Jejak Peradaban di Sepanjang Sungai Brantas; Kisah Calon Dokter di Ponpes Al Falah Ploso (01)

Mempertahankan pengajaran sistem salaf (tradisional) hingga kini, siapa sangka jika Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah didirikan oleh tokoh yang sebenarnya ‘termodern’-kan sejak awal? Almarhum KH Ahmad Djazuli Utsman, sang pendiri, adalah seorang calon dokter Universitas Indonesia (UI) pada awal 1900-an.

djazuli utsman KH

KH Ahmad Djazuli Utsman

Adalah bangunan berarsitektur kolonial yang masih bertahan hingga kini, salah satu bukti sentuhan modernitas sejak awal itu. Di bangunan dengan pilar-pilar raksasa khas arsitektur Eropa itulah Mas’ud lahir dan dibesarkan. Di Desa Ploso, Kecamatan Mojo, di tepi aliran Sungai Brantas sebelah barat. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari aliran sungai terpanjang di Jawa Timur itu.

Ayahnya, Utsman, memang seorang ambtenaar, pejabat pemerintah di masa kolonial Hindia Belanda. Jabatannya adalah naib alias penghulu. Ini meneruskan pekerjaan ayahnya, Mas Moh. Sahal, yang sebelumnya menjabat penghulu untuk wilayah Distrik Mojoroto, Kediri. Istri Utsman, Ajeng Muntoqinah, juga keturunan penghulu wilayah Distrik Berbek, Nganjuk. Yaitu, Mas Moh. Syafi’ie.

Mas’ud adalah putra ketujuh di antara 13 bersaudara yang dilahirkan pasangan tersebut pada 16 Mei 1900. Sebagai putra seorang ambtenaar, dia bisa menikmati pendidikan modern yang tak bisa dikecap kebanyakan anak-anak lain di usianya.

komplek Ploso

 

Mas’ud –nama kecil KH A. Djazuli Utsman—mulai masuk sekolah pada usia sekitar 6-7 tahun. Saat itu memang tak ada batasan pasti soal usia untuk sekolah. Sebab, tes masuknya hanya cukup melingkarkan tangan kanan di atas kepala hingga bisa menyentuh telinga kiri. Jika lolos, berarti bisa masuk.

Mas’ud masuk sekolah yang disebut sebagai Sekolah Cap Jago. Inilah satu-satunya sekolah di wilayah Onder Distrik Ploso dan diperuntukkan lima desa di Kecamatan Mojo. Yaitu, Ploso, Tambibendo, Kraton, Kedawung, dan Maesan. Masing-masing desa hanya diberi jatah lima anak yang bisa masuk ke sana. Salah satunya adalah Mas’ud, anak seorang pejabat pemerintahan.

Tiga tahun Mas’ud bersekolah di sana. Kemudian, dia melanjutkan pendidikannya ke Inlandsche Vervolg School, sekolah lanjutan dengan masa pendidikan dua tahun. Karena kecerdasannya, Mas’ud bisa menamatkan pendidikannya tepat dua tahun dengan prestasi yang memuaskan.

Makanya, dia lantas melanjutkan lagi pendidikannya ke Hollands Inlandsche School (HIS) di wilayah Gringging, Grogol. Sekolah ini lebih dikenal sebagai ‘Sekolah Ongko Loro’. Selama menempuh pendidikan di sana, Mas’ud dikenal cukup menonjol dalam pelajaran Aljabar (matematika) dan ilmu ukur. Dia juga menguasai bahasa Belanda dengan baik.

Inilah yang membuat orang tuanya bangga dan menaruh harapan besar terhadapnya. Tidak seperti saudara-saudaranya yang lain yang dipersiapkan untuk menjadi naib, Mas’ud dipersiapkan lebih tinggi dari itu.

ploso makam kiai djazuli

PUSARA: Santri berziarah di selatan Masjid Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Karena itulah, selepas HIS, Mas’ud dikirim ke Batavia (Jakarta) untuk menempuh pendidikan di Stovia (kini Fakultas Kedokteran UI, Red). Mas’ud dan orang tuanya ingin dia menjadi seorang dokter. Ini sesuatu yang langka pada saat itu. Tidak hanya di Ploso, Mojo yang jauh dari pusat pemerintahan, tapi juga di wilayah Kediri. Seorang warganya dari kalangan pribumi bisa menempuh pendidikan hingga ke Stovia.

Ini sebuah kebanggaan yang luar biasa. Karena itulah, pemberangkatan Mas’ud diantarkan oleh banyak orang. Sampai-sampai, Kepala Stasiun Kereta Api (KA) Kediri saat itu merasa perlu memberi penghormatan secara khusus kepadanya saat tiba di stasiun. (*)

Press ESC to close