Wanita Berambut Panjang ‘Penunggu’ Sumber Cakarwesi, yang Nekat Mesum bisa Dihantui

Ada yang menganggap makhluk ini adalah roh gentayangan yang mati akibat bunuh diri. Yang pasti, beberapa kali ada yang mengaku melihat sosoknya. Dan, kebanyakan yang melihat adalah mereka yang hendak berbuat maksiat.

-------------------

Suatu ketika, sekelompok pemuda mendatangi Sumber Cakarsi. Bukan di siang hari ketika banyak orang berwisata. Mereka datang ketika malam sudah pekat.

Begitu sampai, para pemuda ini segera berkumpul. Mengeluarkan beberapa botol minuman. Berikut satu gelas kecil yang biasa disebut sloki. Ternyata, para pemuda ini hendak bermabuk-mabukan. Agar tak diketahui orang, mereka memilih gelapnya malam di antara pepohonan Sumber Cakarsi.

Tapi, tawa canda para berandalan ini hanya berlangsung sebentar. Sejurus kemudian mereka lari tunggang langgang. Wajah mereka tegang, pucat pasi, menyiratkan kengerian.

cakarsi

Mereka melihat sosok menakutkan di sumber itu,” terang Tarji, seorang warga Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, yang rumahnya dekat dengan Sumber Cakarwesi.

Awalnya, menurut Tarji, awalnya warga tak percaya dengan omongan para pemabuk itu. Dianggap melantur dan akibat karena kondisi fly karena miras saja. Namun, beberapa waktu kemudian cerita seperti itu muncul lagi. Kali ini yang mengatakan adalah sepasang muda-mudi. Dan, seperti para berandalan yang hendak berbuat tak senonoh di sumber, pasangan ini juga berniat mesum. Tapi, keduanya tak jadi melakukan. Gantinya, lari terbirit-birit karena ketakutan.

“Warga menyebut sosok yang menakuti itu sebagai wewe gombel,” lanjut Tarji.

Dalam legenda, Wewe Gombel ini adalah makhluk astral dengan wujud menyeramkan. Konon, jelmaan wanita yang arwahnya gentayangan. Si wanita itu  mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di pohon.

Saat menampakan diri, Wawe Gombel terlihat dengan rambut panjang acak-acakan. Payudaranya panjang sebelah. Mengenakan pakaian panjang kumal berwarna putih.

“Wewe gombel ini biasanya menampakan diri sedang duduk di pohon,” ungkap Tarji.

Ada yang pernah melihat Wewe Gombel ini duduk di pohon dekat dengan sumber. Ada juga yang melihat duduk di pohon mangga.

Sebagai tempat wisata alam, Sumber Cakarwesi memang ditumbuhi bermacam pepohonan. Banyak yang berukuran besar. Jika pagi hari, suasana terasa rindang dan menyejukkan.

Namun hal tersebut berubah ketika malam hari.  Sepi dan gelap. Tak ada orang yang beraktivitas. Kecuali satu dua orang yang mencari burung. Itupun tidak setiap hari.

Meski tersebar cerita tentang penampakan makhluk astral, tidak membuat Sumber Cakarwesi menjadi sepi pengunjung. Malah sebaliknya, di sumber tersebut banyak diadakan kegiatan.

 

Lekat dengan Kisah Peperangan dan Pembantaian

Sumber Cakarwesi tak hanya memunculkan kisah dunia astral. Tapi, juga kisah sejarah yang penuh darah. Konon, Sumber Cakarwesi adalah pintu masuk ke Keraton Kerajaan Kadiri di era akhir.

Menyitir kisah yang diamil dari Kitab Pararaton, pada 1222 Kerajaan Singasari sudah meruntuhkan Kerajaan Kadiri. Akhirnya, Kadiri pun hanya setingkat kabupaten dengan Jayasabha sebagai adipati.

Hingga pada 1271, di masa penguasa Kadiri adalah Jayakatwang, mereka menyerang dan menggulingkan Singasari. Mengalahkan kerajaan yang waktu itu dipimpin Raja Kertanegara. Jayakatwang pun kembali membangun Kerajaan Kadiri.

Namun rezim Jayakatwang hanya berusia kurang lebih satu tahun. Dengan kecerdikannya, Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang kelak mendirikan Kerajaan Majapahit meminjam kekuatan tentara Tartar (Mongol) untuk menyerbu Kadiri.
cakarsi2

Dalam peperangan itu Jayakatwang binasa. Lagi-lagi dengan kepiawaianya sebagai ahli bersiasat, Wijaya yang juga cucu Narasingamurti itu berhasil menumpas pasukan Tartar.

Konon, sumber ini menjadi pintu masuk ke Keraton Kediri kala itu,” cerita Boiran, juru kunci Sumber Cakarwesi.

Boiran mengatakan bahwa pintu tersebut digunakan oleh Raden Wijaya saat menyerang tentara musuh yang berpesta setelah mengalahkan pasukan Raden Jayakatwang. Dalam kondisi lengah karena gembira pasukan Tartar pun berhasil ditahlukan.

Jika pada zaman kerajaan digunakan sebagai pintu menuju keraton, sedangkan pada zaman pemerintahan Soekarno kawasan Sumber Cakarwesi juga pernah menjadi pasar. Bahkan menjadi tempat pelarian Syudanco Soeprijadi dari kejaran tentara Jepang.

Pasca-peristiwa gelap G30S/PKI, kawasan Sumber Cakarwesi kembali menjadi tempat sepi dan seperti lahan tidur yang kehilangan fungsi. Konon, pada zaman tersebut lokasi sumber mejadi pembuangan mayat.

“Dari cerita yang saya dengar, mayat dibuang sana merupakan korban G30S/PKI,” ujar Boiran.

Tidak hanya korban G30S/PKI, namun juga ada mayat dari korban lainnya. Akibatnya sumber tersebut tidak lagi digunakan. Karena tidak tersentuh manusia, membuat tanaman menutupi sumber dan sekelilingnya. Hal tersebut membuat lokasi menjadi terkesan angker. (habibah annisa muktiara/fud)

 

.

Press ESC to close