Tak hanya di zaman penjajahan Jepang, kedatangan kembali tentara Belanda dalam agresi keduanya juga sempat membuat Ponpes Al Falah kalang kabut. Bahkan, dua tahun terpaksa vakum kegiatan.
Ploso ikut masuk daerah darurat perang ketika tentara Belanda kembali datang pada 1948. Suara rentetan tembakan, desing peluru, dan ledakan mortir maupun granat mewarnai hari-hari di wilayah selatan Kabupaten Kediri itu. Karenanya, mau tidak mau kegiatan di pesantren ikut terganggu.
Para santri dicekam ketakutan. Setiap hari mereka harus selalu bersiaga. Maklum, setiap saat bisa saja rentetan tembakan, desing peluru, dan ledakan bom itu mengarah ke pondok mereka.
Dalam situasi genting itulah warga Ploso mengungsi ke daerah-daerah yang dianggap lebih aman. Tak terkecuali para santri Al Falah. Kiai Djazuli memutuskan untuk ikut mengungsi. Bersama keluarga kiai, para santri berangkat menuju daerah Kedawung yang berada di lereng Gunung Wilis. Adapun yang lain ke daerah Kemayan, termasuk Bu Naib Utsman –ibunda Kiai Djazuli yang sedang sakit dan harus ditandu.
Para pengungsi itu baru kembali jika keadaan dirasa aman. Begitulah hari-hari berlangsung dalam penuh ketidakpastian. Suatu ketika, saat baru turun dari pengungsian, tiba-tiba datang serangan tentara Belanda lagi. Dentum suara meriam terdengar di mana-mana. Kiai Djazuli, keluarga, dan para santri pun kembali semburat berlarian menuju pengungsian di daerah pegunungan. Benar-benar menegangkan. Di tengah-tengah perjuangan menghadapi agresi militer Belanda itulah Bu Naib Utsman dipanggil oleh Sang Kuasa.
Menghadapi tentara Belanda yang ingin menguasai kembali Tanah Air itu, semangat nasionalisme para santri akhirnya bangkit. Para ulama ikut mengobarkan semangat perlawanan untuk mengusir penjajah. Para santri pun bergabung dengan laskar-laskar bentukan rakyat seperti tentara pelajar, Hizbullah, dan sebagainya. Kiai Djazuli juga ikut terjun langsung untuk memberi ‘gemblengan’ kekuatan lahir dan batin. Salawat nariyah dan wirid hizbun nashr diberikan sebagai ijazah.
Dalam sitasi demikian, para santri banyak yang pulang. Sebagian bergabung dengan laskar-laskar itu. Karenanya, berangsur-angsur pondok menjadi kosong. Tinggal
Untuk menyelamatkan aset pesantren, genting-genting di bangunan pondok diturunkan semua. Ini dimaksudkan agar tidak digunakan sebagai benteng tempat berlindung tentara Belanda. Sementara, Kiai Djazuli beserta keluarga diungsikan ke
Praktis, selama masa itu, kegiatan pesantren vakum. Kegiatan baru dimulai lagi pada 1950 setelah tentara Belanda ditarik pasca konferensi meja bundar 1949 yang mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Zainuddin Kebumen dan empat santri lain yang bertahan menjaga pondok selama masa agresi diangkat sebagai pengurus. Berangsur-angsur pula santri dari berbagai daerah yang sebelumnya pulang kembali datang. (*)
Putra-Putri KH A. Djazuli Utsman//
1. Siti Azzah (meninggal pada usia 1 tahun)
2. Hadziq (meninggal pada usia 9 bulan)
3. Zainuddin (KH Ahmad Zainuddin Djazuli)
4. Nurul Huda (KH Nurul Huda Djazuli)
5. Hamim Thohari (KH Hamim Djazuli/Gus Miek)
6. Fuad Mun’im (KH Fuan Mun’im Djazuli)
7. Mahfudz (meninggal pada usia 3 tahun)
8. Makmun (meninggal pada usia 7 bulan)
9. Munif (KH Munif Djazuli)
10. Lailatul Badriyah (Nyai Hj Lailatul Badriyah Djazuli)
11. Su’ad (meninggal pada usia 4 hari)
Arif Hanafi