Usianya baru delapan tahun. Namun, namanya sudah menyeruak di dunia tembang dan persindenan. Meraih juara di lomba nembang Jawa kategori SD yang berlangsung di Keraton Jogjakarta.
HIMALAYA AZZAHRA, Kabupaten, Jawa Pos Radar Kediri
Namanya Aulia Nur Karomah. Usianya juga baru delapan tahun. Di usia sekecil itu, bocah asal Desa Pehwetan, Kecamatan Papar itu sudah terbiasa melantunkan tembang Jawa dalam berbagai acara. Mulai pagelaran wayang hingga hajatan pernikahan. Tak jarang, ia baru pulang ke rumah ketika malam telah berganti dini hari.
Di balik penampilannya yang luwes, ada perjuangan yang harus dijalani Aulia. Sepulang manggung, ia tetap harus berangkat sekolah keesokan paginya. Rasa kantuk terkadang tak terhindarkan. Kadang, membuatnya kehilangan semangat belajar.
“Kadang kalau pulang malam itu ngantuk banget pas sekolah. Apalagi kalau acaranya sampai jam dua pagi. Kadang juga capek dan malas. Tapi kalau sudah ingat mau nembang lagi, ya senang,” ujarnya.
Meski harus membagi tenaga antara sekolah dan panggung, kecintaan Aulia terhadap seni tradisi Jawa tak surut. Gadis cilik ini senang bisa menghibur banyak orang melalui suara dan tembang yang dibawakan.
“Aku emang suka lagu-lagu Jawa, jadi tetap semangat Kak. Meskipun kadang pulang sampai jam 2 malam, tapi aku senang bisa menghibur banyak orang,” tuturnya sambil tertawa kecil.
Kegigihan itu turut mengantarkan Aulia meraih juara pertama lomba nembang Jawa kategori sekolah dasar (SD) di Keraton Jogjakarta. Prestasi tersebut membuatnya kembali mendapat undangan tampil dalam agenda Keraton pada peringatan Hari Anak Nasional.
Kesempatan itu menjadi pengalaman berharganya. Di usianya yang masih belia, ia telah berkesempatan menunjukkan kemampuannya di panggung nasional.
Ketertarikan Aulia terhadap seni sinden bermula dari kebiasaan sederhana di rumah. Menonton video wayang di YouTube. Sang ibu juga kerap mengenalkannya pada lagu-lagu Jawa. Hingga tumbuh rasa suka terhadap seni tradisi tersebut.
Seiring waktu, kegemaran itu berkembang menjadi keseriusan untuk berlatih. Aulia mengikuti kegiatan di sejumlah sanggar seni guna mengasah kemampuan menembang sekaligus melatih keluwesan gerak tubuhnya.
Di atas panggung, ia tampil dengan suara jernih dan pembawaan yang luwes. Gerak tubuhnya mengikuti irama gamelan. Sementara lantunan tembang Jawa menjadi bagian yang paling dinikmatinya.
“Lagu Sumandhing itu salah satu yang aku suka. Memang agak susah, tetapi aku ingin bisa membawakannya dengan baik,” katanya.
Bagi Aulia, berlatih menjadi bagian penting untuk meningkatkan kemampuan. Ia terus belajar agar dapat membawakan tembang dengan lebih baik setiap kali mendapat kesempatan tampil.
Soal lelah yang kadang berujung bad mood di sekolah, Aulia punya siasat. Kini, pelajar SDN Pehwetan 1 itu hanya menerima undangan manggung pada malam Minggu.
“Soalnya kalau pulang terlalu malam, besoknya pasti ngantuk,” ujarnya.
Dukungan keluarga turut membantu Aulia menjalani aktivitasnya. Sang ibu, Darti, 40, selalu berusaha mendampingi putrinya ketika tampil. Selain mengantar, juga merias sebelum naik panggung.
Dukungan juga datang dari ayah, kakak, dan kakeknya. Keluarga membantu mempersiapkan berbagai kebutuhan penampilan. Termasuk busana panggung yang sebagian merupakan koleksi sendiri dan dirawat dengan baik.
Bagi keluarga, mendampingi Aulia menjadi bagian penting dalam perjalanan anak tersebut menekuni seni tradisi. Terlebih, aktivitasnya tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan pendidikan dan waktu istirahat.
Di balik pengalaman tampil di berbagai panggung, Aulia menyimpan cita-cita menjadi sinden profesional. Ia mengagumi Niken Salindri dan berharap suatu hari dapat mengikuti jejaknya di dunia seni tradisi Jawa.
Dari Desa Pehwetan, Aulia menunjukkan bahwa kecintaan terhadap budaya dapat tumbuh sejak usia dini. Di balik suara jernih dan penampilannya yang luwes, ada seorang anak yang terus belajar membagi waktu, menghadapi rasa lelah, dan merawat cita-citanya menjadi sinden profesional.(fud)
Arif Hanafi