Misteri Alas Ngreco; Lumutnya untuk Obat, Menendang Reco Putri Bisa Kualat

Hingga kini, keberadaan Reco Putri, salah satu penghuni Alas Ngreco masih misteri. Sebagian warga meyakini arca itu telah diambil. Namun, ada yang mempercayai telah kembali ke tempatnya semula.

---------------------------------------------------------------------------------------

Kisah Reco Putri itu diceritakan oleh Jari, 65, warga Dusun Karanglo, Desa Kanyoran, Kecamatan Semen. Dulu kala, sekitar tahun 1983, Jari berinterkasi langsung dengan Reco Putri. Bersama sang kakek, Jari mendatangi Alas Ngreco untuk mencari obat.

Almarhum kakek Jari adalah seorang yang dituakan di Dusun Karanglo kala itu. Dia adalah Mbah Poniran. Sebagai sesepuh dan ‘orang pintar’ di Karanglo, Poniran sering jadi jujugan warga untuk meminta pertolongan. Tentang masalah apa saja. Bisa konsultasi tentang supranatural atau meminta obat untuk kesembuhan penyakit. “Nggih ngoteniku mbah kula. Mbendinten enten mawon tamune (seperti itu kakek saya. Tiap hari ada tamu),” cerita Jari.

Pada suatu hari, Poniran meminta Jari menemaninya ke Alas Ngreco. “Sesok melu aku Ri, nggolekke tombo uwong. Njipuk lumute Reco Putri (besok ikut saya Ri, mencari obat. Mengambil lumut Reco Putri),” ujar Jari menirukan perintah kakeknya.

Jari dan Poniran berangkat menuju Alas Ngreco sekitar pukul 03.00 WIB sebelum Subuh. Harinya, Jari sudah tak mengingat lagi. Rute awalnya sama seperti yang kami lewati kemarin. Jari dan Poniran dari Karanglo menuju kawasan Jeruk. Bedanya mereka jalan kaki, kami kemarin naik motor. “Zaman semonten dalane tasik setapak, dereng ombo kados sakmeniko (zaman itu jalan masih setapak, belum lebar seperti sekarang),” kata Jari.

Setelah Jeruk ini yang berbeda dengan rute kami. Jari mengaku jalan lurus terus ke barat. Kalau kami belok ke selatan. “Nggih mantun Jeruk kulo terus ngilen lewat Wonosegoro, mantun niku Njeglong Meduro, Alas Glodakan, lajeng Putuk Uthuk (setelah Jeruk saya terus ke barat lewat Wonosegoro, setelah itu Jeglong Meduro, Alas Glodakan, kemudian Putuk Uthuk),” kata Jari menceritakan urutan lokasi yang dilewatinya.

Kira-kira jam 10.00-an WIB sampai di lokasi alas Ngreco. Jari dan Poniran langsung ke tempat Reco Putri. Jari masih ingat betul yang dilakukan saat itu. Poniran begitu datang, langsung sedikit melakukan ritual di dekat Reco Putri. Kamudian mengambil lumut yang menempel di arca itu. Lumut itu yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Hingga kini, detail Reco Putri masih diingat Jari. Arca itu seorang putri cantik. Duduk menghadap ke timur mengenakan kemben. Tingginya sekitar 60-70 sentimeter (cm). Di kaki dan tangannya mengenakan perhiasan. Rambutnya digelung rapi. Ada tusuk konde di atas gelungan itu. Hanya saja yang arca itu telanjang di bagian bawah. Sehingga mohon maaf, area kemaluannya kelihatan berlubang.

Nggih niku Mas. Ngapunten, wadonane ketingal bolong ngoten. Mulane enten ingkang mastani Reco Sundel Bolong. Terus saking bolongan wadonan niku kulo tingali kados ngedalaken toyo mirip darah (maaf, lubang kewanitaannya terlihat berlubang. Awalnya ada yang menyebut arca Sundel Bolong. Kemudian, lubang kewanitaannya seperti mengeluarkan air seperti darah),” papar Jari.

Menurutnya, arca itu benar-benar seperti hidup. Bentuk-bentuk bagian tubuhnya terlalu sempurnya untuk sebuah patung batu. “Menurut kula niku asli tiang ingkang disabda dados patung. Kados Roro Jonggrang nika lho Mas (menurut saya itu orang asli yang dikutuk jadi patung. Seperti Rara Jonggrang),” ujar Jari bercerita.

Tak lama Jari dan Poniran di lokasi Reco putri. Kemudian Poniran mengajak Jari menuju tempat lain yang masih di wilayah Alas Ngreco. “Ayo melu aku, tak duduhi balung buto (ayo ikut tak tunjukkan balun buta),” ujar Poniran kepada Jari.

Mereka berjalan menuju arah selatan dari lokasi Reco Putri itu. Tak jauh menurut Jari. Sampailah mereka di tempat yang mengejutkan untuk Jari. Ditempat itu berserak tulang-belulang dengan ukuran yang besar. Sangat besar untuk ukuran tulang manusia.

Tulang itu menumpuk. Menghijau ditumbuhi lumut. Jari menanyakan kepada Poniran tentang tulang itu. Namun sang kakek hanya menjawab itu tulang raksasa. “Yo kuwi sing diarani balung buto (ya itu yang dinamakan tulang raksasa),” jelas Poniran kepada Jari.

Lalu, di mana sekarang tulang-belulang itu? Jari mengaku, juga tidak tahu. Apakah tulang itu masih ada atau sudah hilang dari tempatnya. Dia hanya sebentar di area balung buto itu. Kemudian Poniran mengajaknya segera pulang ke Karanglo.

Selain lumutnya bisa untuk obat, ada lagi keanehan Reco Putri. Masih menurut cerita Jari, pada suatu hari, ada seorang warga yang dengan sengaja menendang arca itu hingga terguling. Usai itu, warga itu tak bisa menemukan jalan pulang ke desa. Beberapa hari dia hanya berputar di wilayah Alas Ngreco.

Kemudian keluarganya mencari keberadaannya. Dan menemukan di wilayah Alas Ngreco. Setelah keluarganya mengembalikan Reco Putri ke tempat semula. Dan melakukan ritual di sana, baru mereka bisa membawa pulang keluarganya yang tersesat tadi.

Sebenarnya, selain Reco Putri ada lagi reco yang lain di wilayah Alas Ngreco. Namanya Reco Wayang. “Nggih miturut mbah kula, diwastani reco wayang soale recone sami kados wayang. Ning kula dereng nate sumerep langsung (menurut kakek saya dinamakan arca wayang karena seperti wayang. Namun saya belum pernah melihat secara langsung),” ujar Jari.

Hingga kini pun Jari tidak mengetahui secara pasti di mana lokasi yang pas keberadaan arca wayang tersebut. Sang kakek terburu meninggal sebelum menunjukkan lokasinya. (*)

 

Press ESC to close