Tak ada sesuatu yang instan. Termasuk kisah Woko Channel yang kini punya 2,7 juta subscriber. Semua itu dibangun oleh Purwoko dengan kerja keras.
IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Dinding rumah yang berhias patok tol warna kuning di Desa Manyaran, Kecamatan Banyakan itu berhias tulisan. Atau lebih tepatnya penunjuk arah. Bunyinya ‘Basecamp Woko Channel 20 meter’.
Jalan yang harus dilalui berupa gang kecil, ke arah barat. Sesuai jarak yang tertulis di penunjuk itu, ada rumah sederhana. Dengan pohon mangga tumbuh di halaman. Dinding rumah itu juga terlihat tua. Mengelupas di beberapa bagian. Tulisan Woko Channel tertempel di jendela kaca depan.
Sore itu suasana basecamp kanal Youtube dengan jutaan penonton tersebut ramai. Belasan sepeda motor terparkir rapi di sisi barat. Demikian pula beberapa mobil. Hujan yang turun mengguyur sore itu tak mengendurkan para fans dari berbagai daerah itu datang. Menunggu para kru dan talent dari Woko Channel balik dari lokasi syuting.
“Saya datang dari Bojonegoro,” ucap Rifai, seorang penggemar yang sengaja datang untuk melihat Woko Channel secara langsung.
Belasan orang duduk mengobrol di teras basecamp. Semuanya adalah para fans. Rela datang dari Pasuruan, Ponorogo, Madiun, hingga Bojonegoro itu.
Sementara, Woko dan kru masih berada di lokasi syuting. Di salah satu rumah warga desa. Sang kreator, Purwoko-nama lengkap Woko-terlihat tegas mengarahkan para talent berakting. Saat itu mereka tengah mengambil gambar untuk episode terbaru.
Ada 18 orang berkaos hitam, bertuliskan Woko Channel. Lengkap dengan slogan khas mereka. Mereka diarahkan oleh Woko, agar hasil pengambilan gambar sesuai dengan harapan.
Ketegasan Woko terlihat ketika dia beberapa kali menghentikan kendaraan bermotor yang melintas di jalanan dekat lokasi syuting. Dia tak ingin ada suara yang masuk selain yang diinginkan.
“Harus bagus pengambilan gambar dan audionya, semuanya,” ucap Woko, usai mengarahkan para pemain dan kru.
Bagi Woko, kualitas gambar dan audio jadi hal penting saat ini. Karena menjadi bagian dari kualitas karya. Bagian penting dari berhasil atau tidaknya suatu video. Karena itu dia tak segan memotong atau mengambil ulang video. Meskipun hanya untuk mendapatkan cuplikan yang pas.
Dia juga tak ingin mengulang apa yang dia lakukan pada 2019 silam. Ketika dia pertama kali mengirim video komedi di kanal Youtube miliknya. Saat itu dia hanya menggunakan peralatan sederhana dan seadanya.
“Sekarang yang saya inginkan itu, selain lucu dan mengena ke penonton, kualitas harus bagus,” ujar lelaki bertopi ini.
Ya, Woko ingin memberikan yang terbaik untuk fans mereka. Ketika zaman berkembang, teknologi pun ikut berganti. Dia tak ingin bertahan seperti era pertama dulu, ketika dia merekam dengan menggunakan HP merek Vivo. Sekaligus untuk mengedit hasil rekaman. Kini Woko Channel sudah menggunakan Sony A7 Mark III yang harganya sudah Rp 20 juta untuk body only! Karena itu, dia sedikit malu bila hasil video yang dihasilkan sama seperti Woko Channel era 2019.
Bagi Woko, dia tahu betul bagaimana sulitnya membangun komunitas yang sama-sama memiliki satu kesenangan. Yang kemudian dieksploirasi jadi karya. Dalam proses itu, peran fans sangat besar. Menjadi bagian penting komunitas. Karena itulah, hingga detik ini, Woko tak pernah melupakan para fans tersebut. Termasuk memberi mereka hasil yang terbaik.
"Dulu mulai dari rekaman pakai HP sendiri. Lalu (pernah) diusir dari lingkungan SLG. Sampai harus ambil gambar tengah malam di Jembatan Brawijaya,” kenangnya.
Pernah pula mereka harus menghentikan syuting karena terlalu ramai. “Semua asam garam pengambilan gambar sudah pernah (dirasakan),” aku Woko tertawa.
Woko Channel ingin tetap membumi. Mereka merendah seperti biasanya. Bersedia njagong bersama orang-orang. Tak pernah sekalipun menolak kedatangan tamu atau fans yang datang ke basecamp. Tidak ada eksklusivitas. Karena Woko tahu, ia besar karena masyarakat.
"Bisa jadi saling belajar. Cerita mereka atau ya jadi tambah dulur lebih baik," katanya.
Lelaki asal Desa Manyaran itu mengaku ia harus men-challenge dirinya sendiri. Harus lebih baik dari sebelumnya. Semua demi dirinya sendiri, komunitas sampai yang ada di dalamnya. Itu juga diajarkan kepada kru yang kini berjumlah lebih dari 20 orang itu.
"Kita semua wong embongan (orang jalanan, Red). Dan semuanya sudah saya anggap keluarga besar juga. Makanya pendekatan dan menjelaskan apa yang salah, apa yang benar juga menjadi lebih mudah," pungkas Woko.(fud)