
Bermula dari latih tanding para santri Lirboyo. Kini, pencak dor telah menasional. Banyak digelar di berbagai daerah.
Lapangan Pondok Pesantren Lirboyo, Sabtu malam (17/12). Puluhan ribu orang berjejal. Mengitari panggung tinggi berbentuk persegi. Pagar dari bambu utuh dibuat mengitari panggung yang menjadi arena pencak dor itu.
Di panggung, dua orang saling berhadapan. Memukul, menendang, hingga saling piting. Beberapa pendekar bercelana dan berkaos hitam bertuliskan pencak dor menjadi wasit. Beberapa kali terlihat ada petarung yang berdarah di mulut dan hidung.
Itulah suasana yang tergambar dalam panggung pencak dor, ajang pertarungan bebas asli Indonesia. Karena itu, dalam olahraga ini, tidak hanya soal adu kemampuan beladiri pencak silat saja. Tapi juga soal pelestarian tradisi dan budaya.
“Kegiatan ini kental dengan kebudayaan Jawa. Sehingga harus kita lestarikan,” ucap Habib Ali, ketua Panitia Pencak Dor 2022.
Menurut Habib Ali, pertarungan di panggung bukan untuk mencari musuh. Adu tangkas di panggung itu hanya sarana mempraktikkan ilmu bela diri para pesilat yang jadi peserta. Sedangkan hakikat utamanya adalah menguri-uri budaya warisan leluhur.

Ada satu hal yang menjadikan arena yang menguji kemampuan diri ini berbeda dengan yang lain. Yakni lantunan salawat yang tiada henti mengiringi gerak langkah para pesilat yang bertarung di panggung. Salawat tersebut seakan menjadi menambah semangat peserta. Yang kian menunjukkan teknik beladiri tanpa dibumbui amarah.
Untuk menjadi peserta tidaklah sulit. Pesilat yang ingin bertarung bisa langsung mendaftarkan diri di lokasi. Setelah itu mereka diberi kartu peserta. Menunggu giliran untuk berlaga.
Salah satunya adalah Miftah, 16. Remaja ini asal Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Meskipun masih belia, tak ada guratan gentar di wajahnya ketika bertarung.
Dia menyampaikan apresiasi pada pergelaran yang membutuhkan nyali dan adrenalin tinggi ini. Menurutnya, pencak dor merupakan event bagus. Dia berharap akan kembali menjadi agenda rutin setelah sempat vakum akibat pandemi.
“Saya pertama kali ini ikut pencak dor. Alasanya ya ingin melatih mental saja,” ucapnya.
Sebelum naik panggung untuk bertarung, Miftah melakukan pemanasan tubuh. Begitupun para petarung yang lain. Saat berada di panggung, petarung diberi air minum oleh wasit. Setelah itu bersalaman dengan lawan.
Ketika kuda-kuda diperagakan, pertarungan pun dimulai. Tidak ada juara satu dalam pertarungan ini. Saat salah satu lawan sudah menyerah, pertarungan selesai. Kedua petarung kemudian harus turun dari panggung.
Usai bertarung mereka akan kembali salaman dan berpelukan satu sama lain untuk memberikan apresiasi. Maka meskipun menang saat bertarung maka tidak akan diadu lagi oleh pemenang berikutnya.

Yang asyik tak hanya para petarungnya saja. Penontonnya pun demikian. Bahkan, mereka rela datang jauh dari luar kota demi menyaksikan aksi tarung bebas itu.
Salah satunya adalah Fitrah, 25. Dia adalah penonton asal Nganjuk. Sengaja datang bersama teman-temannya untuk menonton acara yang biasanya setiap tahun diagendakan oleh Ponpes Lirboyo ini.
( https://radarkediri.id/posts/pecak-dor-di-panggung-lawan-di-bawah-kawan-02 )
“Meskipun tidak ikut bertarung tapi saya senang saja melihat pencak dor. Dari dulu memang sudah (suka) menonton,” ujarnya. (ilmidza amalia nadzira/fud)