Anda pernah melihat jemblung? Jika pertanyaan ini dilemparkan kepada generasi Z, pasti hanya segelintir saja yang menjawab pernah. Menyadari minat anak muda yang minim, Sujiman berusaha melakukan beberapa penyesuaian agar seni yang Islami ini tetap digemari.
AYU ISMA, Kota, JP Radar Kediri
Sujiman menunjukkan beberapa wayang yang sering ia gunakan dalam setiap pertunjukkan Jemblung. Yang paling sering menemaninya mendalang antara lain dua tokoh dari Hikayat Amir Hamzah, salah satu cerita yang sering dibawakan dalam pertunjukan Jemblung. Tokoh utamanya adalah Amir Hamzah—paman Nabi Muhammad—dan istrinya, Dewi Muninggar.
Kisah sejarah dan penyebaran agama Islam yang menjadi kiblat seni Jemblung memang sudah banyak berevolusi. Salah satunya, melebur dengan budaya Jawa. Itu pula yang saat ini dilakukan oleh pegiat seni tradisional, termasuk Sujiman, agar bisa tetap bertahan di tengah era digital.
Pria asal Kelurahan Lirboyo, Kecamatan Mojoroto ini mencontohkan, pakem seni Jemblung tak jauh dari nuansa dakwah Islami. Sang dalang akan berdakwah dengan diiringi musik khas Jemblung. Jika di pertunjukkan wayang ada gending Jawa yang mengiringi sang dalang, di Jemblung diiringi gending bernuansa Islami seperti salawat.
“Saya ingat sekali mulai tahun 80-an, saat itu musik elekton mulai naik. Dari situ jemblung semakin tidak diminati. Akhirnya kami mulai berinovasi,” lanjut pria yang 2024 ini genap berusia 63 tahun itu.
Hingga kini, seni jemblung sudah banyak berevolusi. Di antaranya dengan menambahkan alat musik khas gamelan Jawa seperti saron dan demung. Pun dengan menghadirkan sinden di panggung. Dua hal itu tidak pernah ada dalam pakem seni tradisional ini.
“Kami juga mencoba membuat wayang sederhana untuk visualisasi. Dari situ kemudian muncul wayang jemblung. Kebetulan semua dalang di daerah lain juga memiliki pemikiran yang sama,” sambungnya terkait upaya modifikasi itu.
Baginya, kreasi-kreasi itu dilakukan agar seni tradisional ini tetap dianggap menarik bagi masyarakat. Sebab selama ini, minat masyarakat terhadap kesenian tradisional justru semakin runtuh diterjang kemajuan zaman.
“Saya punya ide dengan konsep wayang suket. Tetapi suketnya saya ganti dengan kertas koran. Kami bagi enam dan linting menjadi seperti lidi. Kemudian saya buat wayang yang istilahnya wayang suket tapi dengan bahan dasar kertas bekas itu,” lanjutnya tentang perjalanan mengkreasikan wayang sebagai media visualisasi seni jemblung.
Seiring berjalannya waktu, keinginan untuk menghadirkan versi terbaik dari ide wayang suket itu berkembang. Ia memilih wayang menak sebagai babon atau rujukan wayang dalam pertunjukan jemblung di Kota Kediri.
“Kalau suatu saat wayang ini sudah banyak dan bisa kita ekspor, mungkin nanti akan kita usulkan sebagai ikon Kota Kediri, yaitu Wayang Jemblung,” harapnya.
Harapan itu masih harus dihadapkan dengan realitas yang lebih pahit. Bahwa kesenian Jemblung masih belum banyak dilirik masyarakat. Dengan 15 orang anggota aktif yang tergabung dalam Sanggar Jemblung Putra Budaya itu, mereka berjuang mempertahankan eksistensinya. Bahkan, untuk sekedar menampilkan kesenian jemblung saja, Sujiman dan teman-temannya hanya bisa bergantung pada “belas kasihan” penyelenggara event kebudayaan.
“Nggak ada yang nanggap. Makanya saya saat ini berupaya setiap latihan harus ada output-nya dengan membuat video untuk YouTube,” tandasnya.
Pria yang menggeluti seni Jemblung sejak berusia 17 tahun itu pun menekankan pentingnya mengikuti arus perkembangan zaman. Syaratnya,Dengan syarat, tidak sampai terseret arusnya. Contoh konkretnya, berkreasi tanpa menghilangkan orisinalitas dari jemblungnya.
“Terkadang ada yang kelihatannya mau melestarikan jemblung tapi hanya alatnya yang dipinjam. Gending sembarang kalir mlebu, justru gending jemblungnya tidak dimunculkan. Ini yang menurut saya terseret arus. Kami maunya nggak begitu,” tandasnya.
Mengadopsi gending yang masih bernuansa Islami juga bisa menjadi bentuk kompromi yang bijak. Seperti contoh, Gending pepeling yang masih sarat nuansa Islam. Prioritasnya adalah tidak sampai menghilangkan muruah dari seni tradisional tersebut. (ut)
Ayu Isma