Krisi Air dan Jalan Rusak, Warga Puncu Demo Tolak Penambang Pasir

KABUPATEN, JP Radar Kediri– Sekitar dua ribu warga Kecamatan Puncu menggeruduk kantor kecamatan kemarin. Mereka menuntut penghentian penambangan pasir di Dusun Damarwulan, Desa Puncu yang diklaim merusak lingkungan. Mulai jadi biang kerusakan jalan hingga penyebab krisis air di wilayah mereka. Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sekitar 2.000 warga Puncu melakukan aksi sekitar pukul 10.00 kemarin. Massa merupakan warga dari beberapa desa di wilayah atas. Mulai Desa Puncu, Satak, Asmorobangun, hingga Wonorejotrisulo.

Harga Pakan Naik Picu Daging juga Naik

KOTA, JP Radar Kediri – Harga daging ayam dan sapi di Pasar Setono Betek kembali mengalami kenaikan. Kondisi tersebut tak hanya membuat konsumen mengurangi pembelian, tetapi juga menambah tekanan biaya operasional pedagang hingga peternak. Sri, 41, pedagang ayam potong di Pasar Setono Betek, mengatakan harga ayam mengalami kenaikan secara bertahap dalam beberapa hari terakhir. Saat ini, harga ayam potong telah mencapai Rp 42 ribu per kilogram.

Polisi Lacak Penjual Obat Aborsi Janin Pagu

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Polres Kediri terus menyidik kasus buang bayi dan buang janin di wilayahnya. Salah satunya, menelusuri penjual obat penggugur janin yang digunakan oleh AW, 20, untuk menggugurkan kandungannya. Kapolres Kediri AKBP Muhammad Wahyudin Latif mengatakan, penelusuran dilakukan untuk memastikan jalur perolehan obat. Sekaligus mendalami kemungkinan keterlibatan pihak yang menjualnya. “Kita akan melakukan pemeriksaan mendalam nanti ya untuk proses mendapatkannya,” kata Latif. Penyidik, lanjut Latif, belum bisa memastikan apakah obat tersebut diperoleh dari apotek, penjual obat, atau melalui jalur lain. Sebab, pemeriksaan terhadap tersangka masih diperlukan untuk mengetahui asal obat. Pun proses pembeliannya. “Karena ini kan jenis obat yang tidak boleh untuk dijual secara bebas,” lanjutnya.

Ibu Pembuang Bayi Dirawat di RS karena Pendarahan

KABUPATEN, JP Radar Kediri–Pemeriksaan kasus pembuangan bayi dan janin di Desa Gedangsewu, Pare; dan Desa Bulupasar, Pagu; harus dijeda sebentar. Pasalnya, TW, 23; dan AW, 20; dua ibu pelaku pembuangan bayi dan janin masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara. Keduanya mengeluhkan nyeri perut dan perdarahan.             Kasatreskrim Polres Kediri AKP Angga Riatma melalui Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Ipda Yudi Hermawan mengatakan, TW yang merupakan ibu dari bayi yang dikubur di Desa Gedangsewu, Pare memang langsung bekerja usai melahirkan. Namun, setelah diperiksa baru diketahui jika dia membutuhkan penanganan medis.

Sudrun Bangkrut, Keluargane Mawut

Yen ada pepatah uang tidak bisa membeli kebahagiaan, iku tidak berlaku kanggo rumah tangga Yu Minthul dan Sudrun. Sebab, ketika jatuh miskin rumah tangga mereka langsung berada di ambang kehancuran. Piye maneh. Duwit pancen ora dadi jaminan bisa menghadirkan kebahagiaan. Tetapi, tanpa uang yang jelas akan kelimpungan. Apa maneh Yu Minthul hobi belanja. Aneka fashion dan aksesori yang disukainya yang jelas tidak murah. Apalagi, dia tergolong orang yang suka mengikuti tren.

Dikira Meninggal di KM Virgo, Kelurga Irwan Sudah Solat Jenazah

Hampir empat minggu berlalu, peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Virgo Transport 8 pada 13 September silam seolah masih membayangi Irwan Mujiono. Betapa tidak, musibah itu nyaris merenggut nyawanya. Pun memisahkan dia dengan teman yang hingga sekarang belum ditemukan. ASAD M.S., Kabupaten JP Radar Kediri “Teriakan toloong…toloong! Itu seperti masih terngiang-ngiang di telinga saya,” kenang Irwan Mujiono, ditemui di rumahnya, RT 2, RW 2 Desa Sumberejo Kandat, kemarin (8/10). Rentetan peristiwa yang mencekam pada Minggu (13/9) dini hari itu juga masih tergambar jelas di benaknya.           Tak hanya teriakan minta tolong para penumpang saja. Gaduh suara kapal yang mulai bergoyang hebat di malam buta itu seolah juga masih bisa jelas didengarnya. “Sampai sekarang ini saya masih sering terbangun pukul 01.00. Rasanya seperti kembali ada di KM Virgo,” lanjut Irwan menggambarkan trauma yang dialaminya.           Musibah yang terjadi di perairan Kalimantan itu ibarat mimpi buruk, yang bahkan kalau bisa, tidak ingin diingat oleh Irwan lagi. Betapa tidak, sekitar pukul 01.00 pada 13 September lalu dia sedang terlelap di kamar sopir. Tidak ada alarm atau tanda, tiba-tiba saja kapal miring.