
Bagi warga Desa Kanyoran, Selopanggung, Mbadut, dan sekitarnya, Ngreco merupakan tempat yang dikeramatkan dan terkenal angker. Konon, di sana diyakini sebagai tempat tinggal dan pusat kerajaan lelembut.
-----------
Dinamai alas Ngreco karena di hutan salah satu bagian Gunung Wilis itu banyak ditemukan reco (arca). Sayangnya kini keberadaan reco-reco itu menjadi misteri. Sebagian dicuri orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagian untuk dijual. Sebagian lagi sengaja dikubur untuk menyelamatkannya.
Dari Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Alas Ngreco berada sebelah barat daya. Jika dari Dusun Mbadut, Desa Jugo, letaknya tepat ke arah barat. Akses paling mudah ke tempat ini memang lewat dua dusun itu. Jaraknya kira-kira sekitar 15 kilometer jika ditarik garis lurus dari Karanglo.
Kami, tim Ekpedisi Wilis I berangkat menuju Alas Ngreco lewat Karanglo. Beranggotakan enam orang. Penulis, M. Arif Hanafi, Kemudian Ari Kusdwianto, Mbah Bakin, dan Harianto Kaipeng tim pendaki profesional. Kemudian Suko (41) dan Samuji (55) warga Karanglo sebagai penunjuk Jalan.
Berangkat malam hari sekitar pukul 19.30 WIB. Dari ujung barat Karanglo kami Naik motor menyusuri perkebunan warga. Melintasi jalan makadam dengan bebatuan terjal. Tak hanya terjal, namun juga sesekali menanjak. Sangat sulit dilewati bagi yang belum hafal medan. Namun tidak untuk Suko. Dia hafal betul medannya. Motor bebeknya jauh meninggalkan penulis dan Mas Ari yang mengendarai motor trail.
Sekitar satu jam perjalanan, kira-kira 8 kilometer dari Karanglo, kami sampai di ujung jalan. Ada gubuk di selatan ujung jalan itu. Kami memarkir motor di situ. "Ini kawasan Jeruk namanya. Gubuk ini milik warga yang mengelola kebun di sekitar sini," ujar Suko.
Usai memarkir motor, kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Menuju arah selatan. Kami langsung mendaki lereng pegunungan yang dikelola warga sebagai perkebunan. Jagung, cengkeh, kacang tanah, alpokat, dan durian tumbuh subur di tempat ini.
Setelah 200 meter melintasi perkebunan, suasana jalanan berganti menjadi semak kaliandra. Tidak hanya semak, pohon kaliandra itu tumbuh tinggi dan lebat. Bisa dikatakan hutan kaliandra.
Yang sama dengan trek sebelumnya adalah kondisinya yang mendaki. Kemiringannya sekitar 70derajat. Head lamp kami tak mampu menembus jauh saking rapat dan lebatnya tanaman kaliandra. Napas ngos-ngosan dihajar tanjakan itu.
Kami terus merayap naik. Sekitar 30 menit kami tiba di puncak kemiringan itu. Ada jalan setapak di sana. Melintang ke arah Barat. Di kanan dan kiri jalan itu jurang dalam. "Ini namanya lungur tipis. Jalannya tipis diapit jurang," terang Suko.

Usai berhenti sejenak mengatur napas, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri lungur tipis itu ke arah barat. Di sepanjang jalan itu banyak pohon cemara. Daunnya mendesis tertiup angin.
Habis trek lungur tipis kami masuk ke hutan kaliandra lagi. Pohonnya lebih lebat dari yang tadi. Suara binatang malam menjadi lagu merdu. Mengiringi perjalanan kami. Lolongan anjing sesekali terdengar. Kami terus berjalan menyusuri hutan kaliandra itu. Mbah Samuji dan Suko di depan membuka jalan. Dengan parang besar, Suko menebas batang kaliandra yg melintang di jalan.
Kira-kira dua jam perjalanan kami sampai kawasan lungur tipis lagi. Namun bukan kaliandra atau cemara. Melainkan alang-alang yang tumbuh. Jurangnya juga terlihat lebih dalam dibanding lungur tipis sebelumnya. Tempatnya lebih terbuka. Kami bisa memandang ke segala arah dengan bebas. Di timur kami bisa melihat kerlip lampu Kota Kediri.
Kami terus menyusuri daerah itu, mencari tempat untuk bermalam. Kami mendirikan tenda kira-kira 300 meter sebelum daerah yang dinamakan Watu Tugu. Saat itu pukul 23.00 WIB. Meskipun mendirikan tenda saya memilih tidur di luar. Sambil memandang langit. Menikmati kebesaran-Nya. (*)
Arif Hanafi