumpuan atau sumber kelancaran sesuatu yang sedang dikerjakan oleh warga setempat.
Hal ini adalah sebuah upaya dan tradisi yang telah diyakini sejak puluhan tahun yang lalu. Dan sada lanang tersebut diyakini bisa menghambat aliran dari mata air. Contohnya ketika musim hujan dan mewaspadai adanya banjir. Maka warga akan melakukan ritual di sungai. Kemudian menancapkan sodo lanang itu di beberapa titik agar tidak terjadi banjir.
“Kalau sada lanang itu dicabut, maka aliran dari mata air akan mengalir lagi. Percaya atau tidak, memang nyata seperti itu,” ucap pria kelahiran tahun 1975 tersebut. (oktavia rahajeng/tar)